SMAN 22 Bandung Bangun Generasi Berkarakter Lewat Program “Cahaya Hati Pancawaluya”

Pendamping yang Tenang Diyakini Mampu Melahirkan Siswa yang Nyaman, Sehat Mental, dan Berkarakter

KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Di tengah meningkatnya tantangan kesehatan mental remaja dan kompleksitas kehidupan Generasi Z, SMA Negeri 22 Bandung mengambil langkah progresif dengan meluncurkan Program Cahaya Hati Pancawaluya, sebuah gerakan pendampingan psiko-spiritual dan penguatan karakter yang menempatkan guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping kehidupan peserta didik.

Program tersebut diperkuat melalui Surat Keputusan Kepala SMA Negeri 22 Bandung Nomor 321/PK.02.01.05/SMAN22BDG tentang Pembentukan Tim Pelaksana Program Cahaya Hati Pancawaluya Tahun Pelajaran 2026–2027. Tim ini diberi mandat melaksanakan pendampingan psiko-spiritual dan penguatan karakter siswa berbasis nilai Pancawaluya—Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer—untuk mendukung kesehatan mental, kesejahteraan emosional, pembentukan karakter positif, serta budaya sekolah yang humanis.

Kegiatan Pembekalan Guru Program Layanan Cahaya Hati Pancawaluya diikuti seluruh guru SMAN 22 Bandung. Hadir memberikan sambutan Ketua Pelaksana Program Cahaya Hati Pancawaluya Dede Junaedi, S.Ag., M.Ag., Kepala SMAN 22 Bandung Evi Vironita, S.Pd. (diwakili Wakasek Bidang Humas Gatot Suyatno, S.Si), Ketua Komite SMAN 22 Bandung Prof. Dr. Cartono, S.Pd., M.Pd., M.T. (diwakili oleh Ir Susi Candra Susanna), serta Pengawas Pembina Dra. Eka Kurniatjati, M.Pd.

Sebagai narasumber utama, Dra. Yuli Suliswidiawati, M.Psi., Psikolog, Founder DEPTH (Deep Psych Tapping Technique) dan Owner Biro Psikologi Westaria, menyampaikan materi “Pendamping Tenang, Siswa Nyaman dan Berkarakter” sekaligus memandu sesi Self Healing with DEPTH.

PARA guru dan Komite Sekolah berfoto bersama usai kegiatan.*

Kebijakan tersebut selaras dengan arah pembangunan pendidikan karakter Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui konsep Gapura Panca Waluya, yang menekankan pembentukan manusia Indonesia yang sehat lahir batin, berintegritas, cerdas, dan tangguh.

Sebagai implementasi awal program, SMAN 22 Bandung bersama Komite Sekolah menggelar Pembekalan Guru Program Layanan Cahaya Hati Pancawaluya pada Senin, 20 Juli 2026.

Mengangkat tema “Bersama Menguatkan Layanan Pendampingan Murid melalui Budaya Pancawaluya”, kegiatan tersebut menegaskan bahwa ketenangan guru merupakan fondasi utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat secara psikologis.

Ketua Pelaksana Program Cahaya Hati Pancawaluya, Dede Junaedi, S.Ag., M.Ag., mengatakan bahwa program ini lahir dari kesadaran bahwa pendidikan karakter tidak dapat dipisahkan dari kesehatan mental peserta didik.

“Kami ingin menghadirkan sekolah yang bukan hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga menjadi ruang yang menumbuhkan ketenangan, kepedulian, dan karakter. Guru tidak cukup hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi pendamping yang mampu mendengarkan, memahami, dan menguatkan peserta didik,” ujarnya.

Menurutnya, nilai-nilai Pancawaluya menjadi fondasi dalam membangun budaya sekolah yang menghargai setiap anak sebagai pribadi yang unik dan memiliki potensi untuk berkembang.

Menyentuh Hati

Kepala SMAN 22 Bandung, Evi Vironita, S.Pd., menegaskan bahwa Program Cahaya Hati Pancawaluya merupakan bagian dari transformasi budaya sekolah.

“Kami ingin membangun ekosistem pendidikan yang memanusiakan manusia. Keberhasilan sekolah tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari kemampuan peserta didik menjadi pribadi yang sehat secara mental, berakhlak baik, memiliki empati, dan siap menghadapi tantangan kehidupan,” katanya.

Ia berharap seluruh guru memiliki paradigma baru dalam mendampingi peserta didik sehingga hubungan antara guru dan siswa semakin terbuka, hangat, dan penuh kepercayaan.

Dalam paparannya, Dra. Yuli Suliswidiawati, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa kualitas pendampingan guru sangat dipengaruhi oleh kondisi emosional guru itu sendiri.

