Menu

Mode Gelap

Diskursus · 8 Agu 2022 18:26 WIB ·

Masjid Agung Sunan Ampel Sangat Historis dan Mendunia

 Masjid Agung Sunan Ampel, Surabaya. (Foto: Widodo A.).* Perbesar

Masjid Agung Sunan Ampel, Surabaya. (Foto: Widodo A.).*

Oleh Widodo Asmowiyoto*

LANGKAH awal menginjak Kawasan Wisata Religi di Kota Surabaya ini, kesan pertama adalah kebersihan dan kenyamanan lingkungan Kampung Arab. Tidak ada suara bising sepeda motor karena mesin harus dimatikan. Risikonya para pengendara sepeda motor harus menuntun atau mendorongnya hingga sampai lokasi yang tuju. Mobil tidak mungkin masuk karena memang umumnya jalannya sempit.

Widodo Asmowiyoto.*

Berdampingan dengan permukiman adalah pasar. Gang antarkios pun umumnya sempit. Dengan berjalan kaki justru para pengunjung yang umumnya wisatawan itu dapat melihat-lihat bermacam-macam souvenir dan makanan. Beragam jenis buah kurma dan busana muslim juga tersedia di sini.

Para pengunjung itu beragam: peziarah, wisatawan sambil berziarah, warga setempat yang ingin beribadah salat dan pengajian di Masjid Agung Sunan Ampel. Di hari-hari biasa rata-rata mencapai 2.000 orang. Memasuki bulan suci Ramadan, jumlah pengunjung meningkat dua kali lipat. Bahkan melonjak pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan: di atas 10.000 atau bahkan 20.000 orang.

Tidak semua pengunjung itu berasal dari dalam negeri. Bahkan juga wisatawan mancanegara antara lain China, Prancis, Belanda, Italia, Jerman, Yunani, Jepang, Korea, Arab Saudi, Selandia Baru, Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam. Umumnya mereka melihat bentuk bangunan Masjid Agung Sunan Ampel yang dibangun sejak 1421 dan berziarah ke makam Sunan Ampel yang lokasinya di belakang masjid. (amasjid.islamic-center.or.id)

Pada tahun 1972 Pemerintah Kota Surabaya menetapkan Kawasan Masjid Agung Sunan Ampel menjadi tempat wisata religi. Ampel adalah sebuah kawasan di bagian utara Kota Surabaya yang mayoritas penduduknya merupakan etnis Arab. Kawasan ini kental dengan suasana Timur Tengah.

Enam abad lebih

Pusat kawasan Ampel adalah Masjid Ampel yang terletak di Jalan Ampel Suci 45 atau Jalan Ampel Masjid 53. Perjalanan sejarahnya yang sangat panjang merupakan bagian dari keberadaan Walisongo di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Pertama kali dibangun di lahan seluas 120 x 180 meter dan lebih dikenal dengan Masjid Ampel. Dalam perkembangan berikutnya lebih terkenal dengan sebutan Masjid Agung Sunan Ampel.

Pelaksanaan salat Jumat di Masjid Agung Sunan Ampel, Surabaya. (Foto: Widodo A.).*

Masjid yang sangat historis itu mengalami empat kali pengembangan. Pertama berdiri pada 1421, kemudian direnovasi, direhabilitasi atau diperluas pada 1925, 1926, 1954-1958, dan 1974. Saat ini, atau ketika usianya sudah enam abad lebih, luas Masjid Agung Sunan Ampel mencapai 12.923 m2. (Chairinnisa Zakira Noer Ananda, Pelestarian Bangunan Masjid Agung Sunan Ampel, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, 10 Januari 2017)

Saat awal membangun masjid tersebut Sunan Ampel dibantu sahabat karibnya Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji serta para santri. Lokasinya dulu hingga kini berada di Desa Ampel (sekarang Kelurahan Ampel), Kecamatan Semampir, Kota Surabaya atau sekitar 2 km ke arah Timur Jembatan Merah. Selain membangun masjid, Sunan Ampel juga mendirikan Pondok Pesantren Ampel.

Masjid Ampel dibangun dengan gaya arsitektur Jawa kuno dan nuansa Arab Islami. Masjid ini masih dipengaruhi dengan akulturasi dari budaya lokal dan Hindu-Budha lewat arsitektur bangunannya. Di masjid inilah saat itu sebagai tempat berkumpulnya para ulama dan wali dari berbagai daerah di Jawa. Mereka membicarakan ajaran Islam sekaligus membahas metode penyebarannya di Pulau Jawa.

Masjid Ampel berbahan kayu jati yang didatangkan dari beberapa wilayah di Jawa Timur dan diyakini memiliki “karomah”. Seperti disebut dalam cerita masyarakat, saat pasukan asing menyerang Surabaya dengan senjata berat dari berbagai arah dan menghancurkan Kota Surabaya, namun tidak menimbulkan kerusakan sedikit pun pada Masjid Ampel. Bahkan Masjid Ampel seolah tidak terusik.

