KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) — Apa jadinya jika siswa sekolah dasar sudah mampu menciptakan teknologi yang menjawab masalah sehari-hari?
Hal itulah yang ditunjukkan siswa DHIS Primary dalam kegiatan STEMventure pada Rabu (15/4/2026), lewat proyek berbasis micro:bit yang mencuri perhatian.
Alih-alih sekadar belajar teori, siswa Primary 4–5 langsung merancang dan mengembangkan perangkat teknologi sederhana yang fungsional. Hasilnya, lahir berbagai inovasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, seperti:
Hydration Reminder, alat pengingat minum untuk menjaga kesehatan. Sleeping Position Detector, sistem pendeteksi posisi tidur
Starlight: Light Up Safety & Detect Danger, perangkat pintar untuk pencahayaan sekaligus deteksi potensi bahaya.
Proyek-proyek ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis dan problem solving dapat dibangun sejak dini melalui pendekatan pembelajaran yang tepat.
Kepala Sekolah DHIS Primary, Rustati Fatimah, menegaskan bahwa penguasaan teknologi tidak harus menunggu jenjang pendidikan tinggi.
“Anak-anak kami tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga menciptakannya. Mereka belajar melihat masalah di sekitar, lalu mengubahnya menjadi solusi nyata,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan berbasis proyek seperti micro:bit menjadi kunci dalam menumbuhkan pola pikir inovatif sekaligus membangun kepercayaan diri siswa.
Sebelum mengembangkan proyek, siswa mendapatkan pembekalan langsung dari tim SEAQIS, sehingga mereka mampu memahami dasar pemrograman hingga implementasi perangkat secara aplikatif.
Meski proyek micro:bit menjadi sorotan utama, STEMventure juga menghadirkan berbagai tantangan lain seperti Tower Challenge—membangun menara tahan guncangan—serta proyek Magnetic Car dan Magnetic Boat untuk jenjang awal.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembelajaran teknologi dapat dimulai sejak dini dengan cara yang menyenangkan dan berdampak. Dari ruang kelas, lahir inovasi sederhana yang menunjukkan satu hal: masa depan teknologi bisa dimulai dari tangan anak-anak.***







Komentar