Menu

Mode Gelap

Diskursus · 16 Agu 2022 07:32 WIB ·

Renungan Kecil HUT Ke-77 Proklamasi Kemerdekaan RI

 Ilustrasi karya Ali Parma.* Perbesar

Ilustrasi karya Ali Parma.*

Oleh Widodo Asmowiyoto*

BARU-BARU ini saya melakukan silaturahim ke rumah bibi di sebuah desa di Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Beliau masih tampak sehat meskipun usianya sudah hampir satu abad. Dalam perbincangan di ruang tamu yang sederhana, tiba-tiba mata saya melihat foto almarhum paman yang tergantung di dinding. Dalam foto itu paman atau adik kandung satu-satunya almarhum ayah itu mengenakan pakaian seragam anggota Legiun Veteran RI (LVRI).

Widodo Asmowiyoto.*

Foto tersebut mengingatkan almarhum ayah yang juga anggota LVRI. Alhamdulillah saya masih menyimpan foto beliau yang sedang mengenakan seragam veteran. Foto itu sengaja saya pajang di ruang tamu –di Bandung– agar anak dan cucu sering melihatnya ketika berkunjung ke rumah. Siapa tahu foto kenangan itu mampu menginspirasi mereka.

Melihat foto paman tersebut ternyata wajahnya mirip wajah ayah saya. Beberapa tahun lalu ketika masih hidup, postur tubuh paman lumayan tinggi juga mirip almarhum ayah. Paman meninggal dunia beberapa tahun lalu saat usianya juga sudah lebih dari 90 tahun. Ayah saya lahir tahun 1918 dan mungkin paman lahir sekitar 1920. Jadi kalau masih hidup, kini ayah saya berumur 104 tahun dan paman beusia 102 tahun.

Terkait peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-77 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 2022 ini, saya masih mengingat beberapa cerita almarhum ayah khususnya tentang perjuangan kemerdekaan. Meskipun jika dibanding para pejuang kemerdekaan yang jauh lebih senior almarhum ayah termasuk yunior, namun isi kisahnya masih relevan. Terpenting mungkin masih bisa dijadikan insiprasi dalam mengarungi kehidupan untuk ikut mengisi kemerdekaan negeri tercinta ini.

Jawaban ayah yang masih saya ingat adalah yang disampaikannya saat saya masih kecil, lebih dari 60 tahun lalu. Saya bertanya mengapa di halaman rumah banyak sekali pecahan genteng sehingga mengganggu anak-anak ketika bermain. Harap maklum, luas pekarangan rumah ayah sekitar 2.000 meter persegi di dekat Jalan Raya Solo-Grobogan dan di atasnya berdiri rumah limasan khas Jawa. Halamannya cukup luas dan di sekitarnya tumbuh bermacam pohon dan tanaman hias. Di halaman yang luas itulah pecahan-pecahan genteng dengan beragam ukuran kecil-kecil berserakan di mana-mana.

Adapun inti jawaban ayah begini, “Rumah bapak dulu dibakar tentara Belanda gegara mereka mengetahui ada Bendera Merah Putih yang bapak simpan di dinding. Mereka juga mengetahui bahwa bapak termasuk orang-orang desa sini yang ikut berjuang melawan tentara penjajah. Begitu para tentara Belanda itu masuk desa kita ini, warga desa termasuk keluarga kita mengungsi ke arah desa lain di arah timur. Jauh dari jalan raya. Waktu itu kamu belum lahir dan kakak-kakakmu masih kecil.”

Menekankan kejujuran

Mungkin karena mempunyai bukti-bukti sebagai pejuang kemerdekaan, kemudian almarhum ayah dan paman menjadi anggota Legiun Veteran RI. Itu pun sudah di era Orde Baru. Uang “tunjangan hidup” sebagai veteran tidak besar, tetapi dapat sedikit membantu kehidupan di masa tua. Hingga akhir hayatnya di usia sekitar 74 tahun ayah saya masih bekerja: bertani, berdagang kecil-kecilan, layaknya hidup sebagai rakyat kecil yang harus berjuang menghidupi diri dan keluarganya. “Bapak dulu tidak mau masuk menjadi tentara,” ujar ayah suatu waktu.

Pengukuhan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Jabar Tahun 2022 di Gedung Sate, Kota Bandung, Minggu (14/8/2022). (Foto: Biro Adpim Jabar).*

Mungkin merasa masih punya darah pejuang, maka terdengar masih ada idealisme saat beliau berbincang dengan sesama warga desa. Isi perbincangan mereka kadang menyangkut politik dan kebijakan pemerintah. Terasa masih ada keberanian ketika suatu saat harus mengadakan perjalanan sangat jauh, sementara sarana angkutan umum belum memadai, yakni ke daerah Kalijati, Subang, Jawa Barat. Hal itu terjadi tahun 1960-an.

Waktu itu saya masih kecil, dan ayah harus membantu seorang famili yang menjadi tentara (TNI AU) dan sedang punya masalah. Belakangan, setelah dewasa dan saya tinggal di Bandung, saya baru menyadari bahwa, “Oh, dulu ayah saya pernah mengadakan perjalanan ke daerah Jawa Barat yang wilayahnya banyak jalan turun naik dan berliku. Wajar jika dalam ceritanya itu ayah pernah mengingatkan sopir angkutan umum agar tidak banyak berbicara saat menyetir apalagi di jalanan berkelok-kelok di pegunungan.”

