Menu

Mode Gelap

Diskursus · 7 Jun 2022 20:25 WIB ·

Hari Laut Sedunia 8 Juni 2022: Menjaga Kebersihan dan Ekosistem Laut

 Foto jepretan Renee Capozzola (AS) pemenang kontes foto Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam rangka Hari Laut Sedunia 2021, kategori lautan, kehidupan, dan mata pencaharian. (Foto ilustrasi, sumber foto: un.org).* Perbesar

Foto jepretan Renee Capozzola (AS) pemenang kontes foto Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam rangka Hari Laut Sedunia 2021, kategori lautan, kehidupan, dan mata pencaharian. (Foto ilustrasi, sumber foto: un.org).*

Oleh Widodo Asmowiyoto*

HARI Laut Sedunia (HLS) tanggal 8 Juni 2022, bagi saya yang sudah 45 tahun berprofesi sebagai wartawan, mengingatkan begitu banyak penerbangan melintasi lautan dan perjalanan jauh via kapal laut. Penerbangan terjauh saya adalah Jakarta-Vancouver, Kanada pada 1986 untuk meliput World Expo 86. Kemudian tiga kali penerbangan Jakarta-Tokyo pada 1990, 1995, dan 2007. Bahkan selama 45 hari di Negeri Sakura pada 1990 itu saya sempat terbang ke Okinawa.

Widodo Asmowiyoto.*

Penerbangan saya ke mancanegara lumayan sering: dua kali Jakarta-Paris dilanjutkan ke beberapa kota besar di Eropa (Den Haag, Amsterdam, London, Bonn, Swiss). Selain itu juga Jakarta-Sydney, tiga kali Jakarta-Jeddah (dilanjutkan ke Tanah Suci), Jakarta-Taipei, Jakarta-Beijing, dan beberapa kali penerbangan ke negara tetangga (Singapura, Kuala Lumpur, Brunei Darussalam, Bangkok). Pernah pula saya naik kapal feri Batam-Singapura.

Di dalam negeri, penerbangan saya adalah dari Jakarta ke hampir semua ibu kota provinsi. Perjalanan antarpulau itu ada juga yang saya tempuh dengan naik kapal feri yakni Ambon-Seram, Merak-Bakauheni, Batam-Tanjung Pinang. Pernah sekali naik KRI Makassar-590 rute Surabaya-Mataram.

Menyaksikan laut dari pantai juga relatif sering saya alami yakni di Parangtritis (Yokyakarta), Pangandaran (Jawa Barat), Anyer (Banten), Ancol (Jakarta), Panjang (Bengkulu), Losari (Makassar, Sulsel), Senggigi (Mataram, Lombok), Sanur dan Nusa Dua (Bali), Bunaken (Manado, Sulut), Mandeh (Pesisir Selatan, Sumbar), Pasir Putih (Situbondo, Jatim), dan beberapa lokasi lain.

Selama dalam penerbangan internasional maupun domestik, saya selalu merenungi betapa indahnya laut yang merupakan ciptaan Tuhan Yang Mahakuasa itu. Ketika pesawat akan mendarat, saya menyaksikan daerah pesisir yang bersih dan indah, tetapi ada juga yang kotor dengan warna air laut yang tidak biru lagi. Di sebagian pantai di Laut Jawa bahkan berwarna cokelat karena ada sungai yang bermuara di laut dengan membawa lumpur dan sampah.

Menjaga kebersihan dan ekosistem laut

Dengan relatif sering “terbang” dan naik kapal feri serta melihat pantai itu, saya tidak bermaksud pamer. Niat utamanya untuk mendukung tema HLS 2022 yaitu “Revitalization: Collective Action for the Ocean” (“Revitalisasi: Aksi Kolektif untuk Laut”). Tema itu sebagai kampanye kepada masyarakat di seluruh dunia agar bersama-sama meningkatkan kepedulian akan kebersihan laut. Tema tersebut disertai ajakan yang intinya memotivasi agar umat manusia menjaga kebersihan dan ekosistem laut. (JatimNetwork.com, Selasa, 7/6/2022).

