Menu

Mode Gelap

Diskursus · 26 Mar 2022 10:12 WIB ·

Makna Niat Gubernur Jabar Mengujikan 1.000 Wartawan

 https://24hdansuneredaction.com/ Perbesar

https://24hdansuneredaction.com/

Widodo Atmowiyoto | Dewan Redaksi TUGUBANDUNG.ID

PUNCAK peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2022 tingkat Jabar Rabu malam (23/3/2022) ini antara lain ditandai dua acara sangat penting. Pertama, Gubernur Jawa Barat Ridwal Kamil akan menyampaikan orasi jurnalistik. Dengan orasi itu Kang Emil akan meyampaikan pandangannya tentang dunia pers, peran pers di era kekinian, dan pembangunan Jawa Barat.

Kedua, Gubernur secara resmi meluncurkan program Uji Kompetensi Wartawan (UKW) bagi 1.000 wartawan Jabar. Peluncuran program ini tentu saja sebagai penegasan dari pernyataan sebelumnya dalam berbagai kesempatan. Boleh dipastikan ada korelasi penting antara orasi jurnalistik Gubernur itu dengan keinginan terwujudnya kompetensi atau keahlian para wartawan Jabar.

Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran Gubenur Emil selama ini menyaksikan kinerja para wartawan Jabar khususnya dan media massa di daerah ini pada umumnya. Mungkin saja Kang Emil sudah merasa puas atau sangat puas. Atau sebaliknya kurang puas, sangat kurang puas atau kecewa.

Terlepas dari tingkat kepuasan Gubernur itu, Kang Emil sebagai orang nomor satu di Jabar memang berkepentingan untuk mewujudkan visi dan misinya yakni menjadikan Jabar Juara. Prestasi sebagai juara itu bukan hanya dalam konteks perlombaan sesaat, tetapi minimal dalam periode kepemimpinannya bersama wakil gubernur dan untuk semua sektor kehidupan masyarakat. Ujungnya adalah terwujudnya masyarakat yang sejahtera lahir dan batin. Merasakan kemakmuran dan keadilan.

Merangkul semua potensi

Sejak menjabat Gubernur Jabar sekitar empat tahun lalu Kang Emil  mengusung Visi “Terwujudnya Jawa Barat Juara Lahir Batin dengan Inovasi dan Kolaborasi”. Visi itu dijabarkan dalam lima misi dan sembilan program unggulan. Kolaborasi dan Inovasi itu merupakan kunci Jabar juara lahir batin, sebagai provinsi termaju. Itu semua tidak akan terwujud tanpa kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas semua pihak.

Dalam apel besar peringatan Hari Jadi Jabar ke-74 di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, 19 Agustus 2019, Gubernur menjelaskan untuk mewujudkan visi tersebut mesti berpegang pada model kerja sama penthahelix. “Kami sangat terbuka untuk upaya-upaya kolaboratif yang melibatkan akademisi, pebisnis, komunitas, pemerintah pusat/kabupaten/kota, dan media dalam pembangunan Jawa Barat,” ungkap Gubernur seperti banyak dikutip media massa saat itu.

Gubernur Ridwan Kamil jelas-jelas menyebutkan media dalam pidatonya tersebut. Bisa saja media yang dimaksudkannya adalah media massa yang mengacu pada UU No. 40 Tahun 1999 tentang pers atau media sosial (medsos) yang mengacu pada undang-undang yang lain. Dalam konteks komitmen Gubernur untuk memberi sambutan pada setiap peringatan HPN, apalagi dalam peringatan HPN 2022 tingkat Jabar kali ini Kang Emil menyampaikan orasi jurnalistik, maka menjadi lebih jelas bahwa yang dimaksud adalah media massa.

Komitmen Gubernur itu menjadi lebih jelas lagi ketika mencanangkan program UKW bagi 1.000 wartawan di Jabar. Hanya saja belum jelas apakah para wartawan itu hanya yang tergabung dalam organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jabar atau juga meliputi organisasi wartawan lain yang juga menjadi konstituen Dewan Pers.

