KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Di tengah derasnya arus informasi, tubuh manusia terus berhadapan dengan berbagai rangsangan. Cahaya, suara, notifikasi hingga aliran data hadir hampir tanpa jeda. Kondisi tersebut menjadi titik berangkat pameran instalasi interaktif Sensoria #2 yang dihadirkan Goethe-Institut Indonesien di Bandung.
Pameran yang berlangsung pada 21–26 September 2026 di Goethe-Institut Bandung tersebut menghadirkan karya hasil eksplorasi 10 seniman terhadap hubungan antara sensing, feeling, dan teknologi.
Sensoria #2 melibatkan Arum Larasati Winarso dan Puspita Tjokonegoro sebagai kurator sekaligus fasilitator. Sementara karya dalam pameran ini dihasilkan oleh Adiva Prabandaru, Fila Aghnia Anantyo, Maaliki Sadikin, Alyssa Putri Azzahra, Rex Leonard, Valentina Kris Utami, Annisa Faradila, Aqzra Rizki, Bagus Sesar, dan Ulinuha Machisabillah.
Gagasan utama pameran berangkat dari kondisi overstimulated, ketika berbagai rangsangan datang secara terus-menerus sementara tubuh dan emosi belum memiliki cukup ruang untuk memprosesnya.
Dalam kondisi tersebut, manusia dapat menerima begitu banyak informasi tanpa selalu memiliki kesempatan untuk benar-benar memaknainya. Informasi bergerak cepat, sementara respons emosional membutuhkan waktu yang berbeda.
Sensoria #2 kemudian mengeksplorasi ruang di antara sensing dan feeling tersebut. Melalui karya interaktif, para seniman mengajak pengunjung mengalami secara langsung bagaimana tubuh, emosi, persepsi, dan teknologi dapat saling memengaruhi.
Direktur Goethe-Institut Wilayah Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru, Constanze Michel, mengatakan karya-karya yang dihasilkan tidak hanya berfokus pada penyajian data, tetapi juga membuka ruang bagi pengalaman emosional.
“Sensoria #2 mengajak peserta mengembangkan instalasi interaktif dengan pengalaman sensorik yang halus namun juga padat. Karya yang dihasilkan tidak hanya menampilkan data, tetapi juga membuka ruang bagi perasaan yang menghadirkan kondisi di mana indra, emosi, dan teknologi saling berinteraksi dalam keadaan penuh, sensitif, dan sedikit tidak pasti,” ujar Constanze.
Koordinator Program Budaya Goethe-Institut Indonesien, Elizabeth Soegiharto, mengatakan proses penciptaan karya telah berlangsung sejak Juli melalui serangkaian lokakarya.
“Sejak Juli lalu, para seniman terpilih mengikuti rangkaian lokakarya untuk mengeksplorasi kondisi overstimulasi lewat penciptaan karya instalasi interaktif yang mempertemukan sensing, feeling, dan teknologi—melalui penggunaan cahaya, suara, gerak, serta sensor untuk memetakan respons tubuh terhadap dunia yang penuh stimulan,” katanya.
Melalui pendekatan tersebut, teknologi tidak hanya ditempatkan sebagai alat, tetapi menjadi bagian dari pengalaman sensorik yang memungkinkan pengunjung berinteraksi dengan karya sekaligus merefleksikan respons tubuh dan perasaan mereka sendiri.
Sensoria pertama kali digelar pada 2023 di Jakarta melalui kolaborasi Goethe-Institut, Tomy Herseta, Arafura Media Design, dan Convert Textured. Sensoria #2 menjadi edisi kedua dari program tersebut.
Pameran Sensoria #2 dapat dikunjungi masyarakat pada 21–26 September 2026 di Goethe-Institut Bandung, setiap hari pukul 15.00–20.00 WIB.***












Komentar