Menu

Mode Gelap

Berita · 5 Jul 2022 07:48 WIB ·

Masuki Musim Kemarau Basah, Curah Hujan di Kota Bandung Masih Signifikan 

 Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) Kota Bandung menjelaskan pancaroba menuju kemarau sudah mulai terasa memasuki awal Juli ini, meski kemarau tahun ini curah hujan di Kota Bandung masih tetap signifikan. Fenomena ini disebut sebagai kemarau basah. (Foto: Diskominfo Kota Bandung).* Perbesar

Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) Kota Bandung menjelaskan pancaroba menuju kemarau sudah mulai terasa memasuki awal Juli ini, meski kemarau tahun ini curah hujan di Kota Bandung masih tetap signifikan. Fenomena ini disebut sebagai kemarau basah. (Foto: Diskominfo Kota Bandung).*

KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Pancaroba menuju kemarau sudah mulai terasa memasuki awal Juli ini. Meski memang pada kemarau tahun ini curah hujan di Kota Bandung masih tetap signifikan. Fenomena ini disebut sebagai kemarau basah.

Staf data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) Kota Bandung, Yuni Yulianti menjelaskan, kemarau basah ditandai dengan dominannya tiupan angin muson Australia atau angin muson timur. Kemudian, posisi matahari pun sudah mulai bergerak ke arah utara.

“Suhu di pagi hari sudah mulai dingin di antara 17,4-19 derajat celcius diakibatkan dari angin tersebut yang membawa masa udara yang kering dan dingin. Tapi, siangnya cukup terik antara 29-30 derajat celcius,” jelas Yuni kepada Humas Kota Bandung, Senin, 4 Juli 2022.

Selain itu, ia juga menjelaskan, tutupan awan sudah mulai berkurang, sehingga panas matahari akan lebih cepat dilepaskan. Namun, secara kondisi dinamika atmosfir laut terpantau masih hangat.

“Suhu permukaan lautnya masih cukup hangat, sehingga masih menyuplai uap air yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan awan-awan hujan. Maka di sore menjelang malam hari pada sebagian wilayah Jawa Barat termasuk di Kota Bandung kerap terjadi hujan walau sudah masuk kemarau,” ungkapnya.

Meski masih signifikan, Yuni mengatakan, berdasarkan perhitungan BMKG, selama dasarian atau 10 hari berturut-turut terakhir, curah hujan sudah mulai kurang dari 50 mm. Sehingga telah dikategorikan memasuki awal musim kemarau.

Variabilitas dan pergeseran musim

Ia menambahkan, terjadi variabilitas musim atau pergeseran musim yang mengakibatkan waktu dan durasi cuaca mulai berganti. Dulu, pada April-September biasanya sudah masuk pada kategori musim kemarau. Lalu, Oktober-Maret memasuki musim hujan.

“Tapi, ke depan ini sudah mulai mengalami pergeseran musim. Tentu terkait dengan banyak faktor ya, seperti banyak terbentuknya pusat tekanan rendah, terbentuknya sirkulasi siklonik,” jelasnya.

“Kemudian juga sedikit banyak ada pemanasan global yang memengaruhi cuaca atau iklim secara keseluruhan,” papar Yuni.

Pada musim pancaroba ini, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai. Selain potensi hujan yang masih ada, potensi bencana hidrometeorologi juga bisa terjadi terkait dengan perubahan suhu yang cukup signifikan.

“Tiupan angin juga cukup kencang, antara 7-20 km per jam. Dampak terhadap kesehatan juga perlu diwaspadai di masa pancaroba ini,” tuturnya. ***

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mobil Tak Bisa Lewat Akibat Jalan Longsor Di Desa Depok Garut, Aktivitas Warga Terganggu

4 Maret 2024 - 19:04 WIB

Lima Tahun Berturut-Turut, Telkomsel Raih Best Mobile Network dari Ookla® Speedtest Award™

4 Maret 2024 - 18:03 WIB

Tingkatkan Minat Olahraga, Prawira Harum Bandung Ajak Ratusan Pelajar Nonton Langsung

4 Maret 2024 - 17:57 WIB

Presiden Groundbreaking Telkom Smart Office di IKN, Menteri BUMN: Akan Jadi Hub Telekomunikasi Nusantara

4 Maret 2024 - 17:48 WIB

Kawanan Pelajar SMP di Tasikmalaya Maling Motor dan Kotak Amal Masjid

4 Maret 2024 - 16:51 WIB

Dari Pulau Sumatera, Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional Dr Aqua Dwipayana Singgah di Kota Sampit Sampaikan Sharing Komunikasi dan Ditpolairud Polda Kalteng

4 Maret 2024 - 15:45 WIB

Trending di Berita