KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) — Politeknik Al Islam Bandung (PAIB) memasuki usia ke-25 dengan memperkuat kontribusinya di bidang pendidikan vokasi kesehatan. Momentum seperempat abad tersebut ditandai dengan peluncuran resmi Program Studi Sarjana Terapan (D4) Teknologi Radiologi Pencitraan (TRP).
Peluncuran program studi tersebut menjadi bagian dari puncak Dies Natalis ke-25 PAIB yang digelar pada Sabtu, 26 September 2026, dengan mengusung tema “25 Years of Legacy: Building the FAST Generation for the Future”.
Program Studi D4 Teknologi Radiologi Pencitraan telah memperoleh izin penyelenggaraan pada 4 Agustus 2026. Kehadirannya menjadi langkah PAIB dalam menyiapkan sumber daya manusia kesehatan yang kompeten dan adaptif terhadap perkembangan teknologi pencitraan medis.
Direktur Politeknik Al Islam Bandung, dr. Shiane Hanako Sheba, MKM., MCE., mengatakan pembukaan program studi tersebut merupakan bagian dari milestone pengembangan institusi sekaligus bentuk tanggung jawab PAIB dalam menjawab kebutuhan tenaga kesehatan profesional.
Menurutnya, lulusan D4 Teknologi Radiologi Pencitraan diarahkan memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan pelayanan radiologi modern, disertai karakter dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi.
Visi program studi tersebut mencakup pengembangan pendidikan radiologi yang Islami, Tepat Terap Guna, unggul dalam pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di bidang radiologi pencitraan canggih, serta berstandar internasional.
Mahasiswa nantinya dipersiapkan untuk memiliki kompetensi yang dapat mendukung pengembangan karier di bidang pencitraan lanjut, termasuk modalitas CT, MRI dan DSA, teleradiologi dan sistem PACS, proteksi radiasi, jaminan mutu dan QA/QC, hingga fungsi manajerial dan kepemimpinan pada unit pelayanan radiologi sesuai kompetensi dan ketentuan yang berlaku.
PAIB menyebut Program Studi D4 Teknologi Radiologi Pencitraan tersebut menjadi satu-satunya program studi TRP di Kota Bandung. Kehadirannya diharapkan ikut memperkuat ekosistem pendidikan radiologi dengan mengintegrasikan kompetensi profesional, pemanfaatan teknologi, penguatan karakter, dan kesiapan menghadapi kebutuhan pelayanan kesehatan masa depan.
Kebutuhan tenaga radiografer juga menjadi perhatian dalam rangkaian Dies Natalis ke-25 PAIB. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dr. R. Vini Adiani Dewi, MMRS., dalam talkshow “Beyond the X-Ray: Masa Depan Radiologi, Kompetensi, dan Peluang Karier” memaparkan masih besarnya kebutuhan radiografer di Jawa Barat.
Berdasarkan proyeksi kebutuhan SDM kesehatan radiologi tahun 2026 yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, Jawa Barat membutuhkan 7.744 radiografer. Sementara itu, ketersediaan tenaga radiografer baru mencapai 3.068 orang.
Dengan demikian, masih terdapat kekurangan sebanyak 4.676 radiografer atau tingkat pemenuhan baru sekitar 39,6 persen.
Kebutuhan tersebut diperkirakan terus berkembang seiring penguatan layanan kesehatan dan sistem rujukan, termasuk melalui program SIHREN (Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network) yang mendorong penguatan rumah sakit rujukan melalui dukungan peralatan kesehatan dan teknologi pencitraan medis.
Bertambahnya fasilitas dan modalitas diagnostik tersebut perlu diikuti dengan ketersediaan tenaga radiografer yang memadai agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Ketua Persatuan Ahli Radiografi Indonesia (PARI) Pengda Jawa Barat, Drs. Yusuf Iskandar, S.ST., mengatakan perkembangan teknologi juga membawa perubahan terhadap kompetensi yang dibutuhkan radiografer.
Pemanfaatan Computed Radiography/Digital Radiography (CR/DR), Picture Archiving and Communication System (PACS), Radiology Information System (RIS), Artificial Intelligence (AI), hingga teleradiologi membuat profesi radiografer tidak lagi hanya membutuhkan kemampuan teknis dalam mengoperasikan peralatan pencitraan.
