UCI Larang Pengatur Tekanan Ban Otomatis, Tim Visma Protes

HANYA tiga hari jelang lomba classical Paris – Roubaix “hell of the north”, Minggu (12/4/2026) yang amat menarik perhatian dunia balap sepeda, UCI selaku badan balap sepeda internasional mengeluarkan larangan “dadakan” pada sistem pengaturan tekanan ban secara otomatis yang tengah dikembangkan oleh tim terkemuka Visma Lease a Bike bersama GRAVAA perusahaan tehnologi yang menciptakan alat canggih ini.

Alat canggih yang “innovative” ini mampu membantu pembalap mengurangi tekanan ban saat melaju di atas sepeda dan mengembalikan tekanan sesuai keperluan kondisi jalan. Hal ini menjadi amat krusial dan strategis bisa memberi keuntungan bagi pembalap khususnya pada lomba Paris-Roubaix yang sebagian rutenya aspal dan sebagian lagi merupakan “bebatuan” (cobbles stone). Pengurangan tekanan ban pada rute bebatuan bisa memberi grip yang lebih baik sehingga memudahkan melakukan manuver di rute bebatuan untuk kemudian tekanan ditingkatkan kembali ketika melaju di jalan mulus aspal.

Alat canggih ini bisa jadi penentu kemenangan pembalap tangguh sekelas Wout Van Aert (Visma Lease a Bike) yang tahun lalu pada Paris – Roubaix 2025 finis keempat. Tampil sebagai juara Mathieu Van Der Poel (Alpecin), kedua Tadej Pogacar (UAE Emirates) dan ketiga Mads Pedersen (LiDL Trek).

Mathieu Van Der Poel adalah juara 3 kali beruntun Paris – Roubaix (2023, 2024, 2025).

Pelarangan dadakan UCI pada alat canggih ini sudah tentu menuai protes keras dari Mathieu Heijboer, Performance Manager tim Visma Lease a Bike.

“Kami sungguh tidak mengerti pola pikir petinggi UCI, pelarangan begitu mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya, padahal alat ini sudah kami tes/pakai pada lomba GP Denain, lomba klasik kedua terbesar setelah Paris – Roubaix dengan rute bebatuan yang hampir sama,” ujar Heijboer.

“Instrument canggih ini jalas sangat membantu atlet pada kondisi rute yang bebatuan dan aspal, karena tekanan ban yang diperlukaan berbeda. Tentu alat ini akan membantu atlet kami mengatasi rute cobbles stone dan aspal, karena bisa membalap dengan tekanan ban yang sesuai kondisi jalan, peluang menang bagi Wout Van Aert akan lebih besar,” tambahnya.

Kini dengan dilarangnya alat yang harganya Euro 4.000 (Rp 80 juta) ini, tim Visma tidak bisa memanfaatkan teknologi canggih ini untuk mendapat tekanan ban secara otomatis dengan hanya menekan tombol, sesuai kondisi jalan. Cara konvensional memakai ban sesuai kondisi jalan adalah mengganti roda yang telah disiapkan tim saat memasuki rute bebatuan, kemudian ganti roda lagi saat memasuki jalan aspal. Ini tentu menghabiskan waktu dan umumnya amat jarang seorang atlet mau mengganti roda yang memakan waktu lama karena akan ketinggalan dan menguras energi untuk mengejar lagi.

Peluang Wout Van Aert untuk bisa merebut kemenangan pada Roubaix 2026 tanpa alat canggih pengatur tekanan ban ini tentu semakin berkurang. UCI berdalih perusahaan GRAVAA yang menciptakan alat ini awal tahun 2026 sudah dinyatakan bangkrut sehingga tidak bisa memproduksi alat canggih ini lagi. Inilah alasan mengapa UCI melarang penggunaan alat ini. (Bambang Kunthady)***

Komentar