Menu

Mode Gelap

Diskursus · 24 Jul 2022 23:29 WIB ·

HAN, Permainan Tradisional, dan Kejujuran

 Congklak, salah-satu permainan tradisional anak Indonesia. (Sumber foto: m.kaskus.co.id).* Perbesar

Congklak, salah-satu permainan tradisional anak Indonesia. (Sumber foto: m.kaskus.co.id).*

Oleh Widodo Asmowiyoto*

BERAGAM acara dan cara dilaksanakaan untuk memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 23 Juli 2022 ini. Dari yang serius hingga yang ceria. Namun semuanya bernuansa anak-anak. Mungkin masing-masing daerah memilih dan mengemasnya dengan versi yang berbeda. Ada warna kedaerahan di sana, meskipun secara nasional ada panduan dari pemerintah pusat. Presiden Joko Widodo sendiri sempat mengajak anak-anak bermain sulap.

Widodo Asmowiyoto.*

Di Banyuwangi, misalnya, HAN kali ini juga ditandai dengan mengadakan Festival Permainan Tradisional. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melibatkan 750 pelajar SD dalam permainan tersebut. Berlangsung di Taman Blambangan, festival dimaksud menghadirkan 25 jenis permainan tradisional.

Permainan tradisional itu antara lain berupa egrang, congklak, bakiak, hingga tembak-tembakan atau dalam bahasa Jawa bedhil-bedhilan. Selain bermain, para pelajar juga bisa membuat mainan mereka sendiri. Misalnya membuat mobil-mobilan dengan bahan kayu, bambu, dan sabut kelapa. (detiktravel, Minggu, 24/7/2022)

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, juga ikut menyemarakkan kegiatan ini dengan bermain bersama anak-anak. Ia bermain bakiak dan balapan melawan para pelajar. Bupati merasa senang sekali dengan permainan yang menguji ketangkasan dan kekompakan itu, sambil mengingat masa kecil dulu.

Yang menarik, kemeriahan dan keceriaan para pelajar peserta festival tersebut menarik perhatian wisatawan mancanegara. Salah seorang turis asal Amerika Serikat pun mencoba untuk balapan bakiak bersama anak-anak.

Pemkab Banyuwangi boleh dibilang jeli untuk menyelenggarakan Festival Permainan Tradisional itu. Karena itu, acara yang awalnya diselenggarakan tahun 2017 itu kemudian diulangi lagi menjadi festival rutin setiap tahun memperingati HAN. Tujuannya untuk memicu kreativitas anak. Selain itu, menurut Bupati Ipuk, permainan tradisional itu juga dapat mengajarkan banyak hal positif.

Indonesia kaya permainan tradisional

Mungkin saja acara serupa –maksudnya mengangkat kembali permainan tradisional– juga diselenggarakan oleh daerah lain di Indonesia ini untuk merayakan HAN 2022. Apabila langkah Pemkab Banyuwangi –dan mungkin juga daerah lain—itu dinilai banyak kelebihannnya, maka hendaknya pemerintah pusat jangan ragu untuk mendorong setiap daerah untuk memprioritaskannya.

Apalagi jika hal tersebut dijadikan agenda resmi peringatan HAN setiap tahun, dapat menarik perhatian wisatawan mancanegara. Tentu saja perlu kerja sama atau koordinasi antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dengan demikian bagi wisatawan asing, peringatan HAN di Indonesia dapat mereka jadikan sebagai tujuan piknik. Hal ini sangat menguntungkan Indonesia dalam meraih peningkatan devisa negara. Sebagai konsekuensinya –jika sudah menjadi agenda resmi tahunan– para pelajar dan anak-anak tertantang untuk meningkatkan kreativitasnya.

