Menu

Mode Gelap

Diskursus · 10 Jan 2024 20:09 WIB ·

Lampu Merah Sangat Bahaya Buat Shin Tae-yong

 Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae –Yong. (Foto: PSSI).* Perbesar

Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae –Yong. (Foto: PSSI).*

Oleh Wina Armada Sukardi*

DIGADANG-GADANG dapat menggerek kualitas dan prestasi tim Indonesia, pelatih asal Korea Selatan Shin Tae-yong kiwari justeru berada di lampu merah yang sangat bahaya. Hasil yang dicapai Shin Tae-yong yang semula diharapkan mengangkat kesebelasan Indonesia mampu bersaing di lebel elite Asia, malah terus digunduli lawan-lawannya dan sama sekali belum memperlihatkan prospektif yang mengembirakan.

Betapa tidak. Terakhir, Selasa (9/1/2024) malam, walaupun telah mengerahkan skuat terkuat, kesebelasan Indonesia dibantai oleh Iran 5 – 0. Ini merupakan kekalahan ketiga berturut-turut beberapa hari jelang kejuaraan Asia.

Teror Bagi Masyarakat Bola

Gawang Indonesia dalam tiga pertandingan terebut, sudah kebobolan 11 gol dan cuma berhasil memciptakan satu gol. Dua kali lawan Libya Indonesia keok 4-0 dan 2-1.

Sebelumnya kesebelasan Indonesia juga dibantaii Irak 5 -1 dan cuma mampu bermain imbang 1 – 1 dengan Filipina, kesebelasan yang dalam persaingan ASEAN saja termasuk kelompok paling lemah.

Dari lima pertandingan terakhir itu, total gawang Indonesia sudah dibanjiri 17 kebobolan, dan cuma mampu menjeblosan dua gol. Sebuah capaian yang menyedihkan dan sejaligus menjadi teror bagi masyarakat sepak bola Indonesia.

Kekalahan mencolok di tengah optimisme yang sebelumnya tumbuh, menjadi teror yang menakutkan. Publik Indonesia dihantui ketakutan bagaimana kelak masa depan kesebelasan Indonesia kalau seperi ini terus.
Maklumlah pada awal kedatangan Shin Tae-yong tumpuh begitu besar harapan tim Indonesia bakal bermetaforse menjadi kesebelasan yang tangguh dan disegani. Kini segalanya berbalik menusuk: kesebelasan Indonesia selalu dicukur dan dengan angka yang memang memalukan. Nah, arus balik inilah yang kemudian menjadi semacam teror buat masyarakat bola Indonesia.

Filosofi Sepak Bola

Tujuan permainan sepak bola pada akhirnya adalah menang dengan sportif sesuai aturan yang berlalu. Semua metologi latihan dan “budaya sepak bola” pada akhirnya harus diukur di lapangan. Semua yang di luar lapangan cuma sarana pendukung buat mencapai kemenangan dalam pertandingan. Tanpa kemenangan semuanya menjadi percuma saja.

Seorang pelatih Brazil memaparkan, tak mengapa sebuah kesebelasan kebobolan banyak, asal kesebelasan itu dapat membobol kesebelasan lawannya dengan lebih banyak lagi! Dengan cara itu, kesebelasan yang kebobolan banyak, tetap mencapai kemenangan.

Mantan pelatih Indonesia asal Belanda Wiel Cover, ketika ditanya seorang wartawan, mengapa kesebelasan kesebelasan Indonesia kala itu kalah, dengan nada kesal menjawab, ”Ya jelas: lawan memasukan gol lebih banyak dari Indonesia!”

Belum Ada Kemenangan Berharga

Kemenangan berharga! Itulah yang sampai kini belum dihadiahi oleh Shin Tae-yong kepada kesebelasan Indonesia. Shin Tae-yong juga belum pernah memberikan satu pun gelar ke Indonesia.

Tujuan sepak bola meraih kemenang dengan cara membobol gawang lawan lebih banyak ketimbang kemampuan lawan membobol gawang kita, sama sekali belum terlihat dari penanganan Shin Tae-yong terhadap tim Indonesia.

Upaya dan strategi Shin Tae-yong kiwari menjadi seperti kilah belaka. Manakala Indonesia dibantai Libya 4-0, Shin Tae-yong masih berdalih, hasil itu baginya tak bermakna apa-apa, lantaran dia dalam pertandingan itu cuma mau mendikteksi kemampuan fisik pemain. Padahal waktu itu sebenarnya, nama Indonesia juga ikut menjadi taruhan. Kekalahan mencokok dari Libya pada laga pertama juga menampar muka Indonesia, tapi Shin Tae-yong kurang penduli. Mungkin Shin Tae-yong memang fokus ke pertandingan kedua.

