Menu

Mode Gelap

Diskursus · 24 Jun 2022 06:14 WIB ·

Perjalanan Panjang Bidan, Pengabdi Kemanusiaan

 Ilustrasi (Freepik).* Perbesar

Ilustrasi (Freepik).*

Oleh Widodo Asmowiyoto*

MUNGKIN banyak di antara kita lahir atas bantuan bidan. Tentu saja saat para ibu tengah melahirkan kita secara susah payah. Mungkin saja generasi tua tempo dulu banyak yang proses kelahirannya dibantu oleh para dukun bayi atau dukun anak.

Namun sesuai dengan perkembangan zaman dan ilmu kesehatan, keterampilan dukun berangsur-angsur digantikan oleh profesi bidan. Bahkan pada zaman yang ditandai dengan kemajuan ilmu kedokteran dewasa ini, beberapa proses kelahiran harus ditangani langsung oleh dokter.

Widodo Asmowiyoto.*

Profesi bidan yang mulia itu sebetulnya dekat dengan kehidupan masyarakat. Namun seringkali kita lupakan karena kesibukan masing-masing. Kecuali pasangan muda yang sedang menanti kehadiran buah hatinya.

Atau mungkin mereka para pasangan muda itu juga lupa bahwa tanggal 24 Juni ini adalah Hari Bidan Nasional (HBN). Pada tanggal 24 Juni pula diperingati Hari Ulang Tahun IBI (Ikatan Bidan Indonesia). Sedangkan Hari Bidan Internasional jatuh pada 5 Mei lalu.

Melansir dari laman resmi IBI (detiknews, Rabu, 23/6/2022), HBN bermula dari ide para bidan senior di Jakarta untuk menggelar Konferensi Bidan Pertama di Jakarta 24 Juni 1951. Adapun tujuan pendirian IBI yang dirumuskan dalam konferensi 71 tahun lalu itu, yakni: a. Menggalang persatuan dan persaudaraan antarsesama bidan serta kaum wanita pada umumnya, dalam rangka memperkokoh persatuan bangsa; b. Membina pengetahuan dan keterampilan anggota dalam profesi kebidanan, khususnya dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta kesejahteraan keluarga; c. Membantu pemerintah dalam pembangunan nasional, terutama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat; d. Meningkatkan martabat dan kedudukan bidan dalam masyarakat.

Dalam konferensi tersebut, ada sejumlah hal yang dihasilkan yakni: a. Sepakat membentuk organisasi IBI, sebagai satu-satunya organisasi yang merupakan wadah persatuan dan kesatuan Bidan Indonesia; b. Pengurus IBI berkedudukan di Jakarta; c. Di daerah-daerah dibentuk cabang dan ranting. Dengan demikian organisasi/perkumpulan yang bersifat lokal yang ada sebelum konferensi ini semuanya membaurkan diri dan selanjutnya bidan-bidan yang berada di daerah-daerah menjadi anggota cabang-cabang dan ranting dari IBI; d. Musyawarah menetapkan Pengurus Besar (saat itu) yaitu Ketua I Ibu Fatimah Muin, Ketua II Ibu Sukarno, Penulis I Ibu Selo Soemardjan, Penulis II Ibu Rupingatun, Bendahara Ibu Salikun.

Seluruh anggota IBI terdiri atas wanita bergabung dengan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pada 1951. Kemudian pada 15 Oktober 1954, IBI menjadi organisasi berbadan hukum dan terdaftar dalam Lembaran Negara No. J.A. 5/92/7 Tahun 1954 oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI. Pada 1956, IBI menjadi bagian dari ICM (International Confederation of Midwives). Saat ini IBI mempunyai 249 cabang di seluruh provinsi di Indonesia. Di tingkat internasional, IBI selalu aktif mengikuti berbagai kegiatan terutama Kongres ICM maupun Kongres ICM Regional Asia Pasifik (Aspac).

