KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Berdasarkan rilis BPS tanggal 5 November 2025, perekonomian Jawa Barat pada triwulan III 2025 tumbuh sebesar 5,20% (yoy), termoderasi dari triwulan II 2025 sebesar 5,23% (yoy).
Perkembangan tersebut sejalan dengan kinerja perekonomian nasional yang juga mencatatkan moderasi pertumbuhan atau sebesar 5,04% (yoy) dari triwulan II 2025 yang sebesar 5,12% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat utamanya bersumber dari konsumsi rumah tangga, serta terjaganya net ekspor dan kinerja investasi. Sementara dari sisi sektoral, pertumbuhan ditopang oleh kinerja sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta transportasi dan pergudangan.
Dari sisi pengeluaran, kinerja ekonomi ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 4,92% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2025 yang sebesar 4,76% (yoy). Hal tersebut didorong oleh stimulus pemerintah seperti program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH), dan implementasi program 8+4+5, berupa bantuan pangan. Di samping itu, kinerja net ekspor dan investasi juga mencatatkan pertumbuhan positif, masing-masing menjadi 4,89% (yoy) dan 5,27% (yoy).
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi utamanya berasal dari kinerja positif sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta transportasi dan pergudangan yang masing-masing tumbuh sebesar 3,15% (yoy), 5,17% (yoy), dar 11,62% (yoy). Akselerasi pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tertahan oleh sektor pertambangan yang terkontraksi 1,13% (yoy),
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2025
Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tahun 2025 diperkirakan tetap solid, berada pada kisaran 4,5-5,3% (yoy) ditopang oleh terjaganya kinerja investasi terutama dari sektor swasta.
“Meskipun demikian, risiko ketidakpastian global yang masih tinggi perlu menjadi perhatian, di antaranya, kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat yang berdampak pada kinerja ekspor impor, terutama dengan adanya pengenaan tarif untuk sektor farmasi, mebel, dan otomotif sejak 1 Oktober 2025, kemudian ketegangan perdagangan AS dan Tiongkok yang didorong oleh rencana penambahan tarif hingga 100% untuk produk asal Tiongkok, serta risiko kenaikan harga komoditas global.
M. Nuh juga menyebut, BI Jabar senantiasa memperkuat sinergi dan kolaborasi strategis dengan Pemerintah.
“Serta seluruh stakeholder dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Upaya difokuskan pada stabilisasi harga, akselerasi pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, serta pengembangan sektor-sektor sumber pertumbuhan ekonomi baru untuk mewujudkan Jabar Istimewa,” katanya. (Pun)***






Komentar