ACEH (TUGUBANDUNG.ID) – Lembaga sosial Sharing Happiness dan ACF Eduhub menggelar program Training for Trainer (TFT) Psikososial bagi guru-guru yang terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.
Bertempat di SD Negeri Paya Bedi, Jl. Salah Haji, Kec. Rantau, program ini bertujuan memperkuat kesehatan mental pendidik sebagai bagian vital dari pemulihan sektor pendidikan pascabencana.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Sharing Happiness, Guruverse.id, dan ACF Eduhub sebagai mitra pelaksana. Sebanyak 100 guru dari berbagai satuan pendidikan di wilayah terdampak hadir untuk mengikuti pelatihan yang berlangsung dalam suasana aman, interaktif, dan partisipatif.
Acara ini turut dihadiri oleh jajaran tokoh pendidikan setempat sebagai tamu kehormatan, di antaranya Ibu Fahri Hanum (Kabid GTK Dinas Pendidikan). Kehadiran mereka menegaskan dukungan pemerintah terhadap pentingnya aspek psikologis dalam manajemen bencana di lingkungan sekolah.
Melalui pelatihan ini, para guru dibekali materi dari para pakar, yakni Dr. Muhammad Sobirin, S.Pd., M.M.Pd. dan Ibu Yulfa Islaini, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Peserta mendapatkan pemahaman dasar terkait dampak psikologis pascabencana, teknik pengelolaan stres (self-care), serta keterampilan awal pendampingan psikososial bagi peserta didik.
Perwakilan Guruverse.id, Dr. Muhammad Sobirin, S.Pd., M.M.Pd., menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian nyata terhadap kesejahteraan guru.
“Penguatan kesehatan mental guru adalah langkah awal yang mutlak agar proses pendidikan dapat kembali berjalan secara optimal. Guru yang berdaya secara emosional akan mampu memulihkan semangat belajar siswa,” ujarnya, Jumat, (30/1/2026).
Senada dengan hal tersebut, pihak ACF Eduhub menekankan bahwa integrasi pendekatan psikososial harus menjadi standar dalam setiap upaya pemulihan pendidikan pascabencana. Guru dinilai sebagai kelompok strategis karena memiliki peran ganda: sebagai penyintas yang juga terdampak, sekaligus sebagai garda terdepan yang bertanggung jawab menciptakan rasa aman bagi anak didik.
Salah seorang peserta mengungkapkan rasa syukurnya atas pelatihan ini. “Pelatihan ini membantu saya mengenali kondisi emosional diri sendiri setelah bencana. Sekarang saya merasa lebih siap untuk kembali ke kelas dan mendampingi anak-anak yang mungkin masih trauma,” ungkapnya.***













Komentar