Akhlak Camp DHIS Secondary Lodaya, Cara Sekolah Tanamkan Disiplin dan Ketangguhan

KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) -!Darul Hikam Integrated School (DHIS) Secondary Lodaya kembali menggelar agenda tahunan penanaman karakter unggulan bertajuk “Akhlak Camp”. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis (03/09/2026) hingga Sabtu (05/09/2026) ini, dipusatkan di Pusat Pendidikan Keuangan (PUSDIKKU) TNI, Kota Bandung, dan diikuti oleh 66 siswa dari jenjang kelas 8 dan kelas 11.

Mengusung tema utama “Discipline is the Heartbeat” (Disiplin Adalah Detak Jantung), Akhlak Camp dirancang untuk membentuk nilai-nilai kedisiplinan, ketangguhan fisik, kemandirian, serta penguatan mental spiritual para peserta didik di bawah binaan langsung para pelatih profesional dari lingkungan TNI.

Staf Kesiswaan DHIS Secondary Lodaya, Muhammad Reza Fawzi Akbar, S.Hum., menjelaskan bahwa pemilihan lokasi militer dan pelibatan instruktur TNI bertujuan memberikan penggalangan kedisiplinan tingkat tinggi yang nyata bagi para siswa.

“Ini bukan militerisasi, melainkan sarana digembleng oleh orang-orang yang menjadikan kedisiplinan sebagai nafas harian mereka. Kami ingin siswa merasakan vibes kedisiplinan tersebut. Sebab, disiplin adalah salah satu bagian paling fundamental dari akhlak,” ujar Reza saat ditemui di lokasi kegiatan, PUSDIKKU TNI Bandung, pada Jum’at, (04/09/2026).

Selama kegiatan berlangsung, para siswa dilatih ketepatan waktu, kerapian, hingga daya tahan fisik melalui rangkaian apel, materi kepemimpinan, dan latihan lapangan. Kedisiplinan tersebut diharapkan dapat mengikis kebiasaan menunda-nunda dan membentuk ketangguhan mental siswa saat kembali ke lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari.

Tidak hanya menggembleng fisik dan kedisiplinan formal, Akhlak Camp juga menyajikan sesi pembentukan karakter emosional dan sosial. Salah satunya melalui aktivitas refleksi malam bertema “Saya di Mata Teman-Teman”.

“Dalam sesi refleksi ini, siswa saling menuliskan pandangan objektif dan positif mengenai satu sama lain secara melingkar. Ini menjadi media saling mengenal lebih dalam serta membangun rasa empati di antara mereka,” tambah Reza.

Selain itu, interaksi langsung dengan para pelatih militer dari berbagai latar belakang daerah di Indonesia membuka wawasan sosial para peserta. Hal ini melatih siswa untuk keluar dari zona nyaman dan belajar dari nilai-nilai perjuangan hidup para instruktur.

“Anak-anak dilatih agar tidak ‘kurung batok’ (sempit pandangan). Mereka dapat melihat langsung bagaimana para pelatih berjuang dari berbagai daerah hingga mencapai posisi saat ini. Harapannya, hikmah dan kedisiplinan baik ini terus terbawa konsisten ke sekolah,” pungkasnya.***

Komentar