Pemkot Bandung Tekan Krisis Sampah, Targetkan Buangan ke TPA di Bawah 900 Ton per Hari

KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengungkapkan, perkembangan penanganan krisis sampah di Kota Bandung yang hingga 12 Januari masih berisiko mengalami penumpukan hingga 200 ton per hari.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, kata Farhan, terus melakukan berbagai langkah antisipatif untuk menekan jumlah sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Hal tersebut disampaikan Farhan saat ditemui di Balai Kota Bandung, Senin, 12 Januari 2026.

Ia menjelaskan, saat ini sekitar 100 ton sampah per hari telah berhasil ditangani melalui kerja sama pengolahan refuse derived fuel (RDF) di sejumlah wilayah di Jawa Barat.

“Sejauh ini sekitar 100 ton sampah per hari sudah kita tangani bekerja sama dengan beberapa pengolahan RDF, baik yang ada di Bandung maupun di beberapa kabupaten lain di Jawa Barat,” ujar Farhan.

Sedangkan sekitar 100 ton sampah lainnya masih dalam proses pemilahan. Sampah residu yang tidak dapat diolah akan langsung dibawa ke TPA.

Menurut Farhan, pemantauan dan pembaruan data penanganan sampah dilakukan setiap hari guna memastikan sistem tetap berjalan.

Pemkot Bandung juga tengah mengupayakan pembangunan fasilitas pengelolaan sampah di sejumlah titik pasar yang dikelola Perumda Pasar.

Namun, proses tersebut masih dalam tahap negosiasi antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Perumda Pasar karena adanya kompleksitas aturan terkait pemanfaatan aset dan kewajiban pembayaran.

“Beberapa pasar akan dibangun tempat pengelolaan sampah, tapi kita sedang menghitung kewajiban masing-masing. Karena sesuai aturan, tidak boleh ada yang gratis. DLH tidak bisa serta-merta menghapus biaya, dan Perumda Pasar juga tidak boleh menghibahkan tanah,” jelasnya.

Selain mengelola sampah pasar, fasilitas tersebut direncanakan terbuka untuk menerima sampah dari masyarakat. Hal ini menambah kompleksitas perhitungan agar seluruh pihak mendapat manfaat tanpa melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan.

Farhan menyebutkan, satu pasar rata-rata berpotensi mengolah hingga 15 ton sampah per hari, mayoritas berupa sampah organik. Bahkan, pasar besar dapat mengolah hampir 25 ton per hari. Dengan total 38 pasar di Kota Bandung, potensi pengurangan sampah dinilai sangat signifikan.

“Kalau semua pasar bisa mengolah sampahnya sendiri, ini akan sangat membantu. Itu keren sekali,” ungkapnya.

Menurutnya, solusi pengeringan dan pengolahan sampah organik kini mulai melibatkan investor, salah satunya di Pasar Anyar. Hasil olahan sampah seperti pupuk juga telah memiliki banyak peminat, termasuk dari luar kota.

“Hasil olahan sampah itu banyak off-taker-nya. Kalau sudah jadi produk, peminatnya banyak,” katanya.

Farhan berharap, jika seluruh skema berjalan sesuai rencana, pada Maret mendatang volume sampah yang dibuang ke TPA dapat ditekan hingga di bawah 900 ton per hari. Upaya ini dilakukan sebagai langkah antisipasi apabila sewaktu-waktu terjadi pengurangan kuota pembuangan ke TPA.

“Sekarang sekitar 980 ton per hari. Kita coba kurangi dulu sekitar 80 ton supaya bisa kirim 900. Ini jadi latihan, supaya kalau nanti tiba-tiba dikurangi lagi, kita sudah siap,” ungkapnya.***

Komentar