Namun, yang terpenting dan lebih utama, bahwa untuk mewujudkan posisi Jabar Juara itu harus didukung oleh semua potensi yang ada dalam penthahelix itu, salah satunya profesi wartawan. Dengan memfasilitasi penyelenggaraan UKW, tentu saja Kang Emil ingin agar para wartawan –terutama anggota PWI Jabar—mencapai predikat kompeten. Pada awalnya meraih kompetensi melalui uji kompetensi yang meliputi sepuluh mata uji untuk jenjang muda dan madya serta sembilan mata uji untuk jenjang wartawan utama. Selanjutnya dan idealnya para wartawan di Jabar mampu menjadi wartawan yang sungguh-sungguh kompeten, berkualitas, profesional, berwawasan, dan beretika.

Melalui kompetensinya, para wartawan dapat menyampaikan informasi, pemberitaan, tulisan, opini, baik yang dikemas dalam informasi normatif maupun dalam konteks kritik dan kontrol sosial yang santun, tajam dan terpercaya. Pers atau media massa dapat menyajikan konten atau sajiannya dalam beragam cara, tetapi hendaknya tetap mengacu pada Kode Etik Jurnalistik, (KEJ), Pedoman Pemberitaan Media Siber (PPMS), Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA), dan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers serta undang-undang atau peraturan terkait pers.

Dalam menjalankan profesinya para wartawan memang umumnya tahu banyak hal tetapi serba-sedikit. Setelah menjadi spesialis pun lazimnya wartawan tidak akan mampu menjadi spesialis untuk banyak bidang liputan. Apalagi jika seorang wartawan memilih menjadi super-spesialis, maka yang bersangkutan juga tidak akan mampu menjadi super-spesialis dalam banyak bidang liputan.

Oleh karena itu dalam konteks penthahelix tersebut, wartawan atau pers harus menghargai eksistensi para akademisi atau para pakar di kalangan perguruan tinggi maupun lembaga penelitian milik pemerintah atau swasta. Juga para ahli/pelaku bisnis baik di kalangan dunia usaha swasta maupun badan usaha milik negara/daerah. Saat menghadapi beragam isu atau kasus pemberitaan yang memerlukan keseimbangan dan pendalaman, sudah selayaknya wartawan meminta pendapat kepada para ahli atau kompeten di bidangnya.

Gubernur dan para kepala daerah serta jajaran birokrasi pasti menyadari bahwa tidak mungkin mereka memantau sendiri secara rinci jalannya beragam program (pembangunan) yang telah dicanangkan. Mereka perlu dibantu oleh hasil kerja para wartawan melalui medianya masing-masing. Apalagi Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia.

Oleh karena itu, layak diberi penghargaan kepada Gubernur Ridwan Kamil yang pada malam puncak peringatan HPN 2022 tingkat Jabar itu akan menyampaikan orasi jurnalistik yang menjadi pembeda dengan peringatan-peringatan HPN sebelumnya.

“Pak Gubernur akan menyampaikan tentang pengalamannya bergaul dengan pers selama menjadi kepala daerah. Tak hanya itu, kita juga mendengarkan pandangan-pandangannya tentang Indonesia ke depan,” kata Ketua PWI Provinsi Jabar, Hilman Hidayat, dalam siaran persnya, Senin (21/3/2022). (Widodo Asmowiyoto/Dewan Redaksi Tugubandung.id)***

 

 

 

 

 

 

Artikel ini telah dibaca 59 kali

Baca Lainnya

Mengkaji Ulang Pilpres dan Pilkada oleh Legislatif

16 Februari 2024 - 20:04 WIB

Mengungkap Terasi Udang Warisan Kuliner Indonesia

9 Februari 2024 - 11:00 WIB

Pemilu 2024 dan PWI

27 Januari 2024 - 23:52 WIB

Komunikasi Gimik Politik

24 Januari 2024 - 06:23 WIB

Pilpres 2024, Mungkinkah Satu Putaran?

14 Januari 2024 - 09:42 WIB

Lampu Merah Sangat Bahaya Buat Shin Tae-yong

10 Januari 2024 - 20:09 WIB

Trending di Diskursus