KAB. BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Tim dosen dan mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas) Bandung melaksanakan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Desa Rancamulya, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung. Program pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung selama delapan bulan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat desa dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana melalui penguatan kelembagaan pemuda, pemberdayaan perempuan, serta pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat.
Kegiatan dipimpin oleh Imam Budiman, S.IP., M.IPol. sebagai ketua tim pelaksana bersama Drs. Bulbul Abdurachman, S.IP., M.Si., serta tiga mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, yakni Fahira Yuki Aulia, Naila Essenza Quraniq, dan Talitha Sani Azmi. Program ini merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi pada bidang pengabdian kepada masyarakat yang difasilitasi oleh UPT Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) FISIP Universitas Pasundan.
Melalui pendekatan partisipatif, tim melakukan identifikasi kebutuhan masyarakat, menyusun program bersama pemerintah desa dan kelompok masyarakat, kemudian melaksanakan pelatihan, pendampingan, bimbingan teknis, serta evaluasi secara berkelanjutan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan kelembagaan masyarakat yang lebih mandiri sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana di tingkat desa.
Keorganisasian Pemuda Tanggap Bencana
Salah satu fokus utama program adalah menghidupkan kembali peran Karang Taruna sebagai organisasi kepemudaan yang tidak hanya aktif dalam kegiatan sosial, tetapi juga memiliki kapasitas sebagai garda terdepan dalam pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.
Sebelum program dilaksanakan, tim menemukan berbagai persoalan mendasar, di antaranya tidak aktifnya organisasi Karang Taruna, rendahnya partisipasi generasi muda dalam kegiatan desa, belum tersedianya sekretariat organisasi, lemahnya sistem kaderisasi, serta minimnya pelatihan kepemimpinan dan manajemen organisasi.
Padahal, Kabupaten Bandung memiliki potensi sumber daya pemuda yang sangat besar. Jumlah penduduk usia 15–24 tahun diperkirakan mencapai lebih dari 612 ribu jiwa, sehingga apabila dikelola secara optimal akan menjadi modal sosial yang sangat penting dalam membangun desa yang tangguh terhadap bencana.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim PKM memberikan pelatihan mengenai tata kelola organisasi, kepemimpinan, penyusunan program kerja, komunikasi organisasi, kerja sama tim, mitigasi bencana, kesiapsiagaan darurat, manajemen risiko bencana hingga simulasi penanganan keadaan darurat.
Pendampingan intensif menghasilkan perubahan yang cukup signifikan. Tingkat kapasitas organisasi pemuda meningkat dari sekitar 20 persen menjadi 70 persen, sedangkan kompetensi kepemimpinan meningkat dari 30 persen menjadi 80 persen.
Perubahan tersebut terlihat dari kemampuan Karang Taruna menyusun kembali struktur organisasi, merancang program kerja tahunan, menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP), membangun sistem kaderisasi yang lebih demokratis, serta mulai memanfaatkan media digital sebagai sarana koordinasi organisasi maupun edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
“Program ini tidak berhenti pada pelatihan satu arah, tetapi diarahkan agar pemuda Desa Rancamulya benar-benar mampu mengelola organisasinya secara mandiri dan berkelanjutan, sekaligus siap berperan aktif dalam kesiapsiagaan bencana di tingkat komunitas,” ujar Imam Budiman.
Pemberdayaan Perempuan sebagai Pilar Ketangguhan Desa
Selain penguatan organisasi pemuda, program PKM juga memberikan perhatian terhadap peningkatan kapasitas perempuan sebagai bagian penting dalam membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.
Perempuan memiliki posisi strategis dalam keluarga maupun komunitas sehingga keterlibatan mereka menjadi faktor penting dalam proses mitigasi, kesiapsiagaan, hingga pemulihan pascabencana. Oleh karena itu, program mendorong peningkatan partisipasi perempuan dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan kebencanaan, dan penguatan ekonomi keluarga.
Melalui berbagai sesi pelatihan dan diskusi partisipatif, kelompok perempuan didorong untuk meningkatkan literasi kebencanaan, memperkuat jejaring sosial di tingkat lingkungan, serta berperan aktif dalam penyebaran informasi kepada masyarakat.
Program ini juga menekankan pentingnya kepemimpinan perempuan dalam organisasi masyarakat desa sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lebih inklusif. Dengan meningkatnya kapasitas perempuan, diharapkan keluarga memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi berbagai ancaman bencana sekaligus memperkuat ketahanan sosial masyarakat secara menyeluruh.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep pembangunan inklusif yang menempatkan perempuan sebagai subjek pembangunan, bukan hanya sebagai penerima manfaat.
Penanggulangan Sampah sebagai Upaya Mitigasi Bencana
Aspek lain yang mendapat perhatian dalam program ini adalah pengelolaan sampah berbasis masyarakat sebagai bagian dari strategi pengurangan risiko bencana.
Tim PKM menemukan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga masih menjadi persoalan yang memerlukan perhatian karena berpotensi menimbulkan penyumbatan saluran air, pencemaran lingkungan, hingga meningkatkan risiko banjir pada musim hujan.
Melalui kegiatan edukasi, masyarakat diperkenalkan pada pentingnya pengurangan sampah sejak dari sumbernya melalui pemilahan sampah organik dan anorganik, penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R), pengomposan sederhana, serta pemanfaatan kembali sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.
Kelompok pemuda bersama masyarakat juga didorong untuk melaksanakan kegiatan kerja bakti lingkungan secara berkala, kampanye kebersihan melalui media sosial, serta membangun kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sampah bukan hanya persoalan kebersihan, melainkan bagian dari mitigasi bencana dan perlindungan lingkungan.
Dengan lingkungan yang lebih bersih dan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik, masyarakat diharapkan mampu mengurangi potensi bencana yang disebabkan oleh faktor lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.
Komitmen Keberlanjutan Program
Sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik, program ini menghasilkan berbagai luaran berupa artikel ilmiah, publikasi di media massa daring, dokumentasi video kegiatan, serta pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Tim pelaksana menegaskan bahwa keberhasilan program memerlukan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, pemerintah desa, dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), komunitas lokal, media massa, serta perguruan tinggi.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menjaga keberlanjutan penguatan organisasi kepemudaan, meningkatkan pemberdayaan perempuan, serta membangun budaya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sehingga Desa Rancamulya dapat berkembang menjadi desa yang lebih tangguh, inklusif, dan siap menghadapi berbagai tantangan kebencanaan di masa depan. ***







Komentar