KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Potensi banjir akibat penyempitan dan pendangkalan sungai, persoalan sampah, hingga kebutuhan perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu) menjadi sejumlah aspirasi warga Kelurahan Cipadung Kulon, Kecamatan Panyileukan, saat kegiatan Siskamling Siaga Bencana, Selasa (27/10/2026).
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan berdialog langsung dengan pengurus RW dan jajaran kewilayahan untuk mengidentifikasi berbagai persoalan tersebut serta mendorong tindak lanjut oleh perangkat daerah terkait sesuai kewenangannya.
Lurah Cipadung Kulon Cecep Anwar Hidayat menjelaskan, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah penyempitan dan sedimentasi sungai yang meningkatkan risiko banjir ketika hujan deras.
“Permasalahan yang ada di Cipadung Kulon yang pertama adalah terjadinya penyempitan dan sedimentasi kali anak Sungai Cinambo di RW 11. Selain itu, ada penyempitan di Sungai Ciwaru RW 1 yang mengakibatkan pendangkalan sungai dan menyebabkan banjir saat hujan deras,” ujar Cecep.
Persoalan persampahan juga menjadi perhatian, terutama kondisi tempat penampungan sementara (TPS) Pangeritan di RW 7. Menurut laporan yang disampaikan, TPS tersebut menerima sampah dari luar Kecamatan Panyileukan sehingga memicu antrean kendaraan pengangkut sampah, munculnya lalat, dan bau tidak sedap di sekitar lokasi.
Pengangkutan sampah saat ini dilakukan dua kali dalam sepekan. Penanganan lebih lanjut akan dikoordinasikan dengan mempertimbangkan kuota pengangkutan dan ketersediaan lahan untuk TPS baru.
Selain itu, warga mengusulkan perbaikan jalan dan gang, pembenahan saluran drainase, pemangkasan pohon berisiko tumbang, penambahan penerangan jalan umum (PJU), bantuan rutilahu, serta penyediaan sarana pengelolaan sampah berupa komposter dan gerobak sampah.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Farhan meminta perangkat daerah terkait melakukan survei lapangan dan berkoordinasi untuk menentukan langkah penanganan berdasarkan tingkat kebutuhan dan kondisi di lapangan.
Untuk bantuan rutilahu, ia meminta tingkat kerusakan rumah diperiksa terlebih dahulu agar kebutuhan penanganan dapat diketahui dan realisasi bantuan yang mendesak bisa dipercepat. Farhan juga membuka peluang dukungan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan (TJSL).
“Kalau parah, enggak usah nunggu tahun depan. Kita cari TJSL atau saya akan dorong untuk realisasinya di tahun ini,” kata Farhan.
Terkait keselamatan lingkungan, Farhan meminta pemeriksaan terhadap pohon-pohon yang dinilai berisiko di sepanjang Jalan Sukamaju dan Jalan Sindangsari. Pemangkasan perlu dilakukan sesuai kebutuhan dan tingkat risiko, tanpa mengabaikan fungsi pohon dalam menjaga ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Bandung.
“Yang penting aman. Tolong dipapas saja seperlunya,” ujarnya.
Sementara itu, penanganan persoalan sampah akan dikoordinasikan lebih lanjut, termasuk mengkaji kemungkinan penambahan frekuensi pengangkutan. Farhan juga mendorong penguatan pengelolaan sampah dari tingkat RW melalui pemilahan, pengomposan, dan pengolahan yang disesuaikan dengan kondisi wilayah.
Dalam dialog tersebut, Farhan mengapresiasi partisipasi pengurus RW yang aktif menyampaikan persoalan sekaligus menawarkan gagasan untuk memperbaiki kondisi lingkungan masing-masing.
Menurutnya, penyelesaian persoalan kewilayahan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah kota, kecamatan, kelurahan, dan masyarakat. Koordinasi dengan unsur kewilayahan lainnya, termasuk Babinsa dan Bhabinkamtibmas, juga diperlukan untuk mendukung penanganan berbagai kebutuhan warga.
Melalui kegiatan Siskamling Siaga Bencana, Pemkot Bandung mendorong deteksi dini terhadap persoalan lingkungan dan penguatan koordinasi lintas perangkat daerah agar aspirasi masyarakat dapat ditindaklanjuti sesuai kebutuhan dan kewenangan masing-masing.***











Komentar