Rakernas JKPI ke-13 Digelar di Bandung pada 2027

KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Kota Bandung dipastikan menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jejaring Kota Pusaka Indonesia (JKPI) ke-13 pada 2027 mendatang. Kepastian tersebut ditetapkan dalam Rakernas JKPI ke-12 yang berlangsung di Ternate yang berlangsung 26-30 Agustus 2026.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung pun mulai mematangkan berbagai persiapan untuk menyambut agenda nasional yang mempertemukan pemerintah daerah dari berbagai kota dan kabupaten anggota JKPI tersebut.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa mengatakan, persiapan sebagai tuan rumah telah dilakukan sejak jauh hari, termasuk dari sisi penganggaran.

“Alhamdulillah kemarin baru pulang dari Ternate. Di sana ada rapat kerja nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia atau sekarang disebut Jejaring Kota Pusaka Indonesia ke-12 di Ternate. Pada saat Rakernas kemarin sudah diputuskan tahun depan Kota Bandung definitif menjadi tuan rumah Rakernas JKPI ke-13,” ujar Adi di Balai Kota Bandung, Senin 31 Agustus 2026.

Menurutnya, keputusan Bandung menjadi tuan rumah sebenarnya telah dipersiapkan sejak beberapa tahun sebelumnya. Karena itu, pada 2026 ini Pemkot Bandung mulai mempersiapkan kebutuhan sebagai tuan rumah, terutama dari aspek anggaran dan konsep kegiatan.

“Persiapannya tentu di tahun ini sebagai tuan rumah harus mempersiapkan sisi anggaran. Kalau konsep acara masih akan dibicarakan karena Pak Wali juga kemarin baru memberikan arahan-arahan umum,” katanya.

Adi menuturkan, JKPI memiliki anggota yang cukup besar, yakni sekitar 79 kota dan kabupaten. Jumlah tersebut membuat Bandung berpotensi menjadi magnet bagi banyak daerah untuk hadir dalam pelaksanaan Rakernas tahun depan.

“Kelihatannya ke Bandung ini akan banyak yang berminat untuk hadir. Total jumlah anggota Jejaring Kota Pusaka Indonesia itu 79 kota kabupaten,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Rakernas JKPI bukan sekadar pertemuan antarpemerintah daerah, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan kebudayaan masing-masing daerah.

Menurut Adi, Bandung memiliki karakter khas sebagai kota yang berkembang dalam era modern dan kosmopolitan. Berbeda dengan sejumlah daerah yang memiliki sejarah kerajaan, Bandung tumbuh sebagai kota yang mempertemukan berbagai pengaruh budaya.

“Bandung ini memang salah satu ikon menjadi kota kosmopolitan. Dibangunnya juga memang di era modern. Bandung bukan zaman kerajaan,” katanya.

Karakter tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu kekuatan yang dapat ditawarkan kepada peserta Rakernas JKPI XIII. Bandung memiliki sejumlah ikon sejarah dan kebudayaan, mulai dari Konferensi Asia Afrika, arsitektur Art Deco, hingga beragam seni budaya tradisional dan kontemporer.

“Jelas ikonnya itu kan Konferensi Asia Afrika. Kemudian tentu arsitekturnya arsitektur Art Deco. Selain itu Bandung juga kaya dengan budaya tradisional,” tutur Adi.

Ia mencontohkan, budaya tradisional seperti benjang dan Ulin Barong yang berkembang di wilayah timur Kota Bandung. Selain itu, Bandung juga memiliki kekayaan budaya dari komunitas Tionghoa serta ekosistem musik yang sangat beragam.

“Dari mulai yang jazz sampai yang metal. Metal itu yang ada di Ujungberung. Burgerkill itu kan mendunia, underground,” ujarnya.

Tak hanya budaya dan sejarah, kuliner juga akan menjadi bagian dari kekayaan Bandung yang diperkenalkan kepada para peserta Rakernas.

Adi mengaku akan memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkenalkan Bandung secara lebih utuh kepada para tamu, mulai dari sejarah perjuangan, seni budaya tradisional, arsitektur, musik, hingga kuliner.

“Banyak sekali akan kita tawarkan dan kita persilakan nanti para tamu untuk menikmati kekayaan khasanah sejarah budaya, termasuk seni budaya tradisional yang ada di Kota Bandung,” katanya.***

Komentar