Harap dicamkan bahwa sebagian besar (70 persen) bumi terdiri atas lautan dan menjadi sumber kehidupan, mata pencaharian manusia dan tempat hidup setiap organisme lain di bumi. Namun saat ini kesehatan laut berada pada titik kritis dan begitu juga kesejahteraan masyarakat bergantung pada laut. Data tercatat sebanyak 90 persen populasi ikan besar habis dan 50 persen terumbu karang hancur.

Karena itu hendaknya kita membuang sampah di tempat yang semestinya, bukan ke sungai-sungai yang ujung-ujungnya juga ke pantai atau laut. Hal itu sama saja mencemarkan laut. Padahal di dalam laut banyak sekali ikan dan beragam makhluk hidup lainnya.

Dalam mengawali tulisannya berjudul “Laut, Penopang Kehidupan Bumi” (greeneration.org, 25/5/2021), Melisa Qonita Ramadhani mengingatkan bahwa kehidupan pertama di bumi dimulai dari laut. Makhluk darat pertama berasal dari laut. Hingga kini, laut menjadi tonggak penting kehidupan makhluk hidup bumi.

Sejak revolusi industri pertama, ungkap Melisa, planet bumi telah menyaksikan kehilangan banyaknya spesies hewan dan tumbuhan akibat aktivitas manufaktur dan perkembangan teknologi manusia. Sayangnya, perkembangan industri itu tidak dibarengi dengan konsumsi dan produksi berkelanjutan. Ekosistem laut modern kini menanggung akibatnya.

Lebih dari sekadar hamparan air asin yang luas, laut berperan penting dalam keberlangsungan hidup di bumi, baik di laut maupun di darat. Berikut beberapa alasannya:

80 persen oksigen dunia diproduksi fitoplankton di lautan. Betul bahwa hutan hujan tropis dan tumbuhan memang turut menyumbang kadar oksigen di atmosfer bumi, namun sebenarnya laut memproduksi sebagian besar oksigen yang kita hirup sekarang. Fitoplankton ialah tumbuhan laut mikroskopik, jumlahnya masif di lautan. Merekalah yang berperan penting menghasilkan oksigen bagi makhluk darat.

Laut berperan sebagai panel surya raksasa, dan mendistribusikan panasnya ke seluruh dunia. Ketika sinar matahari menghangatkan laut, terjadi pertukaran antara molekul air dan udara. Proses ini disebut evaporasi. Air laut berevaporasi secara konstan, meningkatkan suhu dan kelembaban udara di sekitarnya untuk membentuk awan hujan. Awan hujan tersebut lalu terbawa angin ke darat.

Daerah tropis lebih sering hujan, karena matahari bersinar sepanjang tahun sehingga proses evaporasi frekuensinya lebih tinggi di area ekuator.

Mengapa air hujan rasanya tawar, meskipun airnya menguap dari laut? Proses evaporasi murni hanya membawa molekul air, tanpa ada substansi lainnya. Jadi, kandungan garam dan partikel lainnya tetap ada di laut. Ketika cuaca di laut sedang berangin, kadang percikan airnya terbawa angin hingga ke tepi pantai. Percikan air tersebut memuat partikel garam yang tertinggal saat proses evaporasi. Proses inilah yang menyebabkan angin laut terasa asin dan berbau logam.

Menurut Melisa, laut mempengaruhi cuaca dan iklim darat dengan menjaga temperatur bumi. Air laut dan samudera di perairan tropis dekat ekuator menyerap sebagian besar radiasi matahari. Sementara untuk daerah bumi di luar ekuator, laut mempengaruhi pola cuaca darat dengan arusnya. Arus laut mengalir terus menerus, dibentuk dari angin di permukaan laut, suhu dan kadar garam, rotasi bumi, serta pasang surut lautan.

Arus laut bergerak searah jarum jam dari belahan bumi utara, dan berlawanan jarum jam di belahan bumi selatan. Polanya melingkar dan melewati garis pantai.

Arus laut bergerak seperti conveyor belt, mengangkut air hangat dan presipitasi dari ekuator ke kutub, dan air dingin dari kutub kembali ke daerah tropis. Tanpa arus ini, temperatur regional akan jadi sangat ekstrem; panas luar biasa di ekuator dan dingin membeku di dekat kutub. Selain itu, daratan di bumi mungkin tidak akan layak ditempati.

