Dialog di Gedung Sate: Oase di Tengah Badai

Oleh : Dr. Ijang Faisal, M.Si (Kepala LPPM Universitas Muhammadyah Bandung)

Bangsa ini tengah diuji oleh sejarah. Kerusuhan yang merebak sejak akhir Agustus 2025 menjadi salah satu catatan paling pahit dalam perjalanan kebangsaan. Bermula dari isu tunjangan fantastis anggota DPR di tengah situasi rakyat yang masih bergulat dengan kemiskinan dan mahalnya kebutuhan pokok, amarah publik pun menjalar menjadi gelombang protes yang tak terbendung.

Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan, seorang anak muda pengemudi ojol, menjadi titik balik yang mengguncang nurani bangsa. Dari sebuah peristiwa di jalanan Jakarta, api kemarahan menyebar ke berbagai kota, meluluhlantakkan fasilitas publik, memakan korban jiwa, dan menorehkan luka kolektif. Lebih dari sekadar krisis politik, peristiwa itu adalah krisis kepercayaan, krisis keadilan, bahkan krisis informasi. Hoaks dan manipulasi digital bertebaran, memperburuk luka yang sudah menganga.

Di tengah badai itu, langkah Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) menghadirkan secercah harapan. Alih-alih hanya mengandalkan pendekatan keamanan, ia memilih jalan yang lebih manusiawi: dialog. Ia mengundang hampir 420 rektor perguruan tinggi ke Gedung Sate, bukan sekadar untuk berdiskusi tentang situasi darurat, melainkan untuk membangun jembatan komunikasi yang lebih panjang umurnya. Dari pertemuan itu lahirlah Forum Rektor Jawa Barat, sebuah wadah yang dapat menjadi kanal produktif antara pemerintah daerah dan dunia akademik.

Inisiatif ini bukan hanya manuver politik, melainkan wujud kepemimpinan visioner. Ia menunjukkan bahwa kampus bukan menara gading, melainkan mitra strategis negara. Ia mengingatkan kita bahwa demokrasi partisipatif tidak harus selalu bising di jalanan, tetapi bisa lahir dari ruang-ruang intelektual yang beradab. Dan yang paling penting, ia menegaskan bahwa pemimpin sejati tidak hanya memerintah dari podium, melainkan hadir di tengah rakyat, merasakan denyut mereka, dan mendengar dengan tulus.

Jawa Barat membuktikan bahwa kepercayaan publik bisa dijaga. Gedung Sate, simbol kebanggaan masyarakat, tetap utuh di saat banyak kantor pemerintahan lain luluh lantak. Itu bukan semata karena pagar yang kokoh, melainkan karena pemimpinnya hadir, menenangkan, dan memberi arah. Kehadiran fisik seorang pemimpin di tengah krisis sering kali lebih bermakna daripada seribu instruksi tertulis.

Pelajaran dari Jawa Barat seharusnya menggema ke seluruh penjuru negeri. Bahwa di tengah krisis, bangsa ini tidak butuh pemimpin yang bersembunyi di balik birokrasi atau sibuk dengan retorika, melainkan pemimpin yang berani membuka ruang dialog dan merawat kepercayaan. Bahwa kekuatan akademik harus dirangkul sebagai mitra strategis, bukan disimpan hanya sebagai pengamat di pinggir lapangan. Bahwa solidaritas sosial bisa tumbuh bila negara hadir dengan empati, bukan dengan ketakutan.

Tentu, langkah-langkah di tingkat daerah harus ditopang oleh kebijakan nasional. Penindakan pelaku kerusuhan penting, tetapi tak cukup. Luka sosial-ekonomi harus dipulihkan, korban harus mendapatkan perhatian, UMKM yang porak-poranda harus disokong kembali, dan rasa keadilan harus ditegakkan. Krisis ini mengingatkan kita pada akar masalah yang lebih dalam: kesenjangan sosial yang kian lebar dan literasi digital yang rapuh. Tanpa keberanian membenahi dua hal itu, kita hanya menunggu bara berikutnya.

Namun sejarah sering kali justru ditulis dari cara sebuah bangsa keluar dari krisis. Dari Jawa Barat, kita belajar bahwa kepemimpinan visioner dapat mengubah jalannya peristiwa. Bahwa keberanian untuk hadir, mendengar, dan merangkul mampu menyalakan harapan di tengah kegelapan.

Krisis 2025 jangan kita warisi sebagai luka semata, tetapi sebagai titik balik menuju kedewasaan. Presiden yang tegas, rakyat yang solid, dan aparat yang konstitusional, jika tiga pilar itu berjalan bersama, bangsa ini akan mampu keluar dari badai dengan martabat.

Sejarah kelak akan mencatat, bukan siapa yang paling lantang berpidato, melainkan siapa yang hadir dengan ketulusan di saat bangsa terpuruk. Dalam catatan itu, langkah KDM di Gedung Sate patut dikenang sebagai teladan kepemimpinan visioner sebuah “oase” di tengah badai kebangsaan. Wallahu’alam

 

Komentar