Pogacar Tak Terbendung, Taktik Van der Poel Jadi Bumerang

SALAH satu balap sepeda klasik monumental yang banyak menarik perhatian, Tour of Flanders ke-110/2026 di Belgia, Senin (6/4/2026) WIB kembali dijuarai rangking 1 dunia Tadej Pogacar (UAE Emirates XRG) mengulang prestasinya tahun lalu, dengan demikian pembalap sepeda asal Slovenia berusia 28 tahun ini telah 3 kali menjadi juara Tour of Flanders (2023, 2025, 2026) menyamai prestasi Mathieu van der Poel (Alpecin Premier Tech/Belanda) juara 2020, 2022, dan 2024.

Sebelumnya ada enam pembalap lainnya yang juga mencatat juara 3 kali di balapan klasik ini: Achiel Buysse (Belgia), Florenzo Magni (Italia), Eric Leman (Belanda), Johan Musseuw (Belgia), Tom Boonen (Belgia), dan Fabian Cancellara (Swiss).

Pogacar juara dunia 2025 yang juga juara 4 kali Tour de France, seperti tahun lalu kembali mengulang menggunakan rute tanjakan “bebatuan” Oude Kwaremont (yang harus dilalui 3 kali) untuk meninggalkan para pesaingnya secara solo break.

Tanjakan Kwaremont yang cukup terjal sekitar 1 km panjangnya ini pada lintasan lap kedua kalinya digunakan Pogacar solo break melepaskan para pesaing beratnya, diantaramya Wout van Aert (Visma Lease a Bike) dan Remco Evenepoel (Red Bull Bora), hanya Van Der Poel masih masih bisa bertahan, tapi pada lap ketiga (terakhir) melewati tanjakan ini Van Der Poel ketinggalan sekitar 12 detik yang kemudian terus bertambah karena Pogacar melaju cepat sendirian sepanjang 10 km terakhir menjadi juara, Van Der Poel (Alpecin) finis kedua tertinggal 24 detik dan juara Olimpiade  Paris 2024 Remco Evenepoel (Red Bull Bora) ketiga tertinggal 1 menit 11 detik.

Kesalahan Taktik Van Der Poel

Kekalahan yang dialami juara 3 kali Tour of Flanders, Mathieu Van Der Poel menurut mantan pembalap Prancis terrkemuka Bernard Hinault, tak lepas dari kesalahan “taktik” yang di pakai Van Der Poel ketika mampu menempel Pogacar di tanjakan Kwaremont (lap ke-2) seharusnya setelah itu pada rute datar berikutnya 10 km tidak usah dibantu menarik di depan bergantian karena amat menguntungkan Pogacar karena masih akan melewati tanjakan Kwaremont sekali lagi (lap-3 terakhir). Apalagi saat itu ada Evenepoel yang meski ketinggalan hanya terpaut 10 detik dan diperhitungkan akan bisa menyusul masuk andaikan Pogacar dibiarkan menarik sendiri tidak “dibantu” ganti menarik oleh Van Der Poel.

Ulasan ini diungkapkan Bernard Hinault legenda Prancis juara Tour de France 5 kali yang menyesalkan Van Der Poel membantu Pogacar menarik bergantian.

“Bila Pogacar dibiarkan menarik di depan (“pacing”) sendirian, pasti Evenepoel bisa menyusul lagi sehingga akan semakin seru, tiga pembalap adu sprint finis (Pogacar, Van Der Poel, dan Evenepoel),” jelas Hinault.

“Bagi Pogacar ini menjadi kemenangan seperti hadiah karena di jalan datar dibantu Van Der Poel yang ironisnya kemudian ditinggalkan oleh Pogacar pada tanjakan Karemont yang dilewati untuk ketiga kalinya sebelum kemudian jalan datar menuju finis 10 km,” tambah Hinault.

Van der Poel harusnya sadar membantu Pogacar di jalan datar, memberi jalan bagi Pogacar untuk menang dengan relatif mudah karena masih harus melalui tanjakan aandalan Pogacar, yang sama sekali lagi.

Pogacar memang cerdik dia sadar bila “membawa” Mathieu Van Der Poel dan Remco Evenepoel ke garis finis rute datar, pada adu sprint akan kalah.

Kesalahan Van Der Poel tentu akan disesalinya pada Tour of Flanders 2026 dan menjadi pelajaran jangan lagi memberi kesempatan dan harus taktis bila ingin mengalahkan Pogacar.

Hasil Tour of Flanders 2026 (278 km):

  1. Tadej Pogacar (UAE Emirates XRG/Slovenia) 6:20:07
  2. Mathieu Van Der Poel (Alpecin Premier Tech/Belanda) + 34 dtk.
  3. Remco Evenepoel (Red Bull Bora/Belgia) + 1 menit 11 dtk.
  4. Wout Van Aert (Visma Lease a Bike/BNelgia) + 2 menit 4 dtk.
  5. Mads Pedersem (LiDL Trek/Denmark) + 2 menit 48 dtk. (Bambang Kunthady)***

Komentar