Rejuvenasi Brand di Usia 16 Tahun, Maicih Angkat Cerita Rempah Nusantara ke Ruang Seni

KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Setelah 16 tahun hadir sebagai salah satu pelopor camilan pedas di Indonesia, Maicih menandai fase baru perjalanannya melalui perayaan bertajuk “Petualangan Maicih & Pedas Rempahnya”, sebuah pameran yang memadukan cerita perjalanan, eksplorasi rempah Nusantara, serta interpretasi seni dari berbagai kolaborator kreatif.

‎Perayaan yang berlangsung pada 26 Juni–5 Juli 2026 di Grammars, Bandung, menjadi bagian dari proses rejuvenasi brand Maicih sekaligus refleksi atas perjalanan panjang yang dibangun melalui semangat eksplorasi rasa, budaya, dan kekayaan rempah Indonesia.

‎Selama 16 tahun, sosok “Emak” sebagai karakter ikonik Maicih digambarkan terus bertualang—menjelajahi berbagai daerah di Indonesia hingga menembus berbagai negara untuk menemukan cerita dan inspirasi dari keberagaman cita rasa.

‎Dari perjalanan tersebut lahir pemahaman bahwa rempah bukan sekadar bahan pangan, melainkan representasi identitas, sejarah, dan ruang perjumpaan budaya.

‎Melalui semangat tersebut, Maicih memperkenalkan kembali identitas Pedas Rempah sebagai arah baru brand yang tidak hanya hadir sebagai cita rasa produk, tetapi juga berkembang menjadi sumber inspirasi kreatif.

‎“Kami sangat bergembira bahwa setelah 16 tahun perjalanan, Maicih dapat diapresiasi oleh berbagai pihak. Tidak hanya teman-teman dari dunia F&B dan retail, tetapi juga pelaku seni dan industri kreatif. Respons ini menjadi energi bagi Maicih untuk terus berkontribusi terhadap keberlanjutan ekosistem bisnis lokal,” ujar Co-founder Maicih sekaligus CEO PT Mamaincu Makmur Selaras, Meiry Anwar, Sabtu, (27/6/2026).

‎Meiry menuturkan bahwa perjalanan rejuvenasi Maicih turut melibatkan sejumlah mitra kreatif yang berperan dalam membangun pengalaman baru bagi konsumen.

‎”Proses transformasi identitas brand dilakukan bersama POT Branding, yang menerjemahkan kembali semangat petualangan Emak ke dalam identitas yang lebih relevan dan segar tanpa meninggalkan akar cerita yang telah dibangun sejak awal,” tambahnya.

‎Sementara itu, penguatan narasi dan distribusi cerita di kanal digital dilakukan bersama Ideabakers, yang membantu menghadirkan pengalaman “Petualangan Maicih & Pedas Rempahnya” kepada audiens yang lebih luas melalui pendekatan komunikasi dan media sosial.

‎Kolaborasi juga berkembang ke ranah seni melalui keterlibatan Art Therapy Center. Berangkat dari cerita perjalanan Emak dan eksplorasi Pedas Rempah, para peserta menuangkan interpretasi mereka ke dalam karya-karya visual yang merepresentasikan sudut pandang, warna, dan imajinasi yang beragam.

‎Co-founder & Creative Strategy Director POT Branding House, Bayurengga Mauludy mengatakan setiap karya menjadi representasi bahwa satu inspirasi dapat diterjemahkan menjadi banyak makna, sekaligus menunjukkan bagaimana identitas baru Maicih dapat hidup melalui medium kreatif yang berbeda.

‎“Setahun setelah POT dan Maicih bersama-sama meracik ulang identitas, menggali kembali karakter Emak dan dunia yang dibangunnya, kini publik dapat melihat ekspresi baru dari perjalanan tersebut. Pedas Rempah bukan hanya soal cita rasa, tetapi semangat untuk memperkuat akar budaya sekaligus membuka ruang interpretasi baru,” katanya.

‎Diselenggarakan di Grammars, pameran ini dirancang sebagai ruang pertemuan antara cerita, kreativitas, dan pengalaman. Pengunjung diajak mengikuti perjalanan Pedas Rempah melalui narasi, visual, serta karya hasil kolaborasi lintas disiplin.

‎Bagi Maicih, kolaborasi tersebut bukan sekadar kerja sama proyek, tetapi bagian dari perjalanan yang terus berkembang untuk menemukan perspektif baru dan menghadirkan pengalaman yang semakin kaya bagi para penikmatnya.

‎Melalui “Petualangan Maicih & Pedas Rempahnya”, Maicih ingin menunjukkan bahwa sebuah identitas tidak berhenti pada produk, tetapi dapat berkembang menjadi ruang eksplorasi yang menghubungkan rasa, cerita, dan karya.

‎”Karena di balik setiap karya, selalu ada sebuah cerita. Dan setiap cerita akan selalu menemukan cara baru untuk dirayakan,” pungkas Bayu.***

Komentar

Lini Masa