Tidak hanya sebagai organisasi profesi, IBI juga terdaftar sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Hingga sekarang ini IBI telah mempunyai setidaknya 338.864 anggota yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan 34 Pengurus Daerah di tingkat provinsi. (tirto.id, Rabu, 24/6/2020)

Kompetensi profesi bidan

Hari Bidan Nasional 2022 ini bertemakan “Perjalanan Panjang Profesi Bidan Mewujudkan Generasi Unggul Menuju Indonesia Maju”. Untuk mewujudkan generasi unggul itu, bagaimana dengan syarat kompetensi profesi bidan itu sendiri?

Definisi bidan menurut ICM atau Bidan Sedunia pada tahun 2021 adalah tenaga medis yang telah mengikuti program pendidikan bidan yang diakui oleh negara serta telah lulus dan menenuhi syarat kualifikasi untuk didaftarkan (register) atau memiliki izin yang sah (lisensi) untuk melakukan praktik bidan. (Ratih Mutiara, KeduToday, 23/6/2022)

Sedangkan definisi bidan menurut IBI pada tahun 2016, seorang bidan adalah perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang diakui oleh pemerintah dan organisasi profesi di wilayah negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi, dan secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik bidan.

Permenkes No. 28/2017 menyebutkan bahwa bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang telah teregistrasi dengan ketentuan perundang-undangan. Berdasarkan definisi itu, maka jelas bahwa bidan harus seorang perempuan.

Selain itu, untuk bisa praktik secara mandiri ataupun di klinik kesehatan lain, bidan harus mengajukan lisensi atau Surat Tanda Registrasi (STR). STR diberikan oleh pemerintah sebagai bukti tertulis bahwa tenaga kesehatan yang melakukan layanan kesehatan memiliki sertifikasi kompetensi.

Dikutip dari situas ibi.or.id, Bidan Delima adalah sistem standarisasi kualtias pelayanan bidan praktik swasta dengan penekanan pada kegiatan monitoring dan evaluasi serta kegiatan pembinaan dan pelatihan yang rutin dan berkesinambungan.

Peran bidan dalam bidang kesehatan juga tidak kalah penting dengan tenaga medis lainnya. Tugas bidan menyangkut kesehatan ibu saat hamil, melahirkan dan menyusui harus selalu terpantau dengan baik. Pendampingan juga meliputi kesehatan mental dan fisik agar ibu tetap tenang menjalani masa nifas hingga menyusui. Bidan juga memantau perkembangan kesehatan bayi dan anak agar terpenuhi ASI eksklusif 6 bulan. Dapat melakukan pertolongan ibu hamil untuk melahirkan selama persalinan proses normal. Namun, jika ada komplikasi dan risiko, maka penanganan persalinan wajib dirujuk kepada dokter kandungan.

Masyarakat juga perlu paham tentang perbedaan bidan dan dokter kandungan. Adapun dokter kandungan atau biasa disebut dengan Ob-Gyn kerap membantu dalam menangani kehamilan wanita, sama seperti bidan. Namun, apa perbedaan keduanya? Berikut adalah penjelasannya seperti dilansir Parents.

“Bidan adalah ahli dalam persalinan normal,” ungkap M. Christina Johnson, CNM, direktur praktik profesional dan kebijakan kesehatan di ACNM Silver Spring. Ia juga mengungkapkan bahwa bidan sangat identik dengan pekerjaan yang berteknologi rendah dan mengandalkan lebih banyak sentuhan.

Mayoritas bidan hanya sekolah dengan gelar sarjana, dan bekerja sebagai bidan. Selanjutnya, mereka akan kembali sekolah selama 2-3 tahun untuk meraih gelar master. Sedangkan Ob-Gyn dan profesor obstetrik dan ginekologi di Universitas Iowa, Jennifer Niebyl, MD, mengatakan bahwa Ob-Gyn merupakan profesi yang memiliki pekerjaan yang lebih rumit dibandingkan bidan. Profesi Ob-Gyn terlatih untuk mengelola proses kelahiran yang berisiko tinggi, dan dapat melakukan operasi. Contohnya, bidan tidak dapat melakukan operasi C-section (operasi Caesar), dan tidak dipebolehkan untuk menggunakan alat bantu kelahiran berbentuk seperti tang dan vacuum. Sebaliknya, para dokter Ob-Geyn boleh menggunakannya.

