Oleh RIANY LAILA NURWULANDosen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Pasundan
MENJELANG waktu berbuka puasa, ruang-ruang publik dipenuhi suasana khas Ramadan. Orang-orang duduk berdekatan, menunggu azan Magrib, berbagi cerita ringan sambil menikmati sore. Ngabuburit, dalam tradisi sosial masyarakat kita, bukan sekadar kegiatan menunggu waktu berbuka, tetapi momen kebersamaan yang sarat makna sosial. Di dalamnya ada jeda dari rutinitas, ada ruang untuk berbagi, dan ada kesempatan untuk memperkuat relasi antarmanusia.
Ngabuburit juga menjadi penanda bahwa waktu tidak selalu harus produktif secara ekonomi. Ada waktu-waktu tertentu yang nilainya justru terletak pada kebersamaan itu sendiri. Duduk bersama, berbincang tanpa agenda, atau sekadar menemani orang lain menunggu berbuka merupakan praktik sosial sederhana yang memperkuat ikatan.
Namun, pemandangan yang kerap muncul belakangan justru menghadirkan ironi. Banyak orang duduk berdampingan, tetapi perhatian mereka tertuju pada layar gawai. Percakapan terputus oleh notifikasi, tawa tergantikan oleh guliran jempol. Fenomena ini dikenal sebagai phubbing (phone snubbing)—mengabaikan orang di hadapan kita karena lebih fokus pada ponsel.
Phubbing sering dianggap sebagai persoalan etika pribadi atau kebiasaan kecil yang sepele. Padahal, jika dilihat lebih jauh, ia mencerminkan perubahan cara manusia berelasi di era digital. Dalam konteks kesejahteraan sosial, phubbing bukan sekadar soal sopan santun, melainkan tentang kualitas hubungan antarmanusia. Ia menyentuh aspek paling dasar dari kehidupan sosial: perhatian, empati, dan kehadiran.
Puasa sejatinya mengajarkan pengendalian diri. Menahan lapar dan haus bukan tujuan akhir, melainkan jalan menuju kesadaran—kesadaran akan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sosial. Dalam tradisi sosial-keagamaan, puasa juga dimaknai sebagai latihan empati, terutama terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan. Karena itu, puasa tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga sosial.
Dalam konteks ini, ngabuburit seharusnya menjadi ruang sosial yang memperkuat kebersamaan. Ia menyediakan waktu tanpa tuntutan produktivitas, tanpa target capaian, dan tanpa tekanan. Waktu yang seharusnya diisi dengan percakapan ringan, cerita sehari-hari, atau sekadar duduk bersama dalam keheningan yang nyaman. Namun, ketika ngabuburit diisi dengan kehadiran fisik tanpa kehadiran emosional, makna sosial puasa menjadi berkurang.
Kita hadir di satu ruang, tetapi pikiran dan perhatian berada di tempat lain. Interaksi menjadi dangkal, dan relasi kehilangan kedekatannya. Anak-anak berbicara tanpa benar-benar didengarkan. Pasangan berbuka bersama tanpa percakapan bermakna. Teman berkumpul, tetapi masing-masing sibuk dengan dunia digitalnya sendiri. Semua tampak biasa, namun sesungguhnya menyisakan jarak emosional.
Kesejahteraan sosial tidak hanya diukur dari terpenuhinya kebutuhan ekonomi. Ia juga ditentukan oleh kualitas relasi sosial—oleh rasa didengar, diperhatikan, dan dihargai. Keluarga, pertemanan, dan komunitas adalah jaringan dukungan utama dalam kehidupan sosial. Ketika relasi-relasi ini melemah, kesejahteraan individu pun ikut rapuh.
Phubbing menggerus relasi secara perlahan. Bukan melalui konflik besar atau pertengkaran terbuka, melainkan melalui kebiasaan kecil yang berulang. Perhatian yang terpecah, respons yang setengah hadir, dan percakapan yang tidak tuntas perlahan membentuk pola relasi yang minim kedalaman.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melahirkan kesepian yang sunyi—kesepian di tengah kebersamaan.
Ngabuburit sebenarnya menyediakan ruang jeda yang sangat berharga untuk memulihkan relasi. Dalam jeda itu, manusia bisa kembali saling hadir tanpa tuntutan. Namun, ruang ini kerap diambil alih oleh layar yang terus menuntut perhatian. Bukan karena teknologi itu jahat, melainkan karena kita sering kehilangan kesadaran dalam menggunakannya.
Dari perspektif kesejahteraan sosial, persoalan utama phubbing bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan hilangnya kesadaran akan kehadiran. Teknologi digital tidak perlu dimusuhi. Ia menjadi masalah ketika menggantikan relasi, bukan mendukungnya—ketika layar menjadi lebih penting daripada manusia di hadapan kita.
Bulan puasa memberi kesempatan yang sangat relevan untuk meninjau ulang kebiasaan ini. Puasa dapat menjadi momentum untuk melatih bukan hanya pengendalian fisik, tetapi juga pengendalian atensi. Dalam masyarakat yang terus dibanjiri informasi, kemampuan memberi perhatian penuh justru menjadi keterampilan sosial yang semakin langka.
Barangkali tantangan kesejahteraan sosial di era digital bukan lagi soal kurangnya koneksi, melainkan kemiskinan perhatian. Kita terhubung ke banyak hal, tetapi kurang hadir bagi yang terdekat. Ngabuburit mengingatkan bahwa kesejahteraan sosial dibangun dari hal-hal sederhana: mendengarkan, memperhatikan, dan hadir sepenuhnya.
Menjelang azan Magrib, mungkin yang perlu kita tunggu bukan hanya waktu berbuka, tetapi juga kembalinya kehadiran sosial—saat kita meletakkan gawai sejenak, menatap wajah di hadapan kita, dan kembali memanusiakan relasi. ***







Komentar