SMKN 3 Bandung Dorong Siswa Kuasai Hard Skill dan Soft Skill Lewat MICE

KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID)  — SMKN 3 Bandung mengasah kompetensi siswa melalui praktik penyelenggaraan Meeting, Incentive, Conference, Exhibition (MICE) yang sekaligus dirangkaikan dengan peringatan Hari Jadi ke-216 Kota Bandung (HJKB), Kamis, 24 September 2026.

Kegiatan yang berlangsung di SMKN 3 Bandung, Jalan Solontongan, Kota Bandung, tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis proyek bagi siswa, khususnya pada kompetensi keahlian Usaha Layanan Pariwisata (ULP).

Kepala SMKN 3 Bandung, Agung Indaryatno, mengatakan kegiatan MICE memberikan ruang kepada siswa untuk menunjukkan kompetensi secara langsung melalui pengalaman praktik, bukan hanya melalui ujian tertulis.

Menurutnya, pembelajaran di sekolah vokasi perlu mendekatkan siswa dengan situasi yang akan mereka hadapi di dunia kerja.

“Bagaimana penilaian ini benar-benar mengukur potensi dan kompetensi kalian secara nyata dengan menyelenggarakan kegiatan MICE. MICE itu Meeting, Incentive, Conference, dan Exhibition,” ujarnya.

Ia menambahkan, penyelenggaraan kegiatan juga menjadi sarana bagi siswa untuk membangun kerja sama dan soliditas melalui pengalaman langsung. Terlebih, MICE tahun ini dikaitkan dengan HJKB ke-216 sehingga siswa turut mengenal dan memaknai momentum penting bagi Kota Bandung.

Agung berharap pembelajaran berbasis proyek serupa dapat diterapkan pada program keahlian lainnya di SMKN 3 Bandung.

“Kita harapkan di program yang lain juga menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya proyek operasional. Jadi bukan hanya menjawab soal yang sifatnya di atas kertas, tetapi bagaimana siswa bisa melalui kegiatan-kegiatan semacam ini,” katanya.

Guru Kompetensi Keahlian Usaha Layanan Pariwisata SMKN 3 Bandung, Silvi Yenny, menjelaskan MICE merupakan bagian dari pembelajaran yang memberikan pengalaman kepada siswa untuk merancang sekaligus menyelenggarakan sebuah event.

“MICE itu Meeting, Incentive, Conference, dan Exhibition. Intinya menyelenggarakan event. Mereka diajarkan secara teori dari A sampai Z, kemudian produk akhirnya membuat sebuah event,” jelasnya.

Silvi mengatakan kegiatan tersebut merupakan produk akhir siswa kelas XII sekaligus bagian dari ujian sekolah. Siswa terlibat mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan.

Pembelajaran juga dilakukan secara kolaboratif dengan sejumlah mata pelajaran lain. Bahasa Indonesia diterapkan dalam penyusunan proposal dan naskah pembawa acara, Bahasa Inggris berkaitan dengan kebutuhan industri pariwisata, Matematika digunakan untuk pengolahan statistik dan peluang dalam perlombaan, sedangkan Kewirausahaan diterapkan dalam pengelolaan kegiatan usaha.

“Kegiatan ini memang tahunan, tetapi tidak selalu bentuk event-nya seperti ini. Tahun sebelumnya kami pernah menyelenggarakan open house dan festival budaya dengan berkolaborasi bersama ISBI,” katanya.

Pada kegiatan tahun ini, siswa juga terlibat dalam pengelolaan tujuh UMKM yang hadir di lokasi. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari penerapan pembelajaran kewirausahaan sekaligus memberikan pengalaman kepada siswa dalam mengelola kegiatan secara langsung.

Silvi menilai pengalaman praktik penting bagi siswa SMK karena dunia industri tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan nonteknis.

“Industri sering menggarisbawahi bukan hanya hard skill anak, tetapi juga soft skill. Project ini juga mengasah soft skill mereka, seperti bekerja sama dalam tim, berkolaborasi dengan kolega dan pelanggan, serta bagaimana mereka menangani sebuah event,” ujarnya.

Selain mengelola kegiatan, siswa juga belajar mengatur pembiayaan melalui dana usaha yang mereka kelola. Mereka dituntut menyesuaikan konsep kegiatan dengan kemampuan anggaran yang tersedia.

Menurut Silvi, proses tersebut memberikan gambaran awal kepada siswa sebelum mereka terjun ke industri pariwisata maupun industri penyelenggaraan acara.

Ia menekankan bahwa pembelajaran penyelenggaraan event tidak berhenti ketika acara selesai. Siswa juga diperkenalkan pada tiga tahapan penting dalam pengelolaan event, yakni pre-event, during event, dan post-event.

“Pesan saya kepada anak-anak, ketika keluar dari sini mereka bisa memaknai apa yang sudah kami lakukan, mulai dari pre-event, during event, sampai post-event. Jadi mereka mempunyai gambaran dasar sebelum turun ke industri,” katanya.

Melalui kegiatan MICE tersebut, SMKN 3 Bandung berupaya memberikan pengalaman praktis kepada siswa mengenai proses merancang, mempersiapkan, melaksanakan, hingga mengevaluasi sebuah event.

Kegiatan yang dirangkaikan dengan peringatan HJKB ke-216 itu sekaligus menjadi bentuk pembelajaran vokasi yang mempertemukan teori dan praktik, serta mengasah kemampuan siswa dalam berkolaborasi, berkomunikasi, berkreasi, berwirausaha, dan bertanggung jawab melalui kegiatan nyata.***

Komentar