Jejak Digital Jadi Penentu Karier
KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan transformasi dunia kerja, kemampuan akademik saja dinilai tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan. Kesadaran itulah yang mendorong Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Langlangbuana (Unla) menggelar webinar bertajuk “Digital Footprint Matters: Personal Branding Gen Z di Era AI dan Dunia Kerja”, Sabtu (18/7/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting tersebut menghadirkan dosen sekaligus praktisi komunikasi Rosanti Utami D.S. Yatnosaputro, S.Sos., M.I.Kom. sebagai keynote speaker, didampingi Budi Rizanto Binol, S.Si., M.I.K., pakar strategi digital dan personal branding sebagai narasumber, dengan Veny Purba, S.Sos., M.I.Kom. bertindak sebagai moderator. Webinar terbuka bagi mahasiswa, pelajar SMA/SMK, hingga masyarakat umum.
Mengangkat tema “Digital Footprint Matters”, webinar menyoroti semakin besarnya pengaruh jejak digital terhadap masa depan seseorang, khususnya bagi Generasi Z yang akan memasuki dunia profesional. Dalam era AI, rekam jejak seseorang di ruang digital dinilai menjadi salah satu indikator penting yang diperhatikan perusahaan selain latar belakang pendidikan dan kemampuan teknis.
Dalam pemaparannya, Rosanti Utami D.S. Yatnosaputro menjelaskan bahwa personal branding bukan sekadar membangun popularitas di media sosial, melainkan proses membangun identitas profesional yang mencerminkan kompetensi, karakter, dan kontribusi seseorang.
“Di era AI, perusahaan tidak hanya melihat nilai akademik atau ijazah. Jejak digital, karakter, dan reputasi yang kita bangun di ruang digital menjadi bagian penting dalam proses rekrutmen. Karena itu, personal branding harus dibangun secara sadar, konsisten, dan memiliki nilai yang jelas,” ujar Rosanti.

Ia menambahkan, membangun personal branding dimulai dari kemampuan mengenali potensi diri, menentukan nilai yang ingin ditampilkan kepada publik, kemudian mengomunikasikannya secara konsisten melalui berbagai platform digital.
Selama webinar, peserta memperoleh pemahaman mengenai perbedaan personal branding dengan personal image, sekaligus strategi membangun reputasi digital yang mampu meningkatkan daya saing di dunia kerja. Narasumber juga menguraikan konsep value, visibility, credibility, hingga opportunity sebagai fondasi membangun identitas profesional di era digital.
Diskusi berlangsung interaktif. Peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar cara mengelola media sosial secara profesional, membangun portofolio digital, hingga memanfaatkan teknologi AI sebagai pendukung pengembangan karier tanpa menghilangkan identitas personal.
Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Unla menyelenggarakan webinar ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi digital mahasiswa sekaligus mempersiapkan lulusan menghadapi perubahan pola rekrutmen di era transformasi digital. Saat ini perusahaan tidak lagi hanya menilai kemampuan akademik, tetapi juga mempertimbangkan reputasi digital, karakter, serta rekam jejak seseorang di dunia maya sebelum mengambil keputusan perekrutan.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan mampu membangun citra diri yang positif, profesional, dan bertanggung jawab di ruang digital sehingga memiliki daya saing yang lebih kuat ketika memasuki dunia kerja maupun mengembangkan karier di masa depan.
Webinar juga menjadi bagian dari komitmen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Langlangbuana dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan tantangan industri komunikasi dan perkembangan teknologi terkini. (NA)***










Komentar