GUTASI “Pohon Juga Bisa ‘Berkeringat Dingin’? Kenali Fenomena Gutasi, Si Tanaman Penangis”

Oleh: Damar Satriana, Gabrillia Sopala V Samosir, Hakika Syauqiya Imani, Rachelya Andira Erly, Rahma Lallita Setiawan, Syifa Aulia Fadilah

Program Studi Biologi Universitas Pendidikan Indonesia Correspondence :

Gutasi © Wiedzie, 2016

Pernahkah Anda melihat tetesan air di ujung daun saat pagi hari? Banyak orang berpikir bahwa tetesan itu cuma air embun biasa. Padahal, dalam beberapa situasi, air tersebut berasal dari dalam tubuh tanaman itu sendiri melalui proses yang dinamakan gutasi. Fenomena ini sering disebut sebagai “tanaman menangis” karena terlihat seperti ada air mata yang keluar dari ujung daun.

Gutasi adalah proses keluarnya cairan dari jaringan tumbuhan melalui struktur khusus yang disebut hidatoda. Proses ini biasanya terjadi pada malam hingga pagi hari, saat udara lembap dan penguapan air berlangsung rendah. Dalam kondisi tersebut, akar tanaman masih menyerap air dari tanah, sehingga tekanan pada akar meningkat dan mendorong cairan keluar melalui tepi atau ujung daun.

Berbeda dengan embun yang terbentuk dari pengembunan uap air di udara, cairan gutasi berasal langsung dari dalam jaringan tanaman. Karena itu, cairan yang keluar bukan hanya air saja, tetapi juga mengandung mineral, gula, asam amino, serta senyawa organik lainnya. Setelah kering, cairan gutasi sering meninggalkan noda putih akibat kandungan garam mineral di dalamnya.

Fenomena gutasi cukup sering ditemukan pada tanaman seperti padi, jagung, rumput, hingga beberapa tanaman hias. Biasanya gutasi lebih mudah terlihat setelah hujan turun atau ketika tanaman disiram terlalu banyak. Selain itu, suhu dingin, kelembapan tinggi, dan kurangnya angin juga membantu mendukung terjadinya proses ini.

Dari sisi fisiologi, gutasi menunjukkan bahwa tanaman masih terus melakukan pengangkutan air meskipun pada malam hari. Ini menunjukkan bahwa tanaman memiliki sistem yang rumit dan berubah terus-menerus untuk mengangkut air. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Forests menjelaskan bahwa pergerakan air di dalam tumbuhan berkaitan erat dengan perubahan lingkungan di sekitarnya.

Gutasi juga punya kaitan penting dengan bidang pertanian, lho. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa cairan gutasi dapat membawa sisa pestisida sistemik maupun mikroorganisme tertentu. Karena itu, fenomena ini tidak hanya menarik dipelajari dalam fisiologi tumbuhan, tetapi juga penting dalam kajian ekologi dan pertanian modern.

Menariknya lagi, gutasi juga bisa menjadi tanda kondisi tanaman. Tanaman yang terlalu banyak menyerap air atau berada di tanah yang sangat lembap biasanya lebih sering mengalami gutasi. Tetesan air yang muncul di ujung daun menunjukkan bahwa tanaman masih aktif mengangkut air di dalam tubuhnya, bahkan saat malam hari. Meskipun terlihat seperti tanaman sedang “berkeringat”, gutasi sebenarnya adalah cara alami yang digunakan tumbuhan untuk mempertahankan keseimbangan air dalam tubuhnya. Karena itu, fenomena gutasi bukan cuma unik untuk dilihat, tapi juga bisa membantu kita memahami kondisi dan aktivitas tanaman.

Jadi, ketika melihat tetesan air di ujung daun pada pagi hari, jangan langsung menganggapnya sebagai embun. Bisa jadi, tumbuhan tersebut sedang “menangis” melalui proses gutasi.

REFERENSI

Campbell, N. A., et al. (2018). Campbell Biology. Pearson Education.

Rodríguez-Calcerrada, J., et al. (2022). Water Relations in Forest Ecosystems. Forests, 13(1), 31. https://doi.org/10.3390/f13010031

Taiz, L., Zeiger, E., Møller, I. M., & Murphy, A. (2015). Plant Physiology and Development.

Sunderland: Sinauer Associates.

Unsplash.      (n.d.).      Close-up      tetesan      air      pada      daun      hijau.       Diakses        dari: https://unsplash.com/id/foto/close-up-tetesan-air-pada-daun-hijau-x7appZ1U7nM

Komentar