Menu

Mode Gelap

Diskursus · 17 Nov 2023 09:10 WIB ·

Mistik dan Politik

 SUMBER: STUART HAMPTOM (INNERSELF.COM) Perbesar

SUMBER: STUART HAMPTOM (INNERSELF.COM)

Oleh ADE PRIANGANI

Dosen FISIP Universitas Pasundan, Pengurus Paguyuban Pasundan Cabang Kota Bandung

MENJELANG regulasi elite (Pemilu) di Indonesia, yang senantiasa menarik adalah tentang mistik dan politik. Hampir setiap kali Pemilu, tentang siapa yang akan menjadi Presiden, senatiasa dikaitkan dengan ramalan Jayabaya. Ramalan Jayabaya atau sering disebut Jangka Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kediri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yang dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal usul utama serat ramalan Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yang digubah oleh Sunan Prapen dari masa Giri Kedaton. Sekalipun banyak keraguan keasliannya, tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yang menuliskan bahwa Jayabaya yang membuat ramalan-ramalan tersebut.

Salah satu yang terkenal dan dikenali oleh masyarakat Indonesia adalah negeri ini akan mencapai puncaknya apabila negeri ini sudah di pimpin oleh NOTONOGORO (mungkin tafsiran sederhananya adalah yang mampu menata negara. Untuk mencapai tahapan tersebut akan melalui 5 (lima) rangkaian kepemimpinan, yaitu NO, TO, NO, GO, RO. Untuk “NO” yang pertama, masyarakat mengidentikan dengan Soekar-NO, sementara untuk “TO” diidentikkan dengan Soehar-TO. Berkaitan dengan “NO” yang kedua, senantiasa dikaitkan dengan Susilo Bambang Yudhoyo-NO dan Joko Widodo, karena masa kecil namanya  Mulyo-NO. Jadi yang belum terjadi adalah Raja/Presiden yang berakhiran huruf GO dan RO.

Dari huruf NO pertama ke TO ada yang menyebut langsung Soekarno ke Soeharto, namun secara de facto ada 2 (dua) orang yang pernah memimpin Indonesia (penyelang) yaitu Mr. As’ad dan Safrudin Prawiranegara. Sementara dari TO ke NO yang kedua ada 3 (tiga) nama yang menjadi Presiden namun tidak mengandung huruf NO (penyelang), yaitu BJ. Habibie, KH. Abdurahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. Maka kalo berdasarkan siklus, bisa jadi dari NO yang kedua ke GO, akan diselingi oleh 4 (empat) Raja penyelang.

Kalau siklus itu berlaku, maka masih panjang perjalanan bangsa ini untuk menjadi sebuah negara yang subur makmur. Namun kalau siklus 2,3,4,5 ini salah (artinya bisa saja tidak berdasarkan siklus tersebut, sehingga GO bisa kapan saja muncul, maka setiap kali Pemilu bisa saja melahirkan pemimpin dari unsur GO).

Masyarakat mulai menghubungkan dengan nama yang diisukan akan menang dalam pilpres 2024 yang memiliki akhiran nama tersebut ialah Ganjar Pranowo. Dalam aksoro jowo keturunan nama-nama tersebut memiliki dikaitkan dengan deretan prestasi saat memimpin daerah dan pasukannya.

Di samping Ramalan Joyoboyo, ada juga yang mengkaitkan dengan “lontaran” Gus Dur, Dalam kontek ini Gus Mus menyebutnya “karomah” Gus Dur, yang pernah menyebutkan bahwa Prabowo akan menjadi presiden di masa tuanya. Atau Lord Rangga yang menyebutkan bahwa presiden Indonesia, akan dperebutkan oleh Anies Baswedan, Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.

Presiden berikutnya ini dalam ramalan Joyoboyo diistilahkan “Satria Piningit” seorang pemimpin ratu adil yang serupa Batara Kresna dan berwatak seperti Pandawa serta bersenjata trisula. Hal ini dijelaskan dalam baitnya seperti berikut : Selet-selet yen mbesuk ngancik tutuping tahun, Bakal ana dewa ngejawantah, Bpengawak manungsa, Apasurya padha betara Kresna, Awatak Baladewa, Agegem trisula wedha, Jinejer wolak-waliking jaman. (Selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun, Akan ada dewa tampil, Berbadan manusia, Berparas seperti Batara Kresna, Berwatak seperti Baladewa, Bersenjata trisula weda, Tanda datangnya perubahan zaman).

Sementara dalam syair Ronggowarsito, diperkirakan pada tahun 2024 masuk dalam hitungan zaman kalabendu. Zaman ini dapat diartikan sebagai zaman penuh kesengsaraan. Fitnah menyebar dimana-mana, keluarga terpecah belah, kehidupan susah, kolusi, korupsi dan nepotisme merajalela, dan para pemimpin kehilangan wibawa.