“Guru yang tenang akan menghadirkan rasa aman bagi peserta didik. Sebaliknya, guru yang masih dibebani persoalan emosional akan lebih sulit membangun komunikasi yang empatik dengan siswa,” jelasnya.

Menurut Yuli, proses pendampingan harus diawali dengan kemampuan guru mengenali dirinya sendiri.

DALAM paparannya, Dra. Yuli Suliswidiawati, M.Psi., Psikolog, menegaskan bahwa kualitas pendampingan guru sangat dipengaruhi oleh kondisi emosional guru itu sendiri.*

“Kita tidak bisa menuangkan air dari gelas yang kosong. Guru perlu menyembuhkan dirinya, memahami emosinya, lalu menghadirkan energi positif kepada peserta didik. Dari situlah karakter yang sehat akan tumbuh,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa pendampingan dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu mengenali dan menenangkan diri, memahami karakter serta kebutuhan peserta didik, kemudian membantu mereka menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi secara mandiri.

Kesehatan Mental Generasi Z

Program ini lahir sebagai respons terhadap meningkatnya persoalan kesehatan mental remaja.

Materi pembekalan menunjukkan bahwa Generasi Z Indonesia menghadapi tantangan berupa meningkatnya kecemasan, depresi, tekanan akademik, hingga dampak penggunaan media digital yang berlebihan.

Menurut Yuli Suliswidiawati, karakter Generasi Z yang tumbuh sebagai digital native memerlukan pendekatan pendidikan yang berbeda.

“Generasi sekarang bukan generasi yang cukup diberi nasihat. Mereka membutuhkan ruang dialog, penghargaan, rasa aman, dan pendamping yang benar-benar hadir. Mereka ingin didengar sebelum diarahkan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang memberikan rasa aman secara psikologis.

SAMBUTAN Kepala SMAN 22 yang diwakili oleh Wakasek Bidang Humas Gatot Suyatno.*

“Ketika siswa merasa diterima tanpa dihakimi, mereka akan lebih mudah berkembang, lebih terbuka menyampaikan masalah, dan lebih siap menerima bimbingan.”

Dalam pembekalan, layanan Bimbingan dan Konseling (BK) juga mendapat perhatian khusus.

Paradigma lama yang memandang ruang BK sebagai tempat menghukum siswa dinilai sudah tidak relevan.

Sebaliknya, BK didorong menjadi safe space, ruang yang nyaman, terbuka, dan bebas stigma sehingga peserta didik tidak takut mencari bantuan ketika menghadapi persoalan akademik, sosial, maupun psikologis.

Pendekatan humanistik, konseling berbasis solusi, serta pengembangan konselor sebaya dipandang menjadi strategi yang lebih efektif dalam mendampingi remaja masa kini.

Sinergi Guru BK dan Guru Agama

Program Cahaya Hati Pancawaluya juga menekankan pentingnya kolaborasi antara guru BK dan guru Pendidikan Agama.

Guru agama membangun fondasi spiritual, moral, dan integritas, sedangkan guru BK membantu mengembangkan kecerdasan emosional, resiliensi, kemampuan menyelesaikan masalah, hingga kesiapan menghadapi masa depan.

Ketua Komite SMAN 22 Bandung, Prof. Dr. Cartono, S.Pd., M.Pd., M.T., yang diwakili oleh Susi Candra Susanna menilai sinergi tersebut akan memperkuat kualitas pendidikan secara menyeluruh.

“Sekolah yang hebat bukan hanya menghasilkan siswa yang pintar, tetapi juga melahirkan manusia yang berkarakter, mampu bekerja sama, memiliki integritas, dan peduli terhadap sesama. Itulah investasi pendidikan yang sesungguhnya,” ujarnya.

Program Cahaya Hati Pancawaluya menunjukkan bahwa pendidikan masa depan tidak hanya berbicara mengenai kecerdasan intelektual.

Lebih dari itu, sekolah dituntut mampu melahirkan manusia yang sehat secara fisik, kuat secara mental, matang secara emosional, dan kokoh secara spiritual.

SAMBUTAN Ketua Komite yang diwakili Susi Candra Susanna.*

Melalui pendampingan yang humanis, SMAN 22 Bandung ingin membangun budaya sekolah yang menempatkan setiap peserta didik sebagai pribadi yang dihargai, didengarkan, dan dibimbing sesuai potensinya.

Sebagaimana ditegaskan Kepala SMAN 22 Bandung, keberhasilan pendidikan pada akhirnya tidak semata-mata diukur dari prestasi akademik. ***

 

Komentar