Sunan Ampel adalah salah satu walisongo yang berjasa menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama aslinya adalah Raden Mohammad Ali Rahmatullah. Beliau merupakan seorang figur yang alim, bijak, berwibawa dan banyak mendapat simpati dari masyarakat.

Sunan Ampel diperkirakan lahir tahun 1401 di Champa, Kamboja. Sejarah mencatat, Sunan Ampel adalah keturunan dari Ibrahim Asmarakandi, salah satu Raja Champa yang kemudian menetap di Tuban, Jawa Timur. Saat berusia 20 tahun, Raden Rachmat memutuskan untuk pindah ke Tanah Jawa, tepatnya di Surabaya yang ketika itu merupakan daerah kekuasaan Majapahit di bawah Raja Brawijaya yang dipercaya sudah beragama Islam ketika berusia lanjut itu.

Di usianya 20 tahun, Sunan Ampel sudah dikenal pandai dalam ilmu agama, bahkan dipercaya Raja Brawijaya untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Surabaya. Tugas khususnya adalah untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit. Untuk itu Raden Rachmat dipinjami oleh Raja Majapahit berupa tanah seluas 12 hektare di daerah Ampel Denta atau Surabaya untuk syiar agama Islam.

Karena tempatnya itulah, Raden Rachmat kemudian akrab dipanggil Sunan Ampel. Beliau memimpin dakwah di Surabaya dan bersama masyarakat sekitar membangun masjid untuk media dakwahnya yang kini dikenal sebagai Masjid Ampel. Di tempat inilah Sunan Ampel menghabiskan masa hidupnya hingga wafat tahun 1481 dan makamnya terletak di sebelah kanan depan Masjid Ampel.

Ampel, Surabaya. (Foto: Widodo A.).*

Masjid Ampel selalu dijaga dan dirawat kebersihannya hingga kini. Saat ini Masjid Ampel ditangani nadzir (pengelola) yang baru dibentuk sekitar awal tahun 1970-an. Pertama kali bertindak sebagai nadzir Masjid Ampel adalah almarhum KH Muhammad bin Yusuf dan diteruskan oleh KH Nawawi Muhammad hingga tahun 1998. Sepeninggal KH Nawawi Muhammad hingga sekarang ini nadzir Masjid Ampel belum resmi dibentuk. Yang ada sekarang adalah pelanjut nadzir yang dijabat oleh KH Ubaidilah. Adapun Ketua Takmir Masjid Ampel adalah H Mohammad Azmi Nawawi.

Keunikan lain dari Masjid Sunan Ampel adalah terdapat menara di sebelah selatan yang menembus atap serta dasarnya terletak di bagian dalam. Menurut Arif Setya Wirawan dan Bambang Setia Budi (Perubahan pada Menara Masjid Sunan Ampel Surabaya Tahun 1870-2012) seperti dikutip tirto.id, menara tersebut telah tiga kali diubah yakni pada 1870-1900, 1910-1930, dan 2012-sekarang.

Sedangkan arah kiblat juga pernah dibahas oleh Achmad Jaelani melalui tesis berjudul Akurasi Arah Kiblat Masjid Agung Sunan Ampel di Fakultas Syariah dan Hukum, IAIN Walisongo, 29 Desember 2014. Dulu penentu arah kiblat itu Mbah Sonhaji. Arah kiblat itu dalam perkembangannya dijadikan rujukan bagi masyarakat Ampel dan sekitarnya ketika akan mendirikan masjid baru.

Melalui wawancara dan mengecek kembali arah kiblat dengan metode azimuth yang biasa digunakan Kementerian Agama, Ahmad Jaelani ingin mengetahui akurasi arah kiblat dimaksud dan hal itu dimintakan tanggapan kepada pengurus masjid dan masyarakat Ampel.

Intinya arah kiblat Masjid Agung Sunan Ampel kurang ke utara sebesar 00 12’ 28,94” untuk shaf asli dan shaf perluasan kurang ke utara sebesar 00 16’ 34,43” atau 2940 01’ 51”. Tanggapan yang diperoleh, pengurus masjid dan masyarakat Ampel tidak ingin mengubah shaf salat dengan alasan menghormati jasa Sunan Ampel, sedangkan pengunjung menerima dengan adanya perubahan shaf salat. ***

*Penulis Dewan Redaksi TuguBandung.id

Artikel ini telah dibaca 1,336 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Kaum Muda dalam Diakonia Gereja

7 Juni 2024 - 19:46 WIB

Diakonia Pendidikan, Jembatan Harapan yang Menghubungkan Kepedulian dengan Tindakan Nyata

7 Juni 2024 - 18:58 WIB

Katedral Santo Petrus Kokoh Berdiri Dalam Usia Seabad Lebih

7 Juni 2024 - 08:32 WIB

Menelusuri Keindahan Arsitektur Neo-Romantik Gereja Santo Igantius Kota Cimahi

6 Juni 2024 - 15:44 WIB

“Istana Para Dewa”, Satu Klenteng dengan Dua Vihara

6 Juni 2024 - 15:11 WIB

Geliat Dakwah Lewat Radio, Masih Diminati di Era Digital

6 Juni 2024 - 14:09 WIB

Trending di Feature