Mengapa harus berpikir sejauh itu? Perlu diingat bahwa Indonesia yang wilayahnya sangat luas dan dihuni oleh lebih dari 500 suku-bangsa ini, mempunyai lebih dari 750 macam permainan tradisional. Istilah “lebih dari 750” itu mungkin saja bisa lebih dari 1.000. Lalu dari mana angka sebanyak itu? Harap maklum, kalau saja setiap suku mempunyai dua jenis permainan maka jumlahnya sudah 1.500 jenis permainan.

Padahal, Provinsi Jawa Barat saja dewasa ini memiliki lebih dari sepuluh jenis permainan. Yakni permainan: congkak, oray-orayan, patingtung, galah bandung, beklen (bekel), ketepel, anjang-anjangan, mamanukan, bebeletokan, encrak, panggal atau gasing calung, gatrik, ngadu muncang, dogdog lojor.

Mengajarkan kejujuran

Menurut Buku “Permainan Tradisional Indonesia” terbitan Direktorat Permuseuman, Ditjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998, salah satu keunikan permainan tradisional adalah mencerminkan kemampuan dan kreativitas masyarakat pada suatu wilayah dalam memanfaatkan kondisi dan pemberian alam sekitar tempat tinggalnya.

Kondisi alam tersebut misalnya gunung atau perbukitan, sungai dan sebagainya, sedangkan pemberian alam misalnya batu-batuan, kayu, rotan, buah-buahan, kerang, dan lain-lain. Semua itu dapat dimanfaatkan untuk menciptakan berbagai jenis permainan yang dapat memberi kesenangan dan kepuasan batin. Lebih dari itu, bahkan lebih banyak lagi jenis permainan yang diciptakan tanpa menggunakan bahan atau peralatan. Hal itu menunjukkan bahwa kreativitas masyarakat di daerah-daerah di Indonesia sangat tinggi.

Menurut Direktorat Permuseuman, ada di antara jenis permainan tradisonal itu yang terus berkembang sampai sekarang, bahkan menjadi permainan yang dipertandingkan sampai tingkat dunia. Lebih dari itu, banyak jenis permainan yang telah ada sejak dulu dan tidak menggunakan bahan atau peralatan sampai sekarang masih dilakukan dan dipertandingkan di era modern.

Hal yang menonjol ditemui dalam permainan tradisional adalah sifat kejujuran atau sportivitas dan sikap memegang teguh aturan atau kebiasaan yang berlaku. Dalam pelaksanaan permainan tradisional hampir tidak pernah ditemukan sikap protes, melanggar aturan yang disepakati dan dapat menimbulkan sakit hati pihak-pihak yang bermain.

Permainan tradisional dilakukan setiap saat namun bersifat tetap misalnya pagi, siang, sore atau malam hari sesuai kebiasaan. Sifat permainan itu sebagai pengisi waktu setelah bekerja yang pokok. Selain pengisi waktu, permainan tradisional juga memberikan kesenangan, kepuasan atau hiburan. Unsur prestasi pribadi agak kurang.

Penggunaan waktu biasanya disesuaikan dengan sifat permainan. Sifat permainan itu antara lain permainan yang memerlukan kekuatan fisik dan penerangan cukup adalah cocok dilakukan di pagi atau sore hari. Permainan yang tidak memerlukan kekuatan fisik dapat dilakukan setiap saat, bahkan di malam hari. Bahkan ada permainan yang bersifat musiman, karena berhubungan sesuatu hal yang berkaitan dengan kepercayaan dan lain-lain.

Permainan tradisonal versus modern

Sesuai dengan perkembangan zaman, permainan anak-anak pun kini semakin berkembang. Ketika anak-anak tempo doeloe bermain petak umpet atau layang-layang, kini anak-anak zaman now sudah memegang smartphone dengan segala jenis permainan di dalamnya, tanpa harus keluar rumah.

Apakah permainan modern berdampak buruk dan permainan tradisional berdampak positif pada perkembangan anak? Ke dua permainan ini mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Terutama bagi anak-anak, segala jenis permainan tentu harus tetap dalam pengawasan orang tua.

