Dari Ruang Bermain ke Perlindungan Anak: FKS Universitas Telkom Hadirkan Board Game Edukatif untuk Ibu-Ibu PKK Bojongsoang

KABUPATEN BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) -Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial (FKS) Universitas Telkom memperkuat upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak melalui pendekatan edukasi yang lebih partisipatif dan ramah anak.

Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Penguatan Kapasitas TP-PKK Bojongsoang dalam Deteksi Dini dan Pencegahan Kekerasan Seksual pada Anak”, FKS memperkenalkan Board Game BERAKSI (Berani Atasi Kekerasan Seksual Sejak Dini) kepada ibu-ibu PKK dan kader RW di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (21/5) tersebut diikuti 21 peserta dan dirancang untuk memperkuat peran keluarga sebagai lini pertama perlindungan anak dari berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual yang kini semakin kompleks bentuk dan salurannya.

Board Game BERAKSI merupakan media pembelajaran edukatif yang dikembangkan sejak 2024 untuk membantu anak usia Sekolah Dasar memahami konsep perlindungan diri melalui metode yang ringan, interaktif, dan menyenangkan. Melalui pendekatan permainan, materi yang selama ini kerap dianggap sensitif diharapkan dapat disampaikan secara lebih aman dan mudah dipahami.

Tiga dosen dari Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial Universitas Telkom hadir sebagai narasumber dalam kegiatan ini, yakni Alila Pramiyanti, S.Sos., M.Si., Ph.D., Anggian Lasmarito Pasaribu, S.I.Kom., M.A., dan Raissa Azaira Arief, S.Psi., M.Si.

Pada sesi pembuka, Alila Pramiyanti memaparkan dinamika kasus kekerasan terhadap anak dan pentingnya peningkatan kewaspadaan keluarga. Ia menekankan bahwa kekerasan terhadap anak tidak selalu berbentuk fisik, tetapi juga dapat hadir dalam bentuk perlakuan yang melukai kondisi emosional dan psikologis anak.

Menurutnya, perkembangan teknologi juga memperluas potensi terjadinya kekerasan seksual melalui jalur non-kontak, termasuk eksploitasi di ruang digital dan media sosial. Di sisi lain, banyak kasus justru melibatkan orang-orang yang berada di lingkungan terdekat anak.

Sementara itu, Anggian Lasmarito Pasaribu menyoroti pentingnya perubahan pendekatan edukasi kepada anak. Menurutnya, materi mengenai perlindungan diri dan pencegahan kekerasan seksual perlu dikemas melalui metode yang lebih interaktif agar tidak menimbulkan rasa takut maupun tabu.

Pendekatan storytelling, kata dia, menjadi salah satu metode yang efektif karena mampu mengubah topik sensitif menjadi pengalaman belajar yang aktif dan menyenangkan. Pendekatan tersebut dapat diterapkan melalui berbagai media seperti cerita bergambar, video animasi, komik, kartu edukasi, hingga permainan edukatif seperti board game.

Dari perspektif psikologi, Raissa Azaira Arief menjelaskan bahwa keterbukaan anak kepada orang tua sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi yang dibangun di rumah.

Ia menilai anak yang enggan bercerita bukan selalu karena tidak percaya, tetapi sering kali karena takut disalahkan, malu, atau khawatir respons orang tua akan terlalu reaktif.

Karena itu, orang tua didorong membangun kebiasaan berdialog sejak dini, menjadi pendengar yang hadir secara penuh, serta menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman bagi anak untuk menyampaikan pengalaman maupun perasaannya.

Setelah sesi materi, peserta mengikuti praktik langsung memainkan Board Game BERAKSI dalam kelompok kecil. Melalui simulasi tersebut, para peserta diajak memahami cara menggunakan media permainan sebagai sarana membuka percakapan tentang perlindungan diri dan pencegahan kekerasan seksual kepada anak.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Ketua Posyandu Mawarsari 15 Bojongsoang, Lina Irawati, menyampaikan apresiasi atas materi dan metode yang diperkenalkan.

“Program ini sangat bermanfaat bagi kami. Ilmu yang disampaikan akan kami teruskan dan upayakan untuk diterapkan di kegiatan posyandu dan lingkungan masyarakat,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial Universitas Telkom menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui kolaborasi antara pendekatan komunikasi, psikologi, dan inovasi media edukasi.

Ke depan, tim pengembang Board Game BERAKSI berencana melanjutkan pengembangan materi dan memperluas implementasi program agar dapat menjangkau kelompok usia yang lebih luas, termasuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), sehingga upaya pencegahan kekerasan seksual pada anak dapat diperkuat secara berkelanjutan dari lingkungan keluarga hingga komunitas.***

Komentar