KAB. BANDUNG BARAT (TUGUBANDUNG.ID) – Tim dosen Politeknik Negeri Bandung (Polban) memperkuat upaya pelestarian Karst Citatah melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “ForKARST: Penguatan Kapasitas Pengelolaan dan Pelestarian Karst Citatah Berbasis Sistem Informasi Digital.” Program dilaksanakan di Geotheater Hawu Pabeasan, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, sepanjang Juni–Agustus 2026.
Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) ini merupakan kelanjutan kegiatan serupa pada 2025. Jika pada tahun sebelumnya tim Polban membangun forkarst.org sebagai pusat informasi dan dokumentasi Karst Citatah, program 2026 diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat dala mengelola teknologi tersebut secara mandiri.
Ketua Tim PKM, Dr. Waway Qodratulloh S., mengatakan hasil evaluasi program sebelumnya menunjukkan bahwa keberadaan infrastruktur digital perlu diikuti kemampuan sumber daya manusia dalam mengelolanya secara strategis.
“Tantangan konservasi saat ini tidak berhenti pada tersedianya infrastruktur digital. Yang menjadi perhatian berikutnya adalah bagaimana masyarakat mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk komunikasi, edukasi, dan kampanye pelestarian secara berkelanjutan,” ujar Waway.
Dalam program ini, Waway bekerja bersama Yedi Wiguna, M.Pd. dan Hasbi Assidiki Mauluddi, ME.Sy., serta melibatkan mahasiswa sebagai tim teknis. Mitra utama kegiatan adalah Forum Pemuda Peduli Karst Citatah (FP2KC) yang dipimpin Deden Syarif Hidayat.
Pendampingan difokuskan pada tiga kegiatan utama, yakni pelatihan strategi pemasaran wisata alam, optimalisasi pengelolaan sistem informasi digital, serta pelatihan produksi video pemasaran dan media sosial. Pada pelatihan pemasaran, peserta didampingi pakar pemasaran digital Dinda Amanda Zuliestiana, SE., MM. untuk memetakan audiens, menyusun strategi komunikasi, dan merancang pesan promosi wisata yang tetap membawa nilai edukasi lingkungan.
Sementara itu, penguatan pengelolaan forkarst.org dilakukan melalui penataan struktur konten, integrasi dengan media sosial, serta pembagian peran pengelola sebagai admin, editor, dan kontributor.
Kemampuan produksi konten digital juga diperkuat melalui pelatihan bersama content creator dr. Inggar Bagus Wibisana. Peserta berlatih mengambil gambar, menyusun storytelling, melakukan penyuntingan video, serta mengemas potensi Geo Theater Gunung Hawu menjadi konten digital yang menarik.
Ketua FP2KC, Deden Syarif Hidayat, menilai program lanjutan tersebut menjawab kebutuhan komunitas. “Kalau tahun lalu kami dibantu membangun rumah digital melalui forkarst.org, tahun ini kami belajar bagaimana menghidupkan rumah tersebut. Kami semakin memahami bahwa menjaga karst juga dapat dilakukan melalui kampanye digital yang kreatif dan terarah,” katanya.
Salah seorang peserta, Antoni Nendar Lukman, mengatakan pelatihan membuat anggota FP2KC lebih percaya diri memproduksi konten promosi dan edukasi.
Program ForKARST diharapkan mendorong pemuda lokal menjadi pengelola informasi sekaligus komunikator pelestarian Karst Citatah. Kolaborasi perguruan tinggi, masyarakat, pakar, dan praktisi digital tersebut diarahkan agar konservasi kawasan karst semakin kuat melalui partisipasi masyarakat dan pemanfaatan teknologi informasi secara berkelanjutan. ***













Komentar