Simalakama MBG

Oleh SUWATNO

Guru Besar Komunikasi Organisasi

Fakultas Pendidikan Ekonomi Dan Bisnis

Universitas Pendidikan Indonesia

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) yang merupakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto sejatinya lahir dari niat mulia: memastikan anak-anak Indonesia mendapat asupan gizi yang layak. MBG bukan sekadar program sosial, tetapi telah menjadi komitmen negara dan simbol politik. Di balik jargon populernya, MBG mengandung filosofi bahwa pembangunan manusia dimulai dari perut yang kenyang dan otak yang sehat.

Namun, niat baik belum tentu berbuah baik bila langkahnya tergesa. Hari ini, program MBG sudah seperti makan buah simalakama. Apabila dilanjutkan tanpa koreksi serius, faktanya sudah terjadi lebih dari 10 ribu kasus keracunan yang menyebar di berbagai daerah. Sementara jika dimoratorium, realitasnya, sudah banyak pihak yang menggantungkan nasib perekonomiannya di program ini. Rantai pasok pangan lokal, vendor katering, koperasi sekolah, hingga ribuan pekerja lapangan telah menjadi bagian dari ekosistem MBG. Bila pemerintah tiba-tiba melakukan pivot kebijakan, maka biaya ekonomi, sosial, bahkan politiknya bisa lebih besar dari sekadar angka di anggaran.

Di lapangan, ribuan pelaku ekonomi rakyat mulai menata ulang aktivitasnya: petani sayur dan peternak ayam memperluas produksi, UMKM kuliner menyesuaikan menu dan kapasitas dapur, koperasi desa menambah anggota untuk mendukung pengadaan bahan baku. Pemerintah daerah juga telah mulai membangun jaringan distribusi dan sistem pengawasan. Lembaga pendidikan, pesantren, serta sekolah dasar dan menengah, secara bertahap mengintegrasikan MBG dalam rutinitas harian siswa. Terjadi efek domino yang menjangkau rantai sosial dan ekonomi.

Dalam konteks teori kebijakan publik, fenomena ini dikenal sebagai path dependency, yakni suatu keadaan di mana kebijakan yang telah dijalankan menciptakan ketergantungan institusional dan sosial, sehingga sulit untuk dihentikan tanpa menimbulkan guncangan baru. Semakin lama kebijakan berjalan, semakin tinggi pula biaya balik arahnya. Karena itu, sekalipun ada kekurangan serius, menghentikan MBG bukanlah pilihan realistis. Jalan tengahnya adalah memperbaiki, memperdalam, dan memperkuat fondasi kebijakannya agar tidak menjadi beban fiskal dan sosial jangka panjang.

Risiko Tergesa-Gesa

Masalah mendasar dari MBG justru terletak pada prosesnya yang terlampau cepat. Dalam perencanaan kebijakan publik, kecepatan tidak selalu identik dengan kemajuan. Seperti dikatakan ekonom Paul Krugman (2012), pemenang Nobel Ekonomi, bahwa kebijakan yang baik bukanlah yang cepat diterapkan, tetapi yang mampu bertahan lama dan beradaptasi dengan perubahan. Program yang lahir dalam tempo singkat sering kali lemah dalam desain sistem, tata kelola, dan mekanisme akuntabilitas.

Setidaknya ada tiga pelajaran penting. Pertama, keberlanjutan (durability) jauh lebih penting dibanding kecepatan. Kedua, kebijakan publik yang baik harus mampu menyesuaikan diri terhadap dinamika sosial-ekonomi tanpa kehilangan esensi tujuannya. Ketiga, kebijakan yang terburu-buru sering kali hanya menambal masalah jangka pendek, bukan menyentuh akar strukturalnya—seperti kemiskinan, distribusi pangan, dan pendidikan gizi keluarga.

Kita tentu memahami dorongan politik di balik kebijakan besar seperti MBG: janji kampanye harus segera diwujudkan. Namun, dalam kebijakan publik, politik tanpa desain teknokratis akan menghasilkan kebijakan yang rapuh. Program yang dirancang untuk membangun legitimasi politik justru berisiko menimbulkan krisis kepercayaan publik bila gagal di lapangan.