Dalam pertandingan kedua yang diakui FIFA sehingga bakal menambah atau mengurangi point peringkat, nyatanya Indonesia tetap keok 1-2.

Tempat latihan kesebelasan Indonesia yang berpindah-pindah di luar negeri, juga sama sekali belum membawa hasil. Oleh sebab itu mulai muncul pertanyaan, apa gunanya berpindah-pindahnya tempat latihan di luar negeri kalau hasilnya malah melempem.

Strategi mengubah-ubah susunan dan posisi pemain, yang semula disangka sebagai “strategi bunglon” untuk mengelabui lawan, berbalik menjadi bumerang. Eksperimental itu membuat Shin Tae-yong gagal membentuk tim yang kuat. Akibat hal tersebut, Shin Tae-yong akhirnya malah belum memperoleh skuat yang tetap dan ajak.

Dan yang paling fenomental adalah keinginan Shin Tae-yong memperoleh pemain keturunan Indonesia yang bermain di kompetisi luar negeri melalui proses naturalisasi, semuanya sudah dipenuhi. Sebagian pemain tersebut sudah menjadi warga negara Indonesia dan bahkan telah pula membela Indonesia. Hasilnya? Indonesia tetap jeblok, terus keok, bahkan dengan skor mencolok.

Shin Tae-yong telah menanamkan disiplin berlatih. Shin Tae-yong telah mengajarkan perlunya pengorbanan optimal untuk membela sebuah kesebelasan nasional. Shin Tae-yong telah membangun budaya sepak bola profesional. Tapi di luar itu, Shin Tae-yong gagal menggapai tujuan sepak bola yang sebenarnya: memperoleh kemenangan! Inilah lampu merah yang sangat bahaya buat Shin Tae-yong.

Salah satu yang menjadi kegagalan Shin Tae-yong, betapa rapuhnya pertahanan kesebelasan Indonesia. Saya, dan beberapa pengamat sepak bola, telah berkali-kali mengingatkan soal kelemahan pertahanan Indonesia. Kami sudah pula sering menekankan perlunya segera memperbaiki lini pertahanan Indonesia jika kita tak mau menjadi bulan-bulanan tim tangguh. Faktanya, perbaikan itu tak kunjung tiba, sehingga akibatnya gawang Indonesia memang menjadi sasaran empuk lawan.

Batu Uji

Atas dasar situasi itu, hasil di Kejuaraaan Asia dan penyisihan Piala Dunia menjadi batu uji utama buat Shin Tae-yong. Jika dia gagal meloloskan Indonesia dari penyisihan group Piala Asia dan tidak mampu membawa kesebelasan Indonesia keluar dari babak penyisihan group Piala Dunia, maka sudah menjadi vonis yang adil bagi Shin Tae-yong, jika kontraknya menangani kesebelasan Indobesia tak lagi diperpanjang. Itulah waktunya kita mengucapkan selamat tinggal kepada pelatih kharismatik itu. Tegasnya sudah waktunya Shin Tae-yong diganti!

Segalanya berpulang kepada Shin Tae-yong sendiri. Jika betul dia masih ingin berkiprah di Indonesia, tak ada cara lain memberikan kemenangan kepada Indonesia. Setidaknya lolos dari group Kejuaraan Asia dan berhasil di penyisihan Piala Dunia. Untuk itu Shin Tae-yong mau tak mau wajib mengerahkan semua daya upaya yang dia memiliki.

Kita mengharapkan Shin Tae-yong mampu menjalankan misi yang ada di pundaknya. Hanya saja, melihat jejak prestasi yang ada selama ini, wajar juga andai nada pesimis mengepung kita.

Melihat Shin Tae-yong mungkin gagal melaksanakan targetnya, tak ada salahnya kita telah pula memikirkan alernatifnya. Nantinya tersedia banyak pelatih bertaraf internasional. Kita tinggal seleksi sesuai dengan ekosistem persepakbolaan kita, termasuk perekonomiannya.***

*Penulis, analis sepak bola

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

PERLUKAH TEMPO MEMINTA MAAF?

26 Maret 2024 - 21:14 WIB

Mengkaji Ulang Pilpres dan Pilkada oleh Legislatif

16 Februari 2024 - 20:04 WIB

Mengungkap Terasi Udang Warisan Kuliner Indonesia

9 Februari 2024 - 11:00 WIB

Pemilu 2024 dan PWI

27 Januari 2024 - 23:52 WIB

Komunikasi Gimik Politik

24 Januari 2024 - 06:23 WIB

Pilpres 2024, Mungkinkah Satu Putaran?

14 Januari 2024 - 09:42 WIB

Trending di Diskursus