Menu

Mode Gelap

Feature · 7 Jun 2024 08:32 WIB ·

Katedral Santo Petrus Kokoh Berdiri Dalam Usia Seabad Lebih

 KATEDRAL Santo Petrus di Kota Bandung, berdiri kokoh sejak masa kolonialisme hingga sekarang.* Perbesar

KATEDRAL Santo Petrus di Kota Bandung, berdiri kokoh sejak masa kolonialisme hingga sekarang.*

KATEDRAL adalah tempat tahkta uskup berada. Uskup adalah pemimpin pada satu jemaah Katolik lokal layaknya seorang imam atau rabi. Di Kota Bandung, Katedral Saint Peter (Santo Petrus)  adalah pusat keuskupan bagi pemeluk Kristiani di kota berjuluk Parijs van Java ini.

Sebelumnya terdapat gereja Katolik pertama di era kolonial Bandung yakni Gereja Fransiskus Regis yang dibangun pada 1887 yang sekarang menjadi Gedung Bank Indonesia Perwakilan Bandung. Cerita ini dimulai sekitar tahun 1878, di mana saat itu Bandung sebagai ibukota karesidenan Priangan sudah cukup ramai, namun belum memiliki pelayanan umat Katolik sendiri. Untuk melayani umat, pastor didatangkan dari stasi terdekat, yaitu Cirebon yang berada di bawah Vikariat Apostolik Batavia.

Sebelum Fransiskus Regis dirubuhkan, gereja ini sempat dialihfungsikan menjadi sarana budaya dan hiburan, yakni Bioskop Vanda. Karena semakin lama jemaat semakin banyak, tepat di lokasi seberangnya ada lahan perkebunan.

KEMEGAHAN suasana di dalam katedral memberi rasa nyaman kepada jemaat.*

Di lokasi itulah didirikan katedral yang hanya membutuhkan waktu satu tahun pembangunan, tepatnya 1921-1922. Setelah selesai, gereja yang baru itu diberkati oleh Mgr. Luypen pada tanggal 19 Februari 1922, dan dipersembahkan kepada Santo Petrus, yang merupakan nama permandian dari Pastor P.J.W. Muller, SJ.

Pada hari itu juga, Mgr. Luypen meresmikan & memberkati Pastoran Santo Petrus, yang saat itu termasuk Vikariat Batavia. Bangunan tersebut tetap berdiri kokoh selama 102 tahun pada 2024 ini. Katedral ini sekarang berada di Jl. Merdeka No.14, Babakan Ciamis, Kota Bandung. Bangunan tersebut tetap berdiri kokoh selama 102 tahun pada 2024 ini. Katedral ini sekarang berada di Jl. Merdeka No.14, Babakan Ciamis, Kota Bandung.

Kedatangan Pastor di Bandung

Setelah menempuh perjalanan dari Batavia dan Cirebon menggunakan pedati ke wilayah Bandung tempo  dulu, Petrus Muller menjadi pastur pertama yang datang ke daerah Bandung. Kehadirannya membuat umat Katolik setempat yang telah memiliki Katedral Santo Petrus kini juga mendapatkan tuntunan untuk beribadah.

Untuk memuluskan tugas-tugas kepastorannya di Pasundan, Muller serta pastor-pastor yang datang belakangan bahkan mempelajari bahasa Sunda dengan baik agar bisa memahami para jemaatnya.

Naiknya Kardinal Ignatius Suharyo menjadi ketua KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia) membuat Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. mengisi kekosongan tahta sebagai uskup di Katedral Saint Peter dengan katedra yang masih sama beliau hanya mengganti logo yang terdapat semboyan ”Ut Diligatis Invicem” yang berarti “Kasihilah seorang akan yang lain” yang diambil dari bait (Yohanes 15:17)

Arsitektur

Bangunan yang bertemakan Neo-Ghotic yang dirancang oleh arsitektur terkenal yaitu Charles Prosper Wolff Schoemaker ini, berbentuk salib jika dilihat dari atas. Dengan atap kayu jati dipasang oleh bangsa Cina, katedral ini tidak pernah mengalami kebocoran atau segala kerusakan selain pengecatan ulang dan vernish kayu.

Di depan batas suci terdapat keterangan mengenai siapa yang ikut serta dalam pembangunan “Tanpa peran Kunst Boummeester  Schumacher, gereja ini tidak akan bisa terbangun karena dia adalah teknik sipil dalam pembangun katedral ini,” ucap Amanda selaku staf Sekretariat  Katedral Santo Petrus. Meski  akses menuju tempat lonceng  ditutup untuk umum,  tim peliput beruntung diberikan izin untuk masuk.

PLAKAT informasi tentang pembangunan katedral.*

Tangga yang masih kuat kokoh dengan pegangan kayu yang berkilau – penanda banyak orang yang memegangnya sejam lama— menjadi pintu masuk menuju menara lonceng. Di sana juga terdapat pipa organ yang masih asli dari pertama katedral ini didirikan.

Mekanisme yang tidak sederhana terdapat pada “mesin” organ tersebut agar suara merdu keluar dari pipa-pipa yang ada. Pipa organ ini sekarang masih dipergunakan pada acara-acara besar agar melestarikan nama dan fungsinya walaupun rumit untuk dirawat agar awet hingga kini. Sayangnya, terdapat satu pipa yang sedang mengalami perbaikan karena ada bagian yang rusak.

PRASASTI penanda Katedral Santo Petrus sebagai cagar budaya.*

Pada setiap jendela terdapat warna-warna yang berbeda dan simbol semiotika yang bisa menjadi bahasan penelitian dan pembelajaran bagi para pendatang yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai arti dari tiap warna, ornamen, simbol, dan bentuk dari lekuk bingkai jendela di tiap sisi katedral tersebut. Barangkali Anda di antaranya?***

Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan yang mengikuti perkuliahan Media dan Agama (Mirasanti Alya Oktaviani, Aditya Niawan Saputra, Ahmad Fathin HR, Farhan Ardiansyah) melakukan peliputan jurnalistik beberapa waktu lalu. Feature ini adalah salah satu karya yang dihasilkan mereka.*

 

Artikel ini telah dibaca 31 kali

Baca Lainnya

Herman Suryatman, Kebermanfaatan Keterbukaan Informasi untuk Kesejahteraan Rakyat Jawa Barat

11 Juli 2024 - 10:13 WIB

Pebulutangkis Spidernoy Ingin Membangun Masjid

23 Juni 2024 - 12:49 WIB

Prof Dr Suwatno, Sosok Guru Besar yang Tiga Dekade Berkhidmat Menjadi Pengurus RT

18 Juni 2024 - 08:28 WIB

“Seren Taun”, Bentuk Syukur dan Simbol Harmoni Warga Cigugur Kuningan

15 Juni 2024 - 09:55 WIB

Kaum Muda dalam Diakonia Gereja

7 Juni 2024 - 19:46 WIB

Diakonia Pendidikan, Jembatan Harapan yang Menghubungkan Kepedulian dengan Tindakan Nyata

7 Juni 2024 - 18:58 WIB

Trending di Feature