Radiografer juga dituntut memiliki kemampuan digital, memahami keselamatan radiasi, menerapkan praktik berbasis bukti, melakukan analisis, menjalankan jaminan mutu, serta mampu berkolaborasi dengan berbagai profesi kesehatan.
Pengembangan kompetensi tersebut juga menjadi perhatian dalam The 1st PAIB International Conference on Fostering Sustainable Synergy Across Health, Education, and Economic (IC-HEES) 2026.
Presiden International Society of Radiographers and Radiological Technologists (ISRRT), Napapong Pongnapang, Ph.D., dalam sesi “Radiographer Competency Development & Global Health Integration” menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi radiografer, harmonisasi standar pendidikan, pengembangan profesional berkelanjutan atau Continuing Professional Development (CPD), serta peningkatan kemampuan digital dalam profesi radiografi.
Konferensi internasional perdana PAIB tersebut diikuti sekitar 400 peserta dan menghadirkan 50 presentasi oral. Sejumlah pembicara dan pakar dari Amerika Serikat, Jepang, Thailand, Filipina, dan Australia turut membahas isu kesehatan, pendidikan, ekonomi, transformasi digital, ketahanan masyarakat, serta masa depan tenaga kesehatan.
IC-HEES 2026 sekaligus menjadi bagian dari upaya PAIB memperluas jejaring akademik internasional dan membuka peluang kolaborasi antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, pemerintah, industri, serta berbagai pemangku kepentingan.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Implementation Agreement (IA) ICHEES dengan Universitas Bhakti Kencana dan Politeknik Pajajaran sebagai bagian dari penguatan implementasi kerja sama akademik.
Selain agenda akademik, Dies Natalis ke-25 PAIB diisi PAIB Inspiring Talk bertema “Beyond Limits: Building an Entrepreneurial Mindset for the FAST Generation” yang menghadirkan Novi Setia Nurviat, Founder & Owner PT Inovindo Digital Media.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya PAIB membangun pola pikir kewirausahaan, keberanian mengembangkan potensi, serta kemampuan generasi muda menghadapi perubahan dan tantangan dunia kerja. Nilai tersebut selaras dengan budaya organisasi PAIB yang dibangun melalui prinsip FAST, yakni Fathonah, Amanah, Shiddiq, dan Tabligh.
Memasuki usia 25 tahun, PAIB juga memberikan apresiasi kepada sejumlah pihak yang berkontribusi dalam perjalanan institusi sejak berdiri pada 2001. Penghargaan diberikan kepada para pendiri PAIB, jajaran pengurus Yayasan Rumah Sakit Islam Kerja Sama Wanita Islam (YRSI KSWI) Jawa Barat, mantan direktur, tokoh perintis program D4, almarhum Bapak Kusnanto, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Ketua Pengda PARI Jawa Barat, serta rumah sakit mitra.
Direktur Politeknik Al Islam Bandung menyampaikan, usia 25 tahun menjadi momentum bagi PAIB untuk memperkuat fondasi sekaligus menatap perkembangan pendidikan vokasi kesehatan ke depan.
PAIB berkomitmen memperkuat kualitas pendidikan, memperbarui fasilitas, mengembangkan program studi, serta memperluas kerja sama nasional dan internasional.
Komitmen tersebut diarahkan untuk mewujudkan visi PAIB sebagai lembaga pendidikan tinggi vokasi yang Islami, Tepat Terap Guna, Unggul, dan Berstandar Internasional.
Peluncuran D4 Teknologi Radiologi Pencitraan menjadi salah satu bentuk nyata komitmen tersebut. Program studi baru ini sekaligus menandai bagaimana perjalanan 25 tahun PAIB diterjemahkan ke dalam pengembangan pendidikan yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia kesehatan.
Melalui momentum Dies Natalis ke-25, PAIB menegaskan komitmennya membangun generasi tenaga kesehatan yang tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga karakter, kemampuan beradaptasi, literasi teknologi, semangat kolaborasi, serta nilai-nilai FAST.***












Komentar