“100 Tahun Kemajuan”

Sementara itu, menandai Hari Bidan Internasional 2022 yang jatuh tanggal 5 Mei lalu, ICM mengundang komunitas bidan global untuk mengikuti pesta virtual #IDM2022 untuk merayakan ulang tahun ke-100 ICM dan pencapaian asosiasi ini di seluruh dunia. ICM mewakili lebih dari 1 juta bidan di seluruh dunia. Program-program yang dijalankan ICM bekerja sama dengan United Nations Population Fund (UNPFA/Dana Penduduk PBB). (Dipna Videlia Putsanra, tirto.id, Rabu, 4/5/2021)

Tahun 2022 ini, ICM yang bermula sebagai Persatuan Bidan Internasional di Belgia satu abad lalu, menetapkan tema peringatan “100 Tahun Kemajuan”. ICM telah mendukung pekerjaan bidan di lebih dari 120 negara. Mereka melakukan berbagai tugas, dari membantu wanita melahirkan dengan kondisi tidak kondusif, bekerja di tengah banjir di rumah sakit Bangladesh, bertugas di bawah jembatan pasca-badai Honduras hingga di antara reruntuhan di Haiti yang dilanda gempa.

Bidan telah mempertaruhkan nyawa mereka membantu ibu hamil selama pandemi Covid-19. Para bidan mengubah rumah mereka di Yaman menjadi bangsal bersalin darurat, menyediakan perawatan bagi pengungsi dan migran, dan bekerja di bawah ancaman kelompok militan.

Selain memberikan pelayanan antenatal, intrapartum dan post-natal, mereka menyediakan layanan keluarga berencana dan pemeriksaan kanker payudara dan leher rahim. Mereka juga dapat melakukan perawatan obstetrik darurat dasar bila diperlukan.

Dengan penyuluhan dan informasi, mereka dapat membantu mencegah mutilasi alat kelamin perempuan, mendukung penyintas kekerasan berbasis gender dan memberikan pelayanan kesehatan reproduksi kepada remaja.

UNFPA, ICM, dan Laporan Kebidanan Dunia 2021 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan, jika pemerintah berinvestasi dalam profesi bidan, 4,3 juta jiwa dapat diselamatkan setiap tahun pada tahun 2035. Jumlah itu mencakup kematian ibu, kematian bayi baru lahir, dan kelahiran mati.

Kelompok yang sebagian besar terdiri dari profesional perawatan kesehatan wanita ini dapat memenuhi 90 persen kebutuhan kesehatan reproduksi dan mencegah 65 persen kematian ibu dan bayi baru lahir. Namun, dunia menghadapi kekurangan 900.000 bidan secara global.

Kontribusi mereka terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 untuk mengurangi kematian ibu dan memastikan akses universal tidak dapat diremehkan. Bidan telah memperkuat sistem perawatan kesehatan primer selama beberapa dekade dan akan memainkan peran penting dalam kesehatan dan kesejahteraan wanita, anak-anak dan remaja dalam beberapa dekade mendatang.***

*Penulis Dewan Redaksi TuguBandung.id

Artikel ini telah dibaca 187 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mengkaji Ulang Pilpres dan Pilkada oleh Legislatif

16 Februari 2024 - 20:04 WIB

Mengungkap Terasi Udang Warisan Kuliner Indonesia

9 Februari 2024 - 11:00 WIB

Pemilu 2024 dan PWI

27 Januari 2024 - 23:52 WIB

Komunikasi Gimik Politik

24 Januari 2024 - 06:23 WIB

Pilpres 2024, Mungkinkah Satu Putaran?

14 Januari 2024 - 09:42 WIB

Lampu Merah Sangat Bahaya Buat Shin Tae-yong

10 Januari 2024 - 20:09 WIB

Trending di Diskursus