Potensi kebocoran fiskal, moral hazard, dan inefisiensi dapat muncul bila sistem kontrol dan audit tidak disiapkan matang. Lebih berbahaya lagi, jika program ini diseret ke dalam tarik-menarik kepentingan lokal: vendor yang tidak memenuhi standar gizi, praktik mark-up anggaran, hingga distribusi bahan makanan yang tidak sesuai spesifikasi. Semua itu berpotensi mencederai niat luhur yang seharusnya menjadi pijakan program ini.

Universal atau Targeted?

Pertanyaan mendasar yang kini banyak diajukan adalah: apakah MBG sebaiknya bersifat universal atau targeted? Bila program ini bersifat universal—diberikan kepada semua anak tanpa kecuali—orientasinya bersifat makro, menumbuhkan ekonomi melalui perputaran produksi pangan lokal, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan rantai pasok dari hulu ke hilir. Dalam pendekatan ini, MBG berperan sebagai stimulus fiskal yang memperkuat ekonomi rakyat bawah.

Namun bila program ini bersifat targeted—khusus bagi anak-anak dari keluarga miskin atau daerah rawan gizi—maka fokusnya lebih sempit: memperbaiki ketimpangan gizi dan memutus rantai kemiskinan antar generasi. Pendekatan ini memang lebih hemat dan tepat sasaran, tetapi dampak ekonominya terbatas. Dilema ini menggambarkan trade-off klasik antara efisiensi dan pemerataan, sebagaimana diuraikan Amartya Sen (1999). Kebijakan yang menitikberatkan pada pemerataan sering mengorbankan pertumbuhan, sementara kebijakan pro-pertumbuhan berpotensi memperlebar kesenjangan.

MBG, dengan demikian, berada di persimpangan moral dan ekonomi: apakah ia harus menjadi program proteksi sosial murni, atau motor penggerak ekonomi rakyat? Tantangan terbesar MBG bukanlah semata soal anggaran, melainkan soal governance, yakni bagaimana memastikan sistemnya efisien, transparan, dan akuntabel. Pemerintah perlu membangun dashboard digital nasional untuk memantau rantai pasok, distribusi, dan penerima manfaat secara real time. Sistem digitalisasi semacam ini dapat menekan potensi penyimpangan dan memastikan bahan pangan sesuai standar gizi yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

Selain itu, pengawasan publik harus diperkuat. Komunitas sekolah, organisasi masyarakat sipil, dan media lokal dapat menjadi mitra pengawas yang efektif. Dalam konteks ini, MBG sebaiknya tidak hanya dimaknai sebagai distribusi makanan, tetapi juga sebagai gerakan edukatif: menanamkan budaya makan sehat, kesadaran gizi, serta apresiasi terhadap produk lokal.

Sekolah dapat menjadikan program ini sebagai laboratorium pembelajaran kontekstual tentang gizi, pertanian, dan ekonomi lokal. Guru dan siswa bisa belajar tentang sumber bahan makanan, kandungan nutrisi, hingga proses rantai pasok. Dengan begitu, manfaat MBG tidak berhenti di perut, tetapi meresap ke kesadaran dan perilaku generasi muda.

Program MBG seharusnya tidak berhenti sebagai kebijakan karitatif yang memberi makan, tetapi berkembang menjadi strategi kemandirian pangan nasional. Ia harus menjadi jembatan antara kepedulian sosial dan transformasi ekonomi rakyat. Untuk itu, kecepatan pelaksanaan perlu diimbangi dengan kedalaman perencanaan, ketegasan evaluasi, serta disiplin pelaksanaan di lapangan.

Kita semua tentu ingin melihat anak-anak Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing global. Namun untuk mencapainya, negara tidak boleh terburu-buru “menghidangkan” makan bergizi gratis tanpa memastikan sistemnya kokoh. Jangan sampai, demi menolong anak bangsa, kita justru menelan buah simalakama yang kita tanam sendiri. ***

 

Komentar