Zulfikar Sy dalam merahputih.com (1/6/2019) menyajikan tiga perbandingan permainan tradisional dengan game modern populer: congklak vs playstation, petak umpet vs point blank, layang-layang vs game mobile.

Congklak merupakan permainan rumahan yang dimainkan oleh dua orang. Ditemukan di hampir semua daerah di Indonesia, permainan ini menggunakan papan dan biji congklak. Permainannya cukup sederhana dengan membagi semua batu pada lubang congklak. Masing-masing punya satu lubang utama di ujung papan. Lubang tersebut harus diisi penuh dan yang terbanyak dialah pemenangnya.

PlayStation (PS) merupakan perusahaan game terkenal di dunia. Permainan modern yang popular ini dapat dimainkan oleh dua orang. PlayStation pertama kali dimunculkan pada pertengahan tahun 90-an. Game PS sangat beragam mulai di antaranya petualangan, racing game, dan game sepakbola.

Petak umpet sangat popular di kalangan anak-anak desa sebagai permainan kelompok. Petak umpet sangat beragam juga jenisnya. Paling umum permainan dimulai dengan satu orang penjaga dan para pemain lainnya bersembunyi. Tugas penjaga mencari pemain lain hingga ditemukan semuanya.

Point blank juga dimainkan secara kelompok. Game online ini tipe permainan komputer tembak-menembak (FPS) popular di kalangan anak-anak terutama di perkotaan. Point Blank ini permainan yang mengikuti perseteruan antara Free Rebels dan Counter Terrorist Force (CT-Force). Banyak game online sejenis dengan Point Blank. Sebagian beralih ke game bergenre battle royale seperti PlayerUnknown’s Battlegrounds.

Layang-layang merupakan permainan tradisional yang tak ada matinya. Tak hanya di pedesaan, permainan layang-layang juga masih dimainkan anak-anak di daerah perkotaan. Selain layangan adu yang cukup popular, anak-anak juga membuat  layangan hias. Festival layang-layang banyak digelar dalam skala besar juga menjadi penyebab permainan ini tak pernah sepi peminat dan dimainkan kalangan dewasa.

Selain game konsol, saat ini sangat popular game mobile (smartphone). Game mobile sangat banyak sekali pilihannya, dimulai dari game sederhana yang dimainkan sendiri, hingga game yang memerlukan skill rumit dan dimainkan multiplayer. Kelebihan game mobile dibanding konsol karena dinilai lebih praktis.

Pada akhirnya kita berharap permainan tradisional yang merupakan kekayaan budaya Indonesia itu tidak hilang gegara era digital. Syukur jika terjadi sinergi atau saling melengkapi. Jangan sampai anak-anak Indonesia kecanduan game yang membuat mereka malas belajar, berdoa dan bekerja.

Juga harap diingat, para wisatawan asing mau berdatangan ke negara-negara berkembang atau dunia ketiga karena ingin menyaksikan keaslian budaya tradisional setempat. Ke depan, ada baiknya momentum perayaan HAN dimeriahkan dengan festival permainan tradisional itu.***

*Penulis Dewan Redaksi TuguBandung.id

Artikel ini telah dibaca 203 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Sekjen PA GMNI Abdy Yuhana Sebut Konsepsi Bernegara Oase Bagi Indonesia Raya

1 Juni 2024 - 09:34 WIB

Prabowo Presiden: Selamat Datang Orde Baru & Selamat Tinggal Reformasi!

6 Mei 2024 - 08:18 WIB

PERLUKAH TEMPO MEMINTA MAAF?

26 Maret 2024 - 21:14 WIB

Mengkaji Ulang Pilpres dan Pilkada oleh Legislatif

16 Februari 2024 - 20:04 WIB

Mengungkap Terasi Udang Warisan Kuliner Indonesia

9 Februari 2024 - 11:00 WIB

Pemilu 2024 dan PWI

27 Januari 2024 - 23:52 WIB

Trending di Diskursus