Namun, di tengah zaman kalabendu ini, akan muncul seorang pemimpin yang bersenjata dzikir. “Dia adalah seorang pemimpin yang taat beribadah kepada Allah SWT. Dia memiliki senjata dzikir yang ampuh untuk mengalahkan segala musuh dan godaan. Dia memiliki hati yang bersih dan tulus untuk melayani rakyatnya. Dia memiliki jiwa ksatria dan patriotisme yang tinggi untuk menjaga kedaulatan negaranya. Dia memiliki visi dan misi yang jelas untuk membawa Indonesia ke arah kemajuan dan kesejahteraan,” kata Ronggowarsito.

Ronggowarsito juga menyebutkan bahwa nama pemimpin tersebut berawalan huruf P dan berakhiran huruf O. Banyak orang yang mengaitkan ramalan ini dengan sosok Prabowo Subianto, politisi dan pengusaha Indonesia yang juga mantan perwira tinggi militer.

Sedangkan dalam ramalan Prabu Siliwangi yang dikenal sebagai raja yang sakti, bijaksana, dan adil, serta memiliki ilmu gaib yang tinggi, sehingga dapat meramalkan masa depan. Salah satu ramalannya yang terkenal adalah tentang munculnya seorang keturunannya yang akan menjadi pemimpin Nusantara. Menurut Sultan Banten Sepuh XIV, Maulana Hasanuddin, ramalan Prabu Siliwangi didasarkan pada kitab pusaka Kerajaan Banten, yaitu Kitab Sang Hyang Kersa.

Kitab ini berisi tentang silsilah, warisan, dan ramalan Kerajaan Banten. Sultan Banten mengatakan bahwa calon presiden RI 2024 adalah seorang keturunan langsung dari Prabu Siliwangi. “Dia adalah keturunan langsung dari Prabu Siliwangi, raja terakhir dari Kerajaan Pajajaran. Dia memiliki darah biru yang murni dan tidak tercemar. Dia memiliki wajah yang tampan dan gagah, serta tubuh yang kuat dan sehat. Dia memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam, serta keterampilan yang beragam dan unggul. Dia sangat disegani dan dihormati oleh semua orang.”

Lalu siapa yang disebut sebagai teureuh Siliwangi, apakah Prabowo (karena berdomisili di wilayah Bogor, wilayah kekuasaan Padjajaran) atau Anies Baswedan (karena ibunya berasal dari Kuningan, wilayah kekuasaan Padjajaran).

Namun kembali lagi bahwasanya, semua kehidupan di dunia ini hanyalah “sandiwara” menurut Ahmad Albar, masing-masing memerankan peranan yang sudah dirancang oleh Sutradara atau ki Dalang. Dan dalang semua kehidupan adalah Allah SWT. Menjadi sangat tidak sabar, kira-kira pada tanggal 14 Februari 2024 ini, siapa yang ditakdirkan oleh Allah SWT untuk menjadi penguasa di Republik ini. Adakah rezekinya Ganjar Pranowo seperti diungkap dalam ramalan Jayabaya ? Atau Prabowo Subianto yang diperkirakan sebagai tokoh yang disebut dalam syair Ronggowarsito dan juga Gus Dur? Atau Anies Baswedan yang ibunya dari wilayah Padjajaran ?

Dalam politik, ramalan-ramalan tersebut dijadikan sebagai judgment untuk meyakinkan pemilih, terlepas dari ramalan-ramalan tersebut ada atau berkaitan dengan aktivitas politik atau tidak. Politik adalah seni untuk mendapatkan kekuasaan. Kata politik berasali kata polis dalam bahasa Yunani. Kata ini memiliki arti yaitu negara kota. Dari kata ini diperoleh maksud bahwa politik adalah serangkaian kegiatan yang terkait dengan pengambilan keputusan dalam kelompok, atau bentuk lain dari hubungan kekuasaan individu, distribusi sumberdaya dan status.***

Artikel ini telah dibaca 203 kali

Baca Lainnya

Sekjen PA GMNI Abdy Yuhana Sebut Konsepsi Bernegara Oase Bagi Indonesia Raya

1 Juni 2024 - 09:34 WIB

Prabowo Presiden: Selamat Datang Orde Baru & Selamat Tinggal Reformasi!

6 Mei 2024 - 08:18 WIB

PERLUKAH TEMPO MEMINTA MAAF?

26 Maret 2024 - 21:14 WIB

Mengkaji Ulang Pilpres dan Pilkada oleh Legislatif

16 Februari 2024 - 20:04 WIB

Mengungkap Terasi Udang Warisan Kuliner Indonesia

9 Februari 2024 - 11:00 WIB

Pemilu 2024 dan PWI

27 Januari 2024 - 23:52 WIB

Trending di Diskursus