KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Rektor Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. dan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat, Dhani Gumelar, S.T., M.T., meresmikan penggunaan Halte ITB Ganesa A (depan Klinik Pratama ITB) dan Halte ITB Ganesa B (seberang International Relation Office/IRO ITB), Senin (26/1/2026).
Prof. Tata dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak atas komitmen dan kolaborasi dalam mendukung penataan dan pemindahan Halte ITB Ganesa A dan B. Hal ini merupakan wujud nyata upaya bersama dalam menyediakan transportasi publik yang inklusif, terjangkau, dan ramah bagi masyarakat, termasuk sivitas akademika ITB. Sebelumnya, lokasi Halte A berada di dekat Masjid Salman dan Halte B di seberang Masjid Salman.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat per 20 Oktober 2025 telah menambahkan rute pada Koridor 5 (Dipatiukur-Jatinangor) yang melewati Jalan Ganesa. “Ini memberikan manfaat yang sangat konkret, khususnya bagi mahasiswa kami. Mahasiswa yang sebelumnya beraktivitas di Kampus Jatinangor kini memiliki tambahan opsi transportasi menuju Kampus Ganesha, demikian pula sebaliknya. Bagi mahasiswa maupun masyarakat yang dilalui Koridor 5, akses menuju kawasan Jalan Ganesa menjadi lebih mudah karena dapat langsung turun di titik yang dekat dengan area kampus,” ujar Prof. Tata.
Prof. Tata menambahkan, sejak awal, ITB melalui tim Direktorat Sarana dan Prasarana dan Prof. Dr. Ir. Deny Juanda Puradimaja, D.E.A. telah menginisiasi dan mendorong penambahan rute Metro Jabar Trans yang melayani kawasan kampus, termasuk penataan dan pemindahan halte.
Inisiatif ini berawal dari kebutuhan sivitas akademika serta komitmen ITB untuk menjadi bagian dari solusi mobilitas perkotaan. Tim ahli ITB dari berbagai disiplin ilmu, termasuk transportasi dan perencanaan wilayah, secara aktif melakukan koordinasi dan diskusi teknis dengan Dinas Perhubungan. Proses ini mencakup kajian rute, penentuan titik pemberhentian, integrasi dengan arus lalu lintas, serta aspek keselamatan dan kenyamanan pengguna.
Ia mengatakan, transportasi publik yang andal bukan hanya berkaitan dengan kenyamanan, tetapi juga berdampak pada efisiensi waktu, keselamatan, pengurangan kemacetan, serta upaya menurunkan emisi karbon.
“Sebagai institusi pendidikan tinggi, ITB memandang aksesibilitas sebagai bagian penting dari ekosistem pembelajaran. Data internal kami menunjukkan bahwa setiap hari mahasiswa ITB melakukan mobilitas lintas kampus, terutama antara Jatinangor dan Ganesha,” ujarnya.
Dalam konteks ini, penambahan rute Koridor 5 merupakan langkah strategis yang sejalan dengan target pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Sementara itu, Kadishub Jabar, Dhani Gumelar, S.T., M.T., mengatakan, dari 1,5 juta penumpang Metro Jabar Trans, sebanyak 30 persen merupakan penumpang di koridor 5. Hal tersebut karena jalur tersebut menghubungkan dua kawasan pendidikan tinggi di kawasan cekungan Bandung.
“(Penambahan rute dan halte) ini diharapkan lancar dan meningkatkan kualitas transportasi di Jawa Barat,” ujarnya.
Ia mengatakan, pihaknya menambahkan bus di koridor 5, dari 21 menjadi 25 bus dan awalnya 84 perjalanan menjadi 100 perjalanan, dengan waktu tunggu 5-10 menit per haltenya dan mulai beroperasi pukul 04.30-21.10 WIB.
Diskon Pelajar, Mahasiswa, Penyandang Disabilitas, dan Lansia
Pihak Metro Jabar Trans pun membuka tarif khusus bagi pelajar, mahasiswa, penyandang disabilitas, dan lansia dengan menggunakan kartu uang elektronik senilai Rp2000 untuk sekali jalan. Pendaftaran akses tarif tersebut dapat melalui bit.ly/pendaftaran-tarif-khusus. (Pun)***







Komentar