Pemkot Bandung Ingatkan Siswa Tak Terjebak Budaya Pamer di Media Sosial

KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Pemerintah Kota Bandung mendorong siswa SMP Negeri 55 Kota Bandung untuk membangun kedisiplinan, karakter, dan mental yang tangguh sebagai bekal menghadapi tantangan pendidikan maupun kehidupan di masa depan.

Pesan tersebut disampaikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat menjadi pembina upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10 SMP Negeri 55 Kota Bandung di Jalan Batu Rengat, Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kulon, Senin, 19 Oktober 2026.

Mengusung tema “Satu Dekade Berkarya: Menguatkan Infrastruktur, Membudayakan Infrakultur, Mewujudkan Murid Berkarakter”, peringatan satu dekade sekolah tersebut menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan karakter sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang berprestasi dan memiliki ketangguhan mental.

Farhan mengapresiasi kedisiplinan siswa dalam mengikuti upacara. Menurutnya, kesiapan para siswa menunjukkan adanya pembiasaan positif yang tidak terlepas dari peran guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan.

“Saya ingin memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya atas kedisiplinan kalian yang telah kalian tunjukkan dengan sangat luar biasa,” ujar Farhan.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pendidik yang secara konsisten membimbing siswa dalam menanamkan budi pekerti, ilmu pengetahuan, dan kedisiplinan.

“Terima kasih kepada kepala sekolah, para guru dan petugas sekolah yang telah selalu hadir untuk membimbing, mendidik dan mengajarkan kepada anak-anak sekalian tentang bagaimana budi pekerti, bagaimana ilmu pengetahuan dan bagaimana kedisiplinan tertanam ke dalam diri kalian,” katanya.

Memasuki usia satu dekade, Farhan menilai perkembangan SMPN 55 tidak terlepas dari kerja sama antara sekolah, tenaga pendidik, orang tua, dan siswa. Ia berharap kolaborasi tersebut terus diperkuat untuk mendukung proses pendidikan dan pembentukan karakter peserta didik.

Farhan juga mengingatkan bahwa jenjang SMP merupakan fase penting dalam mempersiapkan masa depan pendidikan. Siswa kelas 9 diminta mulai mempersiapkan diri menghadapi kelulusan dan menentukan pilihan sekolah lanjutan, baik SMA maupun SMK. Sementara itu, siswa kelas 7 dan 8 diharapkan memanfaatkan waktu untuk belajar, beradaptasi, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan pendidikan berikutnya.

“Untuk kelas 9, kurang dari setahun lagi untuk mempersiapkan diri lulus dan kemudian masuk ke SMA atau SMK yang sudah kalian idam-idamkan,” ujarnya.

Selain bidang akademik, Farhan menyoroti pentingnya keterlibatan siswa dalam organisasi dan kegiatan sekolah. Pengalaman menjadi pengurus OSIS maupun petugas upacara, menurutnya, dapat melatih kepemimpinan, kedisiplinan, dan tanggung jawab sejak dini.

“Yang kalian lakukan sekarang terlihat sederhana. Tetapi sebetulnya akan mengukir di dalam mentalitas kalian yang akan kalian rasakan nanti manfaatnya di saat kalian sudah menjadi sosok-sosok dewasa yang dituntut bertanggung jawab,” katanya.

Farhan menegaskan, keberhasilan tidak semata-mata diukur dari pencapaian materi atau gaya hidup mewah yang kerap ditampilkan di media sosial. Hal yang lebih penting adalah kemampuan membangun mental kuat, menghadapi tekanan, dan bangkit ketika menemui kesulitan.

“Keberhasilan yang tertinggi adalah ketika kalian tumbuh menjadi sosok-sosok dewasa dengan mentalitas yang kuat,” tegasnya.

Ia mengingatkan para siswa bahwa persaingan pada masa mendatang semakin menantang sehingga generasi muda perlu memiliki daya juang dan tidak mudah menyerah.

“Kalian harus menjadi generasi yang tangguh karena pada saat sekarang kompetisi jauh lebih keras, jauh lebih berat daripada masa-masa kompetisi saat saya masih muda,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Farhan juga menekankan pentingnya menghormati guru dan orang tua. Ia meminta siswa menghargai ilmu serta pengalaman para pendidik dan menjadikan proses belajar sebagai bekal untuk mengembangkan diri.

“Belajarlah kepada para guru. Hormati guru dan orang tua kalian. Dapatkan dan serap ilmu mereka sebaik-baiknya. Jangan pernah kalian berpikir ataupun bersikap merendahkan dan menertawakan guru-guru kalian,” katanya.

Farhan turut mengajak guru, orang tua, pemerintah daerah, dan seluruh lingkungan pendidikan untuk memahami perkembangan anak usia 12–15 tahun. Pemahaman terhadap minat, pergaulan, hobi, serta tantangan yang dihadapi siswa dinilai penting agar pendampingan pendidikan dapat berjalan sesuai kebutuhan mereka.

“Mari kita belajar dari masa depan. Merekalah masa depan kita,” tuturnya.***

Komentar