Program BK Pesantren Terbukti Tingkatkan Kemandirian Santri

KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Program bimbingan dan konseling (BK) di sekolah berbasis pesantren terbukti berperan signifikan dalam membentuk kemandirian santri. Hal ini terungkap dalam disertasi karya Heti Aisah yang meneliti pengelolaan program BK di Pesantren Daarul Qur’an dan Aisyiyah Boarding School, Bandung.

Disertasi tersebut mengantarkan Heti Aisah meraih gelar doktor dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor pada Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung beberapa waktu lalu. Riset doktoralnya berjudul “Manajemen Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah Berbasis Pesantren dan Dampaknya terhadap Kemandirian Santri di Pesantren Daarul Quran dan Pesantren Aisyiyah Boarding School.”

RISET ini menyoroti bagaimana manajemen program BK yang terstruktur mampu mendorong perkembangan kemandirian santri, baik dari aspek emosional, perilaku, maupun kognitif.*

Penelitian ini menyoroti bagaimana manajemen program BK yang terstruktur mampu mendorong perkembangan kemandirian santri, baik dari aspek emosional, perilaku, maupun kognitif. Dengan pendekatan manajemen modern berbasis fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan (POAC), serta prinsip Total Quality Management, layanan BK dinilai berjalan efektif dan berdampak nyata.

Dalam temuan penelitian, perencanaan program BK di kedua pesantren dilakukan secara sistematis berbasis kebutuhan siswa. Data awal diperoleh melalui asesmen seperti gaya belajar, kecerdasan majemuk, hingga hasil psikotes. Pendekatan ini memastikan setiap layanan yang diberikan relevan dengan kondisi dan kebutuhan santri.

Pada tahap pelaksanaan, program BK tidak hanya dilakukan melalui layanan klasikal di kelas, tetapi juga diperkuat dengan layanan responsif, perencanaan individual, serta dukungan sistem pesantren. Keterlibatan berbagai pihak—mulai dari pimpinan pesantren, guru, wali kelas, hingga musyrif atau pengasuh santri—menjadi kunci keberhasilan program ini.

“Program pesantren menjadi kekuatan utama dalam mendukung layanan BK, karena aktivitas harian santri secara langsung membentuk kemandirian mereka,” ungkap hasil penelitian tersebut.

DALAM temuan penelitian, perencanaan program BK di kedua pesantren dilakukan secara sistematis berbasis kebutuhan siswa.*

Berbagai kegiatan pesantren seperti pembinaan ibadah, tahfidz Al-Qur’an, latihan kepemimpinan, hingga kegiatan sosial terbukti menjadi sarana pembelajaran nyata bagi santri untuk mandiri. Di Pesantren Daarul Qur’an, misalnya, santri aktif dalam kegiatan seperti DaQu Festival dan pengabdian masyarakat. Sementara di Aisyiyah Boarding School, santri dilatih mandiri melalui program Praktek Khidmat Lapangan (PKL).

Dari sisi pengawasan, program BK juga dijalankan secara berkelanjutan melalui supervisi, evaluasi, serta refleksi baik oleh guru maupun siswa. Hal ini memastikan kualitas layanan terus meningkat dan sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa santri yang mengikuti program BK di kedua pesantren mengalami peningkatan signifikan dalam kemandirian. Mereka mampu mengelola emosi, mengambil keputusan secara mandiri, serta berpikir kritis dalam menghadapi berbagai persoalan. Bahkan, pada tingkat akhir pendidikan, banyak santri yang telah mampu menentukan pilihan karier dan pendidikan lanjutan secara mandiri, dengan keterlibatan orang tua yang relatif minimal.

Penelitian ini juga menegaskan bahwa keberhasilan program BK tidak terlepas dari sinergi antara sistem sekolah dan kultur pesantren. Kombinasi keduanya menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kemandirian.

Profil Promovendus

Heti Aisah lahir di Bandung pada 6 Juni 1965 dan berdomisili di kawasan Cempaka Arum, Gedebage, Kota Bandung. Ia menempuh pendidikan dasar di SDN Cibogo 1 Plered Purwakarta (1977), melanjutkan ke SMPN Cililin (1981), dan SMA Swasta Al Bidayah Batujajar (1984).

Pendidikan tinggi diawali dengan D3 PKK FPTK IKIP Bandung (1988), kemudian meraih gelar Sarjana Pendidikan dari FKIP Uninus Bandung (2003). Ia melanjutkan studi Magister Pendidikan Bimbingan dan Konseling di SPS UPI Bandung dan lulus pada tahun 2010. Perjalanan akademiknya mencapai puncak dengan menyelesaikan program doktor di UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada tahun 2026.

DR Heti Aisah berfoto bersama keluarga.*

Dalam karier profesional, Heti Aisah diangkat sebagai PNS pada tahun 1990. Ia mengawali pengabdian sebagai guru di SMPN 2 Cikampek, kemudian bertugas di SMP Swasta Madya Kota Bandung, dan selanjutnya di SMPN 34 Kota Bandung. Sejak 2011, ia mengajar di SMAN 27 Bandung, sebelum akhirnya diangkat sebagai Pengawas SMA Kota Bandung pada tahun 2016 hingga pensiun pada 1 Juli 2025 dari Cabang Dinas Wilayah VII Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Selain itu, ia aktif dalam berbagai organisasi profesional dan pendidikan, seperti MGBK SMA Kota Bandung, APSI Jawa Barat, tim Jabar Masagi, Pokja Pendidikan Anti Korupsi, serta menjadi asesor BAN PDM Provinsi Jawa Barat sejak 2019.

Dalam kegiatan kemasyarakatan, Heti juga dikenal aktif, antara lain dalam Gerakan Bandung Cinta Keluarga (GBCK), Bank Sampah Kota Bandung, serta berbagai organisasi majelis taklim di tingkat kelurahan dan kecamatan Gedebage. Hingga kini, ia masih aktif sebagai Ketua Majelis Taklim Asiyah RW 05 Cempaka Arum.

Heti yang bersuamikan pakar komunikasi Prof Dr Asep Saeul Muhtadi (Asep Samuh) merupakan ibu dari tiga anak: Muhammad Yunus Alkahfi, M.Ikom., Muhammad Salman Arif, M.Ikom., dan Shafa Nisa Azzahra.

Disertasi Heti Aisah diharapkan dapat menjadi rujukan penting bagi pengelola pendidikan, khususnya pesantren, dalam mengembangkan program bimbingan dan konseling yang lebih efektif dan berorientasi pada penguatan karakter serta kemandirian peserta didik. ***

Komentar