Menu

Mode Gelap

Diskursus · 25 Agu 2022 07:49 WIB ·

Tawangmangu, Kian Membuat Para Wisatawan Termangu

 Salah satu sudut pemandangan obyek wisata Tawangmangu (lereng Gunung Lawu) dengan latar belakang jauh Gunung Merapi dan Merbabu. (Foto: Widodo A.).* Perbesar

Salah satu sudut pemandangan obyek wisata Tawangmangu (lereng Gunung Lawu) dengan latar belakang jauh Gunung Merapi dan Merbabu. (Foto: Widodo A.).*

Oleh Widodo Asmowiyoto*

POPULARITAS daerah tujuan wisata Tawangmangu, mungkin bisa disejajarkan daerah Puncak, Kabupaten Bogor. Atau dengan Lembang, Kabupaten Bandung Barat dan Ciwidey serta Pangalengan, Kabupaten Bandung. Tawangmangu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Lokasinya yang berada di lereng Gunung Lawu, menjadikan Tawangmangu yang berpenduduk sekitar 50 ribu jiwa ini bertetangga dengan daerah tujuan wisata Sarangan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur.

Berada di ketinggian antara 1.000 – 1.300 meter (bahkan ada yang mencapai 2.000 m) dari permukaan laut, Tawangmangu memungkinkan para pelancong yang mengunjunginya dapat melihat puncak Gunung Merapi dan Merbabu jauh di arah barat, Yogyakarta. Dengan catatan jika cuacanya sedang cerah, baik di Tawangmangu sendiri maupun di wilayah Merapi dan Merbabu itu. Apalagi bila cuaca cerah berlangsung pada sore hingga petang hari, maka Tawangmangu memang mampu membuat mata para wisatawan termangu-mangu. Mengagumi keelokan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, Allah Swt.

Ketermanguan para pelancong itu berkat keindahan daerah Tawangmangu sendiri maupun daerah-daerah lain di Kabupaten Karanganyar bagian barat. Pemandangan alam yang lebih jauh lagi ke arah barat itu terdiri atas Kota Solo dan sekitarnya hingga sekitar Gunung Merapi dan Merbabu. Kedua gunung tinggi itu berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten, dan Kabupaten Magelang. Jarak antara Lawu dan Merapi-Merbabu kurang lebih 100 kilometer. Sedangkan jarak Solo dan Tawangmangu 45-an kilometer.

Jalan raya yang mulus di wilayah obyek wisata Tawangmangu. (Foto: Widodo A.).*

Ketermanguan itu juga berlatar belakang sejarah. Jika ditarik ke masa lampau, menurut Sudono Salim, SPd, pada Desember 1744 adalah saat di mana Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa turun dari pertapaannya. Saat itu Raden Mas Said diserang tantara Belanda yang bekerja sama dengan prajurit Keraton Kasunanan Surakarta. Peristiwa itu terjadi di Desa Nglaroh, Kabupaten Wonogiri. (Solopos.com, Kamis, 18/8/2022)

Dalam upayanya kabur, RM Said berpindah-pindah tempat. Ia kemudian teringat dengan nasihat Tumenggung Kudono Warso dan Tumenggung Suro Wijoyo untuk berguru di Desa Sumokaton yang kini bernama Desa Somokado, Kecamatan Tawangmangu.

Di sana ada dua Ki Hajar, yakni Ki Hajar Adi Sono dan Ki Hajar Adi Roso. Ki Hajar Adi Roso mengatakan belum saatnya RM Said atau Pangeran Sambernyawa disebut ratu. Ia harus melakukan ritual khusus terlebih dulu. Setelah itu, RM Said bertapa atau nyepi di Gunung Mengadek yang saat itu masih hutan belantara. Ia didampingi oleh Tumenggung Kudono Warso dan Tumenggung Suko Wijaya. Tetapi ketiganya kemudian berpisah karena angin kencang dan hujan deras. Keduanya tidak tahan dan pindah tempat, sementara RM Said tetap tinggal.

RM Said lantas bertemu pria tua yang datang membawa dua benda pusaka. Satu berbentuk bendera disebut Kyai Gubro dan yang satu tameng kulit bekas binatang dan disebut Kyai Slamet.

Setelah menerima keduanya, RM Said ingin pergi ke suatu tempat untuk menemui gurunya, Ki Hajar Adi Roso di Desa Sumokado. Namun ketika RM Said hendak pergi, rupanya sang guru sudah menjemputnya.

Lereng Gunung Lawu yang masuk wilayah obyek wisata Tawangmangu. (Foto Widodo A.).*

Gurunya itu pun berkata, “Nak, kamu bakalan mendapat wahyu, tapi syaratnya temuilah pamanmu, Pangeran Mangkubumi yang bertempat tinggal di Sukowati (sekarang bernama Sragen). Dalam perjalanan hendak menuju ke Sukowati, RM Said melihat ke arah timur. Ia menyaksikan pemandangan Gunung Lawu yang sangat besar dan diselimuti awan-awan, kemudian diam termangu-mangu karenanya.

Setelah termangu beberapa saat, RM Said berkata, “Nanti, jika zaman sudah berkembang atau zaman sudah mulai ramai, muncul masyarakat baru, maka dari itu tempat ini saya namakan Tawangmangu (berasal dari kata ‘tawang’ dan ‘mangu’, artinya langit dan tempat yang nyaman).”

Tawangmangu kini

Mengunjungi Tawangmangu sekarang ini memang terasa banyak kemajuan. Jalan aspal atau jalan raya dari arah Kota Karanganyar yang dulu terasa sempit kini sudah lebih lebar, apalagi di Kota Tawangmangunya sendiri. Pelebaran itu masing-masing satu meter di kanan dan kiri jalan. Sekolah di Tawangmangu yang dulu hanya sampai sekolah dasar (SD), belakangan ini sudah mulai punya SMP.

