Menu

Mode Gelap

Diskursus · 25 Agu 2022 22:35 WIB ·

Masjid Namira, Masih Muda dan Menginspirasi Umat

 Masjid Namira, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. (Foto: Widodo A.).* Perbesar

Masjid Namira, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. (Foto: Widodo A.).*

Oleh Widodo Asmowiyoto*

NAMANYA cukup singkat: Masjid Namira. Nama itu diambil dari anak keempat pendirinya, suami-istri pengusaha di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur. Pasangan itu adalah H. Helmy Riza dan Hj. Eny Yuli Arifah, pemilik toko emas terbesar di daerah ini, pengusaha pom bensin atau SPBU, dan tambak. Mereka dikenal sebagai crazy rich asli Lamongan yang menggunakan kekayaannya dengan cara yang benar.

Sengaja diberi nama Namira karena pasangan tersebut merasa bersyukur kepada Allah Swt yang telah mengaruniai anak perempuan, Ghasani Namira Mirza. Namun ada juga yang mengatakan bahwa nama masjid ini diambil dari nama Masjid Namirah di Arafah, Arab Saudi. Kata namira dalam Bahasa Arab memiliki arti sopan.

Helmy merupakan keturunan keluarga Muhammadiyah dari ibu yang bernama Hj. Nin Humaiyah. Dia adalah saudara tertua Hj. Nur Saadah yang merupakan istri almarhum H. Bisri Ilyas. Mereka dikenal sebagai tokoh dermawan Muhammadiyah. Begitu pun dengan H. Helmy yang menggunakan hartanya untuk membangun masjid yang unik dan megah. Ya, masjid yang usianya masih relatif muda dan menginspirasi umat, sehingga setiap akhir pekan atau liburan panjang selalu dihadiri ribuan pengunjung.

Taman dan kolam ikan menghiasi area pengubung bangunan Masjid Namira dan tempat wudlu serta toilet. (Foto: Widodo A.).*

Masjid Namira terletak di Jalan Raya Mantup, Desa Jotosanur, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan. Pada awalnya masjid ini dibangun di atas tanah seluas satu hektare dengan kapasitas jamaah sekitar 500 orang. Namun sejak dilakukan rehabilitasi tahun 2013 Masjid Namira berdiri di atas tanah 2,7 hektare dan mampu menampung ribuan jamaah. (Dalamislam.com)

Pendirian kembali Masjid Namira ini terinspirasi Tanah Suci karena nuansa dan bentuknya yang menyerupai Masjidil Haram. “Penyerupaan” itu dimaksudkan agar masyarakat khususnya umat Islam yang belum mengunjungi Baitullah bisa merasakan nuansa Masjid Namira. Bahkan aroma masjid ini menyerupai wangi Masjidil Haram.

Terdapat Kiswah besar yang sengaja didatangkan langsung dari Masjidil Haram. Kiswah vertikal berukuran 6 m x 3,5 m itu diletakkan di depan mihrab imam dan dilindungi kaca serta berdiri kokoh. Tulisan Arab di kiswah asli –bukan replika– itu terbuat dari 120 kg benang emas dan 25 kg benang perak. Di sekeliling masjid juga tersebar kiswah kecil yang panjang. Masjid Namira dilengkapi pula dengan karpet seperti karpet empuk di Roudhoh Masjid Nabawi.

Masjid Namira benar-benar dibangun untuk mereka yang rindu dengan Masjidil Haram. Segala fasilitas dilengkapi agar nuansanya terasa dengan Masjidil Haram sungguhan. Masjid Namira dibangun dengan desain minimalis agar terlihat rapi dan bisa dikunjungi oleh semua golongan.

Gerbang masuk Masjid Namira. (Foto: Widodo A.).*

Pada 1 Juni 2013 Masjid Namira mulai dibuka untuk berjamaah dan peresmiannya dilakukan pada 2 Oktober 2016. Lokasi masjid yang baru itu terletak sekitar 300 meter dari lokasi bangunan masjid yang lama. Masjid seluas 2.750 m dan mampu menampung 2.500 jamaah ini selain untuk ibadah salat juga untuk acara keagamaan lainnya dan bahkan untuk upacara pernikahan.

Biaya operasional dan beasiswa

Ketua Takmir Masjid Namira, Waras Wibisono mengatakan, Masjid Namira memiliki program Warung Subuh Gratis berupa sarapan bersama setiap hari Minggu di teras masjid. Para jamaah bisa memilih makanan kesukaan yang disediakan. Mulai dari nasi bungkus, lontong sayur, mie instan, aneka gorengan, hingga teh, kopi, dan susu.

Untuk dana operasional masjid, berasal dari infak dan pendapatan masjid, dan jika masih kurang dibanding kebutuhan maka ditanggung ketua Yayasan (Helmy Riza). Dalam catatan pengurus Masjid Namira, operasional masjid per bulan membutuhkan biaya sekitar Rp 200 juta. Sedangkan dana infak setiap bulan yang didapat dari para pengunjung dan jamaah sekitar Rp 150 juta.

Bagian dalam Masjid Namira dengan latar belakang Kiswah di bagian mihrab. (Foto: Widodo A.).*

Dana itu digunakan untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari tagihan rekening listrik, air bersih, biaya perawatan dan kebersihan, serta upah 25 pekerja. “Wajar bila pembiayaan sebesar itu, karena melihat perawatan dan jumlah pekerjanya memang membutuhkan biaya yang sangat besar. Sebab saya dengar, untuk setiap harinya Masjid Namira membutuhkan pasokan air tak kurang dari 40 truk tangki,” tutur Muji Santoso, salah satu warga Lamongan. (Kompas.com, 16/11/2017)

Yayasan yang mengelola Masjid Namira kini juga melebarkan amal kegiatannya dengan memberikan beasiswa tahfizh Quran. Beasiswa penuh empat tahun khusus putra dengan menggunakan fasilitas asrama. Visi Yayasan Masjid Namira adalah menjadi pusat studi Islam yang mencetak kader da’i, imam, hafizh dan berakhlaqul karimah, serta menguasai dasar-dasar ilmu syar’i yang akan siap menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan. (lamonganpos.com, 25/4/2022)

Sedangkan misinya adalah menyelenggarakan pendidikan yang unggul secara kualitas dalam bidang Tahfizh dan Ilmu Al-Quran untuk mencetak kader da’i, imam, hafizh, berakhlaqul karimah dan menguasai dasar-dasar ilmu syar’i, yang siap menjadi pemimpin-pemimpin di masa depan.***

*Penulis Dewan Redaksi TuguBandung.id

Artikel ini telah dibaca 3,236 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mengkaji Ulang Pilpres dan Pilkada oleh Legislatif

16 Februari 2024 - 20:04 WIB

Mengungkap Terasi Udang Warisan Kuliner Indonesia

9 Februari 2024 - 11:00 WIB

Pemilu 2024 dan PWI

27 Januari 2024 - 23:52 WIB

Komunikasi Gimik Politik

24 Januari 2024 - 06:23 WIB

Pilpres 2024, Mungkinkah Satu Putaran?

14 Januari 2024 - 09:42 WIB

Lampu Merah Sangat Bahaya Buat Shin Tae-yong

10 Januari 2024 - 20:09 WIB

Trending di Diskursus