Melisa juga memgemukakan tentang ancaman yang menyertai laut. Dikatakan bahwa pada praktiknya, bumi memang mengalami kenaikan suhu secara natural. Namun sejak adanya aktivitas industri manusia, bumi mengalami kenaikan temperatur global dalam kecepatan tinggi.

Dikutip dari jurnal Advances in Atmospheric Science, temperatur air laut disinyalir paling tinggi di tahun 2019, sejak 60 tahun lalu pencatatan suhu bumi dimulai.

Laut sangat sensitif dengan suhu. Adanya kenaikan temperatur global mempengaruhi seluruh elemen laut. Jika tidak beradaptasi, biota laut akan mati. Salah satu dampak kenaikan temperatur ialah terjadinya coral bleaching. Terumbu karang yang sehat aslinya berwarna terang dan ditinggali hewan laut lainnya.

Warna terang ini dikeluarkan oleh alga berukuran mikroskopik bernama zooxanthellae. Terumbu karang dan alga ini menjalin simbiosis mutualisme; zooxanthellae yang hidup di terumbu karang melakukan fotosintesis dan menyediakan makanan untuk mereka.

Ketika suhu air naik, terumbu karang di dasar laut bisa stres dan melepas alga dari tubuhnya. Karena hilangnya alga ini, warna terumbu karang dapat berubah menjadi putih seperti terkena bleaching. Tanpa zooxanthellae, terumbu karang tidak dapat memproduksi makanannya sendiri. Jika suhu air tetap tinggi, terumbu karang tersebut akan mati.

Selain coral bleaching, makhluk laut menghadapi ancaman lain yang berhubungan erat dengan aktivitas manusia. Belum lagi jika kita membicarakan soal sampah lautan, overfishing, dan tumpahan minyak di lepas pantai. Dengan memahami masalahnya, Generasi Hijau dapat mengambil peran untuk mengatasi salah satu dari faktor yang disebutkan tadi. Tetap ingat bahwa setiap aksi kecil yang dilakukan untuk lingkungan pasti akan berdampak banyak jika dilakukan secara kolektif.

Peran laut untuk ekonomi global

Dari sisi ekonomi, Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, Moh. Abdi Suhufan, mengingatkan pentingnya menjaga laut berkelanjutan karena tidak akan ada perekonomian global tanpa laut. Sebab, 90 persen dari semua barang yang diperdagangkan secara internasional bepergian dengan kapal laut.

Berbicara kepada LKBN Antara dalam memperingati Hari Laut Sedunia 8 Juni 2021 lalu –yang tentu saja masih relevan–,  Abdi Suhufan mengatakan, HLS seharusnya menjadi momentum bagi semua negara di dunia untuk melihat dampak pembangunan ekonomi, perlindungan lingkungan dan kesejahteraan sosial menuju titik keseimbangan.

Moh. Abdi mengingatkan pula pentingnya beragam aspek dari laut, seperti terumbu karang global yang diperkirakan menyumbang USD 11,5 miliar/tahun untuk pariwisata global, memberi manfaat kepada lebih dari 100 negara dan menyediakan makanan dan mata pencaharian bagi masyarakat lokal.

Bagi Indonesia, lanjutnya, HLS kali ini menjadi tahapan untuk memperkokoh peran Indonesia sebagai negara maritim. Artinya, arus utama pembangunan mesti berorientasi ke laut, bukan saja pembangunan ekonomi tetapi pembangunan sosial budaya dan karakter bangsa.

HLS seharusnya tidak hanya menjadi perayaan seremonial, upacara dan kemudian dilupakan, tetapi mesti terwujud dalam cetak biru pembangunan menuju Indonesia 2045.***

*Penulis Dewan Redaksi TuguBandung.id

Artikel ini telah dibaca 108 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

PERLUKAH TEMPO MEMINTA MAAF?

26 Maret 2024 - 21:14 WIB

Mengkaji Ulang Pilpres dan Pilkada oleh Legislatif

16 Februari 2024 - 20:04 WIB

Mengungkap Terasi Udang Warisan Kuliner Indonesia

9 Februari 2024 - 11:00 WIB

Pemilu 2024 dan PWI

27 Januari 2024 - 23:52 WIB

Komunikasi Gimik Politik

24 Januari 2024 - 06:23 WIB

Pilpres 2024, Mungkinkah Satu Putaran?

14 Januari 2024 - 09:42 WIB

Trending di Diskursus