Puluhan tahun silam masyarakat hanya mengenal obyek wisata sangat terkenal Grojogan Sewu atau air terjun dengan ketinggian sekitar 80 meter. Untuk menyaksikan dasar air terjun itu, pengunjung harus menuruni anak tangga yang berjumlah 1.250. Risikonya jika kembali ke atas mau tidak mau harus menaiki anak tangga tersebut sehingga menguras tenaga. Bagi yang tenaganya tidak begitu fit, apalagi bagi para lansia, akan sering berhenti sejenak untuk memulihkan tenaga.

Selain Grojogan Sewu juga terdapat obyek wisata lain yakni Air Terjun Pringgodani, Bukit Sekipan, Sentra Tanaman Hias di Desa Nglurah, Bumi Perkemahan Sekipan, dan Puncak Lawu (Pos Cemoro Kandang). Para pelancong dapat memilih tempat penginapan sesuai dengan kemampuan keuangannnya. Banyak pula orang yang mampu membuat vila-vila di Tawangmangu.

Kini tampak pula obyek wisata yang terkesan jauh lebih modern sekaligus unik seperti Sakura Hills dan The Lawu Park. Sakura Hills merupakan tempat wisata yang menawarkan panorama alam Gunung Lawu dengan nuansa tradisional Jepang. Di sini ada Japanese Park, Water Onsen Park, Sakura Park, Supercamp, Forest Canopy Tour, Café dan Resto. Sakura Hills berada di Jalan Raya Matesih-Tawangmangu, Gondosuli.

Menjelang perbatasan Tawangmangu dan Sarangan (Magetan) juga ada destinasi wisata halal The Lawu Park. Di sana terdapat bermacam-macam wahana permainan. Pendek cerita lereng Gunung Lawu Tawangmangu dan sekitarnya berpotensi besar untuk dijadikan destinasi wisata halal dunia. Di sana terdapat panorama alam indah dan sejuk, suasana masyarakat muslim pedesaan, infrastruktur transportasi, wisata kuliner, hotel, dan banyak pondok pesantren.

Pintu masuk area obyek wisata The Lawu Park, Tawangmangu. (Foto Widodo A.).*

Masa kecil Ganjar di Tawangmangu

Tidak banyak yang tahu bahwa Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, lahir dan menjalani masa kecilnya di Tawangmangu. Dia mempunyai kenangan tak terlupakan tentang Jeruk Keprok. Jeruk ini dulu menjadi ciri khas dan kebanggaan Tawangmangu. Belakangan sempat surut seperti nasib jeruk Garut, tetapi belakangan mau bangkit lagi.

Cerita Ganjar dan Jeruk Keprok itu –suatu waktu dulu– sempat menjadi perhatian Presiden Kelima Megawati Soekarnoputri. Kenangan itu diungkapkan Ganjar Pranowo saat bernostalgia menyusuri jalanan kampung masa kecilnya di Tawangmangu, Senin malam (2/5/2022).

Ganjar bercerita bahwa dulu di belakang rumahnya ada kebun dengan berbagai tanaman. Mulai singkong, sayuran, buah-buahan seperti apel, alpukat, dan jeruk. “Dulu juga ada tanaman apel, jeruk. Jeruk yang sangat terkenal dari Tawangmangu itu Jeruk Keprok. Ini dulu pernah kena virus dan hari ini sedang coba dihidupkan lagi. Kayaknya berhasil,” ujar Ganjar. (Jatengnews.id, 3/5/2022)

“Saya ingat, dulu waktu jeruk kena virus itu datang tim dari Jepang. Saya masih ingat betul, itu waktu SD. Baru tahu ternyata pohon jeruk itu diinfus. Termasuk jeruk yang di rumah itu dulu ditempeli infus. Apakah itu eksperimen atau memang tenaga yang disiapkan untuk merawat dan menghidupkan kembali pohon yang diserang virus itu,” kenang Ganjar.

Ganjar tinggal di Tawangmangu sampai kelas 5 SD sebelum pindah ke Karanganyar dan berlanjut ke Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ganjar juga mengenang rumah tempat tinggalnya dulu berupa rumah kontrakan berukuran kecil, sederhana dan ditinggali delapan orang. Jaraknya sekitar 100 meter dari rumah yang belakangan dibeli oleh orangtuanya.

“Dulu rumahnya tidak sebesar ini. Dulu rumah induk hanya di sini, belum sampai sana. Rumahnya penuh. Dapurnya dulu belum pakai kompor, masih pakai kayu. Dulu di sini dinginnya minta ampun,” kata Ganjar tentang rumah kontrakan yang dihuni sampai tahun 1973 itu.***

*Penulis Dewan Redaksi TuguBandung.id

Artikel ini telah dibaca 299 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mengkaji Ulang Pilpres dan Pilkada oleh Legislatif

16 Februari 2024 - 20:04 WIB

Mengungkap Terasi Udang Warisan Kuliner Indonesia

9 Februari 2024 - 11:00 WIB

Pemilu 2024 dan PWI

27 Januari 2024 - 23:52 WIB

Komunikasi Gimik Politik

24 Januari 2024 - 06:23 WIB

Pilpres 2024, Mungkinkah Satu Putaran?

14 Januari 2024 - 09:42 WIB

Lampu Merah Sangat Bahaya Buat Shin Tae-yong

10 Januari 2024 - 20:09 WIB

Trending di Diskursus