Cegah Kekerasan Sejak Dini, H Syahrir Tekankan Pentingnya Literasi dan Peran Keluarga

KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Maraknya kasus kriminalitas yang berujung pada kematian, mulai dari konflik dalam keluarga, tawuran, perampokan, hingga kekerasan di lingkungan sekolah, menjadi peringatan serius bagi masyarakat. Fenomena tersebut perlu disikapi tidak hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga dengan memperkuat literasi, ketahanan keluarga, pendidikan karakter, dan kepedulian sosial.
ANGGOTA DPRD Jabar dari Fraksi Gerindra yang juga Ketua PP Dewan Pembina Literasi Nasional Gareulis H. Syahrir, SE, M.Ipol.*
Anggota DPRD Jawa Barat, H. Syahrir, S.E., M.I.Pol., menilai bahwa kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat tidak dapat dipandang sebagai persoalan dengan penyebab tunggal. Berbagai faktor, seperti kondisi keluarga, lingkungan pergaulan, tekanan hidup, lemahnya pengendalian emosi, serta paparan konten kekerasan di media sosial, dapat saling memengaruhi.
Menurut Syahrir, upaya mencegah kekerasan harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Langkah pencegahan perlu dibangun sejak dini agar nilai-nilai kemanusiaan, empati, dan tanggung jawab tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
“Pencegahan kekerasan tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum setelah peristiwa terjadi. Kita harus membangun kesadaran sejak dini melalui pendidikan karakter, komunikasi yang sehat dalam keluarga, literasi digital, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial,” demikian pandangan Syahrir mengenai pentingnya membangun budaya hidup yang aman dan beradab.
Syahrir yang juga Ketua PP Dewan Pembina Literasi Nasional Gareulis itu menegaskan, keluarga memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian anak. Rumah semestinya menjadi ruang yang menghadirkan kasih sayang, rasa aman, keterbukaan, dan keteladanan. Melalui komunikasi yang baik, orang tua dapat memahami persoalan yang dihadapi anak sekaligus membantu mereka mengelola emosi dan menyelesaikan konflik secara sehat.
Pengawasan terhadap anak, lanjutnya, juga perlu dilakukan secara proporsional. Orang tua tidak cukup hanya membatasi aktivitas anak, tetapi perlu membangun kedekatan emosional agar anak merasa nyaman menyampaikan persoalan yang dihadapi, baik di lingkungan pergaulan maupun di ruang digital.
Literasi Digital dan Pendidikan Karakter
Syahrir juga menyoroti pentingnya literasi dalam menghadapi tantangan kehidupan masyarakat modern. Menurut dia, literasi tidak boleh dipersempit hanya sebagai kemampuan membaca dan menulis, melainkan harus mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami informasi, mengendalikan diri, menghargai perbedaan, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial, masyarakat perlu memiliki kecakapan untuk memilah konten dan memahami dampak dari setiap informasi yang dikonsumsi maupun disebarkan. Konten provokatif, ujaran kebencian, dan tayangan kekerasan tidak seharusnya diterima begitu saja tanpa pertimbangan kritis.
“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, mengendalikan diri, menghargai sesama, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan,” tegasnya.
Ia berpandangan, media sosial semestinya dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, pertukaran gagasan, dan penyebaran nilai-nilai positif, bukan menjadi ruang yang memperbesar permusuhan atau mendorong tindakan agresif.
Dalam konteks pendidikan, sekolah juga harus memastikan terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh peserta didik. Pendidikan karakter, penguatan etika pergaulan, pencegahan perundungan, serta kemampuan menyelesaikan konflik secara damai perlu menjadi bagian penting dari kehidupan sekolah.
Kepedulian Sosial
Selain keluarga dan sekolah, Syahrir menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mencegah kekerasan. Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup diwujudkan melalui keprihatinan ketika sebuah kasus menjadi pemberitaan. Masyarakat perlu membangun kebiasaan saling memperhatikan, membuka ruang komunikasi, dan memberikan dukungan kepada individu atau keluarga yang menghadapi persoalan.
Menurutnya, kepekaan sosial dapat membantu masyarakat mengenali persoalan sejak awal dan mendorong penyelesaian secara tepat sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih serius. Namun, kepedulian tersebut harus diwujudkan secara bijaksana, tanpa menghakimi atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang melindungi anak dan generasi muda dari berbagai bentuk kekerasan. Edukasi publik juga perlu diperkuat agar masyarakat memahami bahwa setiap persoalan harus diselesaikan melalui komunikasi, dialog, dan mekanisme yang sesuai dengan hukum.
Syahrir menegaskan bahwa penegakan hukum tetap harus berjalan tegas terhadap pelaku kekerasan. Akan tetapi, langkah represif perlu diimbangi dengan strategi pencegahan yang berkelanjutan, terutama melalui pendidikan, penguatan keluarga, dan pembudayaan literasi.
“Sekolah harus menjadi tempat yang aman, keluarga menjadi ruang kasih sayang, dan media sosial menjadi sarana edukasi, bukan provokasi,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan maraknya kasus kekerasan sebagai momentum untuk memperkuat tanggung jawab bersama dalam menjaga keselamatan dan masa depan generasi muda.
Menurut Syahrir, membangun masyarakat yang aman bukan hanya tugas aparat penegak hukum, melainkan tanggung jawab bersama yang dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.
“Selamatkan generasi, kuatkan keluarga, hentikan kekerasan, dan hidupkan literasi demi Indonesia yang lebih aman dan beradab,” pungkasnya. ***

Komentar