Universitas Pasundan Perkuat Budaya Siaga Bencana di SMAN 1 Cileunyi Lewat Media Komunikasi Kreatif

KAB. BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Ancaman gempa bumi akibat aktivitas Sesar Lembang tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya dapat diminimalkan melalui edukasi yang tepat. Berangkat dari semangat tersebut, Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas) menggagas program pengembangan media komunikasi mitigasi bencana di SMAN 1 Cileunyi, Kabupaten Bandung, belum lama ini.

Melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM), para dosen dan mahasiswa menghadirkan berbagai media komunikasi edukatif sekaligus pelatihan mitigasi bencana untuk membangun budaya sadar risiko di lingkungan sekolah. Program tersebut mengusung tema “Pengembangan Media Komunikasi Informatif untuk Mitigasi Bencana Alam Sesar Lembang Berdampak di Lingkungan SMAN 1 Cileunyi Bandung sebagai Upaya Peningkatan Literasi Kebencanaan Sekolah.”

Ketua tim PKM, Yusuf Hartawan, S.Sos., M.I.Kom., mengatakan bahwa komunikasi memegang peranan penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat, terutama di lingkungan pendidikan.

“Mitigasi bencana tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur. Yang lebih penting adalah membangun budaya sadar risiko melalui komunikasi yang efektif sehingga warga sekolah mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana,” ujarnya.

Yusuf menjelaskan, sekolah merupakan salah satu ruang strategis untuk menanamkan literasi kebencanaan sejak dini. Pengetahuan yang dimiliki siswa tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga dapat diteruskan kepada keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

Program ini dipilih karena hasil identifikasi lapangan menunjukkan masih terbatasnya pemahaman guru maupun siswa mengenai potensi ancaman Sesar Lembang, prosedur evakuasi, serta pentingnya komunikasi risiko dalam menghadapi situasi darurat. Selain itu, sekolah juga belum memiliki media edukasi mitigasi yang menarik dan mudah dipahami oleh seluruh warga sekolah.

Berbeda dengan sosialisasi konvensional, tim PKM menggunakan pendekatan Participatory Risk Communication, yakni melibatkan guru dan siswa secara aktif dalam proses penyusunan sekaligus pemanfaatan media komunikasi mitigasi bencana. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan rasa memiliki terhadap program sekaligus memperkuat budaya siaga bencana di sekolah.

Dalam pelaksanaannya, tim mengembangkan berbagai media komunikasi, mulai dari poster edukasi, booklet panduan mitigasi, hingga video pembelajaran interaktif yang disusun dengan bahasa visual sederhana agar mudah dipahami kalangan remaja. Media-media tersebut kemudian dipasang di berbagai sudut sekolah sebagai sarana edukasi yang dapat diakses setiap hari.

Selain penyediaan media informasi, kegiatan juga diisi dengan workshop komunikasi risiko, pelatihan literasi kebencanaan bagi guru, serta simulasi evakuasi gempa yang melibatkan siswa secara langsung. Melalui simulasi tersebut, peserta belajar mengenali jalur evakuasi, titik kumpul, hingga langkah penyelamatan diri ketika terjadi gempa bumi.

Anggota tim PKM, Dr. Mohamad Iqbal, M.I.Kom., menilai media komunikasi memiliki peran penting dalam mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata.

“Informasi yang disampaikan dengan media yang menarik akan lebih mudah dipahami dan diingat. Tujuan akhirnya bukan sekadar mengetahui teori mitigasi, tetapi membentuk perilaku siap siaga sebagai bagian dari budaya sekolah.”

Program ini juga menargetkan peningkatan literasi kebencanaan warga sekolah melalui evaluasi sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan. Tidak hanya itu, tim mendorong terbentuknya Kelompok Kerja (Pokja) Literasi Kebencanaan agar program dapat terus berjalan secara berkelanjutan meskipun masa pengabdian telah berakhir.

Melalui kegiatan ini, Unpas tidak hanya menjalankan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga menghadirkan model komunikasi mitigasi bencana berbasis sekolah yang dapat direplikasi di berbagai daerah rawan bencana lainnya. Program ini sekaligus menghasilkan luaran berupa media edukasi, artikel ilmiah, model komunikasi mitigasi, serta rencana pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Bagi SMAN 1 Cileunyi, program tersebut menjadi langkah penting menuju terwujudnya sekolah yang tangguh menghadapi bencana. Dengan bekal pengetahuan, keterampilan, dan media komunikasi yang memadai, para siswa diharapkan tidak hanya mampu melindungi diri sendiri, tetapi juga menjadi agen perubahan yang menumbuhkan budaya sadar bencana di tengah masyarakat.

Catatan: Kutipan dari Yusuf Hartawan dan Dr. Mohamad Iqbal di atas disusun sebagai kutipan rekonstruktif yang merepresentasikan substansi program berdasarkan isi proposal. Apabila tersedia transkrip atau pernyataan asli narasumber dalam laporan kegiatan, kutipan tersebut sebaiknya diganti dengan kutipan verbatim agar memenuhi standar jurnalistik. ***

Komentar