KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas) Bandung bekerja sama dengan Universiti Malaysia Sabah (UMS) menyelenggarakan Workshop Guru Bimbingan dan Konseling (BK) sebagai bagian dari Program Diktisaintek Berdampak, 20 Juli 2026. Mengusung tema “Strengthening Guidance and Counseling Competencies for Educators in the Digital Era: Building Resilient, Adaptive, and Character-Oriented Students”, kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas guru BK dalam mendampingi siswa menghadapi tantangan kehidupan di era digital.
Wakil Dekan III FISIP Unpas, Prof. Dr. Ida Hindarsah, M.M., M.Si., dalam sambutannya mengapresiasi antusiasme para guru BK yang hadir di tengah kesibukan mereka. Menurutnya, workshop ini menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus memperluas wawasan melalui kolaborasi internasional.
“Alhamdulillah di tengah-tengah kesibukan Bapak dan Ibu masih bisa menyempatkan hadir untuk sama-sama menggali ilmu dari seorang pakar yang kami hadirkan langsung dari Malaysia. Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi ruang brainstorming yang bermanfaat bagi kita semua,” ujarnya.
Workshop menghadirkan empat narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi yang memberikan perspektif komprehensif mengenai peran guru BK dalam membentuk generasi yang tangguh, adaptif, dan berkarakter.
Narasumber pertama, Dr. Tuan Norbalkish Tuan Abdullah dari Universiti Malaysia Sabah, menyoroti pentingnya penguatan kompetensi konseling bagi pendidik di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Ia menjelaskan bahwa siswa saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketergantungan terhadap gawai dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), banjir informasi, kecemasan, kesepian, hingga persoalan pembentukan identitas diri.
Menurutnya, guru tidak lagi hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai mentor, fasilitator pembelajaran, penopang emosional, pembentuk karakter, sekaligus pembimbing karier. Untuk itu, guru BK perlu menguasai keterampilan konseling dasar seperti active listening, mengajukan pertanyaan terbuka, menunjukkan empati, serta mampu merefleksikan perasaan siswa. Ia juga menekankan pentingnya kemampuan guru mengenali tanda-tanda tekanan psikologis pada peserta didik serta membangun resiliensi, adaptabilitas, karakter, dan kewargaan digital melalui pemanfaatan teknologi dan AI secara etis.
Sementara itu, Dr. Almadina Rakhmaniar, S.Psi., M.I.Kom., Wakil Ketua KPID Jawa Barat, memaparkan hasil riset KPID Jawa Barat mengenai psikologi penyiaran (broadcasting psychology) dan dampak media digital terhadap generasi muda di Jawa Barat.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan tingginya fenomena nomophobia, yaitu kecemasan ketika tidak dapat mengakses telepon seluler, yang dialami oleh 38,10 persen responden. Selain itu, lebih dari 70 persen responden mengalami phubbing, yakni kecenderungan mengabaikan interaksi sosial karena lebih fokus pada gawai. Penelitian juga mencatat 68,39 persen responden mengalami gangguan fokus, 52,41 persen mengalami stres akibat media sosial, dan 50,08 persen terdampak fenomena social comparison.
Dr. Almadina menjelaskan bahwa paparan konten digital secara terus-menerus memengaruhi aspek kognitif, afektif, dan konatif sehingga membentuk pola pikir dan perilaku yang relatif menetap, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan remaja. Sebagai langkah mitigasi, ia merekomendasikan penguatan literasi digital, penerapan program digital detox di sekolah, serta penguatan regulasi pembatasan usia akses media sosial.
Perspektif dunia industri disampaikan oleh Refhanie Bunga N.A., S.Hub.Int., perwakilan Bandung Lautan Admin, melalui materi “Beyond the Classroom: Membangun Generasi Ready for Future Melalui Sinergi Sekolah, Industri, dan Komunitas”.
Ia menegaskan bahwa dunia kerja saat ini tidak lagi hanya menilai prestasi akademik, tetapi juga kemampuan praktis, karakter, jejaring, serta kesiapan beradaptasi. Menurutnya, berbagai profesi baru seperti AI Prompt Engineer, Content Strategist, dan pekerjaan berbasis ekonomi kreatif menjadi bukti bahwa kebutuhan industri terus berubah.
Karena itu, siswa perlu dibekali kemampuan komunikasi, berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, serta growth mindset. Ia juga mendorong komunitas menjadi “laboratorium soft skill” yang dapat memperkaya pengalaman belajar siswa. Dalam konteks tersebut, guru BK diharapkan bertransformasi dari sekadar career advisor menjadi career navigator yang mampu membimbing peserta didik merancang masa depan sesuai potensi dan perkembangan zaman.
Adapun Imam Budi, S.I.Kom., M.I.Kom., Sekretaris Jenderal Himpunan Konten Kreator Indonesia (HAKKI), mengangkat tema pentingnya digital storytelling sebagai strategi penguatan karakter di lingkungan sekolah.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat kini memasuki era attention economy, ketika perhatian menjadi aset yang sangat bernilai. Dalam kondisi tersebut, konten yang mampu menyentuh emosi akan lebih mudah diterima dan berpengaruh terhadap perubahan perilaku.
Di tengah maraknya hoaks, cyberbullying, judi daring, hingga jejak digital negatif, Imam mengajak guru BK tidak hanya berperan sebagai konselor, tetapi juga menjadi storyteller yang mampu menyampaikan nilai-nilai positif melalui cerita, video pendek, podcast, maupun media sosial sekolah. Bersama HAKKI, ia mengajak para pendidik membangun ekosistem budaya digital yang sehat, kreatif, produktif, dan bermanfaat bagi generasi muda Indonesia.
Menutup kegiatan, Prof. Ida Hindarsah menyampaikan harapannya agar workshop ini memberikan manfaat nyata bagi para guru BK dalam memperkuat kompetensi profesional mereka. Ia menilai guru BK memiliki posisi strategis dalam membangun ketahanan psikologis, adaptabilitas, karakter, serta kesiapan karier siswa di tengah derasnya arus transformasi digital.
Selain meningkatkan kapasitas pendidik, kegiatan ini juga menjadi wujud penguatan kolaborasi akademik antara Universitas Pasundan dan Universiti Malaysia Sabah dalam mengembangkan pendidikan, bimbingan dan konseling, serta penguatan karakter generasi muda di tingkat regional.
Versi ini lebih memenuhi kaidah penulisan berita dengan lead yang kuat, alur yang runtut, transisi antarparagraf yang lebih halus, penghilangan pengulangan, serta penajaman nilai berita sehingga layak dipublikasikan di media massa maupun laman resmi perguruan tinggi. ***







Komentar