Membawa Karst Citatah ke Kelas PAI, Sebuah  Sinergi Gerakan Pelestarian

Oleh WAWAY QODRATULLOH S

Dosen PAI Politeknik Negeri Bandung

KARST Citatah menyimpan rekaman laut purba, berhubungan dengan sumber air, dan menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat. Kawasan ini juga dimanfaatkan sebagai sumber batu kapur untuk industri, sementara kegiatan penambangan telah mengubah sebagian bentang alamnya. Di tengah kebutuhan ekonomi dan upaya pelestarian, bagaimana perkuliahan Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat memperkuat gerakan warga merawat karst?

Batuan kapur Formasi Rajamandala di Citatah berumur Oligosen–Miosen dan terbentuk di lingkungan laut purba. Karst juga berkaitan erat dengan sistem air. Sebagian air hujan meresap melalui retakan dan rongga batuan, mengalir di bawah permukaan, lalu dapat muncul sebagai mata air.

Penelitian hidrogeologi di kawasan Gunung Masigit dan Ciptaharja menunjukkan bahwa sistem karst setempat rentan terhadap pencemaran dari aktivitas di permukaan. Menjaga karst karena itu turut berarti memperhatikan sumber air dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Upaya merawat kawasan ini telah berjalan melalui berbagai inisiatif masyarakat, salah satunya Forum Pemuda Peduli Karst Citatah (FP2KC). Profil FP2KC pada portal Kementerian Lingkungan Hidup mencatat pengembangan geowisata berwawasan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan di empat desa sejak 2009. Profil tersebut juga mencatat kegiatan konservasi bekas tambang dan penanaman sekitar 90.000 pohon.

Geowisata dapat mengenalkan potensi kawasan sekaligus menghubungkan edukasi dengan upaya pelestarian. Dukungan perguruan tinggi turut membantu gerakan warga berkembang. Salah satu wujudnya adalah sistem informasi hasil kolaborasi FP2KC dengan dosen dari Politeknik Negeri Bandung (Polban) yakni https://www.forkarst.org/, pusat informasi dan dokumentasi Karst Citatah. Kolaborasi yang diberitakan pada 2026 juga mencakup penguatan kemampuan warga dalam mengelola situs dan membuat konten edukasi. Pengelola lokal memegang peran penting agar ruang digital ini terus bermanfaat bagi masyarakat.

Pembelajaran PAI Berjumpa dengan Persoalan Lingkungan

Perkuliahan PAI dapat menghubungkan nilai keislaman dengan persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat. Nilai khalifah dan amanah mengingatkan manusia akan tanggung jawab merawat bumi. Prinsip mizan mengajarkan pentingnya keseimbangan, sedangkan larangan berbuat fasad mendorong manusia menghindari tindakan yang merusak. Alam pun dapat dipahami sebagai ayat kauniyah, tanda kebesaran Allah yang dapat dipelajari dan dijaga.

Nilai-nilai itu dapat dipelajari melalui pengalaman langsung. Mahasiswa dapat mengunjungi kawasan Citatah, berdialog dengan warga dan FP2KC, lalu menghubungkan pengamatan lapangan dengan materi perkuliahan. Dengan demikian, persoalan karst menjadi konteks nyata untuk memahami tanggung jawab ekologis.

Pembelajaran dapat dirancang sebagai rangkaian kegiatan. Mahasiswa mempelajari dasar geologi karst dan nilai-nilai PAI di kelas, mengamati kawasan serta berdialog dengan masyarakat di lapangan, lalu bekerja bersama mitra untuk menyusun luaran yang bermanfaat. Karyanya dapat berupa materi edukasi geowisata, konten untuk forkarst.org dan media sosial FP2KC, atau dokumentasi pengetahuan warga tentang karst dan sumber air.

FP2KC dan warga dapat membantu menentukan kebutuhan serta memeriksa kesesuaian konten yang dibuat. Penilaian pembelajaran dapat mempertimbangkan pemahaman mahasiswa dan manfaat karya tersebut bagi mitra. Kampus memberi dukungan pembelajaran, riset, dan teknologi; masyarakat membawa pengalaman serta pengetahuan tentang kawasan.

Pendidikan dapat memperkuat pelestarian ketika berjalan bersama kebijakan tata ruang, pengawasan, dan dukungan bagi kehidupan warga. Perkuliahan PAI berperan dengan menghubungkan nilai keislaman, pengetahuan lingkungan, dan tindakan nyata.

Merawat Karst Citatah memerlukan keterlibatan warga, komunitas, kampus, pemerintah, dan pelaku usaha. Bagi umat Islam, ikhtiar ini dapat menjadi wujud tanggung jawab yang bernilai ibadah. Saat karst menjadi ruang belajar, mahasiswa dapat melihat amanah menjaga bumi melalui mata air, bentang alam, dan kerja bersama masyarakat.***

 

Komentar