Cerita lain yang masih saya kenang adalah saat ayah pindah rumah ke kota kecamatan dan membeli kios permanen di pinggiran pasar yang menghadap jalan besar. Rupanya suatu waktu Pak Camat melakukan inspeksi dan tidak berkenan bahkan marah-marah atas kondisi saluran air di depan deretan kios pasar. Singkat cerita sayah saya menjawab begini, “Jangan mentang-mentang jadi penguasa. Anda tidak akan jadi camat kalau tidak ada orang-orang kecil seperti saya yang dulu ikut berjuang memerdekakan negeri ini.”

Prinsip lain yang diwariskan kepada kami anak-anaknya adalah petingnya bersikap jujur dan jangan aji mumpung dalam menjalani kehidupan. Kalau dalam bahasa sekarang mungkin “jangan lakukan korupsi dan jangan bersikap sombong”. Dalam suatu perbincangan di masa Orde Baru, almarhum ayah juga menyayangkan mulai terjadinya tindak korupsi di masa itu. Seandainya saat ini ayah saya masih hidup dan menyaksikan maraknya korupsi, entah apa yang akan dikatakannya.

Mengenang jasa para pahlawan

Saat memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan setiap tahun, layak jika semua pihak mengenang kembali jasa-jasa para pahlawan dan bukan hanya sebagai formalitas. Para pahlawan kusuma bangsa itu telah mengorbankan banyak darah dan nyawa, baik yang semasa hidupnya sebagai rakyat biasa, cerdik pandai, bangsawan, atau yang sedang memegang kekuasaan.

Ratusan tahun bangsa Indonesia dijajah oleh bangsa asing. Penjajah telah membuat bangsa ini hidup melarat, bodoh, dan sengsara. Para pejuang dengan segala upaya telah berusaha keras mengusir penjajah agar Indonesia merdeka. Setelah mencapai kemerdekaan, giliran tugas generasi penerus untuk mencerdaskan rakyat dan mensejahterakannya melalui prinsip adil dan makmur.

Generasi penerus harus menyadari bahwa penjajahan bisa terulang lagi dalam bentuk lain. Lebih berbahaya lagi jika penjajahan baru itu –apa pun bentuknya—mampu menjadikan rakyat Indonesia tetap melarat, bodoh, dan tersisih dari percaturan global.

Bangsa Indonesia yang majemuk ini harus mampu mengelola perbedaan dengan baik dan bijaksana. Dengan demikian Pancasila tetap menjadi Dasar Negara dan Bhineka Tunggal Ika bukan tinggal slogan. Wilayah Indonesia yang sangat luas dan kaya sumber daya alam ini harus tetap menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bagi generasi muda masa kini, akan lebih baik jika mampu sering mengunjungi daerah-daerah  lain yang bukan tanah kelahirannya. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah layak menyediakan anggaran untuk para pelajar dan mahasiswanya yang berprestasi untuk melakukan silaturahim, studi banding, ke daerah-daerah lain. Dengan demikian program pertukaran pelajar bukan dikonotasikan hanya untuk pergi ke mancanegara.

Logo HUT Ke-77 Republik Indonesia dengan slogan “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat”. (Sumber: en.wikipedia.org).*

Ratusan suku bangsa yang mendiami negara ini harus saling mengenal lebih baik lagi. Beda antara mengenal tanah air yang luas ini hanya melalui bahan bacaan atau sarana digital dengan cara berkunjung langsung. Perjalanan darat atau penerbangan yang berjam-jam lamanya akan mampu menyadarkan kita bahwa keberadaan wilayah Indonesia yang sangat luas ini patut disyukuri.

Suatu saat saya pernah bertugas ke kota kecil Kotamobago yang terletak antara Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara dan Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Perjalanan dengan mobil dari Manado ke Kotamobago perlu waktu hampir 5 jam. Di situ saya bertemu rekan dari Kota Makassar. Saya pun tergelitik untuk bertanya ke teman dari Makassar itu, butuh waktu berapa lama perjalanan darat dari Makassar ke Manado. Dengan enteng dia menjawab, “Ya perlu waktu tiga hari lah.” Namun untuk ke Manado saat itu dia naik pesawat.

Ya, itu hanya sekadar contoh betapa jauhnya antarkota yang lokasinya masih di pulau yang sama. Belum lagi kalau misalnya kita ingin menjelajah Pulau Papua yang dulu disebut Irian Jaya. Penerbangan langsung Jakarta-Jayapura saja perlu waktu 5 jam lebih. Belum lagi kalau harus transit. Itu hampir sama dengan penerbangan Jakarta-Tokyo, Jepang. Karena itu ada rencana pemerintah pusat untuk memekarkan Papua dan Papua Barat menjadi beberapa provinsi. Tujuannya agar Papua lebih cepat mengalami kemajuan dari keadaannya sekarang. Semoga! ***

*Penulis Dewan Redaksi TuguBandung.id

Artikel ini telah dibaca 280 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Sekjen PA GMNI Abdy Yuhana Sebut Konsepsi Bernegara Oase Bagi Indonesia Raya

1 Juni 2024 - 09:34 WIB

Prabowo Presiden: Selamat Datang Orde Baru & Selamat Tinggal Reformasi!

6 Mei 2024 - 08:18 WIB

PERLUKAH TEMPO MEMINTA MAAF?

26 Maret 2024 - 21:14 WIB

Mengkaji Ulang Pilpres dan Pilkada oleh Legislatif

16 Februari 2024 - 20:04 WIB

Mengungkap Terasi Udang Warisan Kuliner Indonesia

9 Februari 2024 - 11:00 WIB

Pemilu 2024 dan PWI

27 Januari 2024 - 23:52 WIB

Trending di Diskursus