NTT (TUGUBANDUNG.ID) – Pemandangan anak-anak belajar di bawah pohon kini tak lagi terjadi di MI Al-Hidayah, Pulau Kukusan, Nusa Tenggara Timur. Setelah dua ruang kelas direvitalisasi, 46 siswa sekolah tersebut kini dapat belajar di empat ruang kelas yang lebih layak dan nyaman.
Perubahan itu menjadi bagian dari kepedulian Polda NTT terhadap akses pendidikan masyarakat di wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan fasilitas.
Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si., meresmikan revitalisasi MI Al-Hidayah sekaligus menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat dan tenaga pendidik yang terdampak gempa bumi Flores. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa (1/9/2026).
Untuk mencapai Pulau Kukusan, rombongan harus menempuh perjalanan menggunakan kapal. Akses menuju pulau tersebut relatif terbatas karena lokasinya jauh dari pusat aktivitas masyarakat.
Di tengah kondisi tersebut, Kapolda NTT hadir langsung untuk melihat kondisi warga sekaligus memastikan kebutuhan pendidikan dan pemulihan masyarakat pascabencana mendapat perhatian.
Revitalisasi MI Al-Hidayah dilakukan Direktorat Polairud Polda NTT pada Juni 2026. Pekerjaan tersebut mencakup perbaikan dua ruang kelas.
Sebelum direnovasi, sekolah hanya memiliki dua ruang yang dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Keterbatasan tersebut membuat sebagian siswa harus mengikuti pembelajaran di bawah pohon.
Kondisi lingkungan sekolah juga tidak selalu mendukung proses belajar. Kepala MI Al-Hidayah, Husen, mengatakan kegiatan pembelajaran bahkan kerap terganggu oleh keberadaan kambing.
“Perjuangan menyelenggarakan pendidikan di Pulau Kukusan memang tidak mudah. Dulu sebelum direnovasi pada Juni 2026 oleh Direktorat Polairud Polda NTT, hanya dua ruangan yang bisa digunakan untuk belajar. Sebagian siswa harus belajar di bawah pohon dan kegiatan belajar juga sering terganggu oleh kambing,” ujar Husen.
Kini, setelah dua ruang kelas diperbaiki, MI Al-Hidayah memiliki empat ruang yang dapat digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Bagi 46 siswa dan empat tenaga guru di sekolah tersebut, perubahan itu bukan sekadar perbaikan bangunan. Bertambahnya ruang kelas memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar dengan lebih nyaman dan para guru untuk menjalankan proses pendidikan secara lebih optimal.
MI Al-Hidayah telah berdiri sejak 2001 dan menjadi satu-satunya lembaga pendidikan di Pulau Kukusan. Keberadaan sekolah tersebut menjadi sangat penting bagi anak-anak di pulau tersebut untuk memperoleh pendidikan tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat tinggal mereka.
Kapolda NTT Irjen Pol. Dr. Rudi Darmoko mengatakan, kondisi sekolah dan semangat para pendidik di Pulau Kukusan menjadi perhatian setelah dirinya melihat langsung situasi di lapangan.
“Saat melihat langsung kondisi sekolah dan perjuangan para pendidik di Pulau Kukusan, saya merasa prihatin sekaligus mengapresiasi semangat mereka yang tetap bertahan memberikan pendidikan di tengah keterbatasan,” kata Rudi.
Menurutnya, masih adanya sekolah dengan keterbatasan fasilitas menunjukkan perlunya perhatian dan dukungan bersama untuk memastikan anak-anak di wilayah pelosok tetap mendapatkan pendidikan yang layak.
“Saya berharap bantuan ini dapat membuat anak-anak belajar lebih nyaman dan para pendidik terus semangat mendampingi mereka meraih cita-cita,” ujarnya.
Kunjungan ke Pulau Kukusan juga tidak hanya berfokus pada sektor pendidikan. Polda NTT menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat dan tenaga pendidik yang terdampak gempa bumi Flores.
Bantuan yang diberikan antara lain sembako, susu, mainan anak, dan perlengkapan sekolah. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat selama menjalani proses pemulihan pascabencana.
Perhatian juga diberikan terhadap kondisi psikologis anak-anak. Polda NTT menggelar kegiatan trauma healing untuk membantu anak-anak mengurangi rasa takut dan kecemasan setelah mengalami dampak gempa bumi.
Kehadiran Kapolda NTT bersama Ketua Bhayangkari Daerah NTT Ny. Vily Rudi Darmoko, Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal, S.I.K., M.H., sejumlah Pejabat Utama Polda NTT, serta Kapolres Manggarai Barat menunjukkan upaya Polri untuk menjangkau masyarakat hingga wilayah dengan akses terbatas.
Pelayanan kepolisian tidak hanya diwujudkan melalui aspek keamanan, tetapi juga melalui dukungan terhadap pendidikan, bantuan kemanusiaan, serta pemulihan masyarakat yang terdampak bencana.
Bagi anak-anak MI Al-Hidayah, perubahan dari belajar di bawah pohon menuju ruang kelas yang lebih layak menjadi pengalaman penting. Mereka kini memiliki ruang yang lebih nyaman untuk belajar, bermain, dan menata cita-cita.
Revitalisasi dua ruang kelas tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keterbatasan geografis tidak seharusnya membatasi hak anak untuk memperoleh pendidikan.
Dari Pulau Kukusan, harapan itu tumbuh melalui ruang-ruang kelas yang kini lebih layak. Bencana boleh datang, tetapi kesempatan anak-anak untuk belajar dan meraih masa depan tidak boleh ikut hilang.
Melalui kepedulian dan pelayanan hingga ke wilayah pelosok, Polda NTT menegaskan semangat untuk terus hadir bersama masyarakat dan menguatkan Indonesia dari wilayah timur.***













Komentar