Menu

Mode Gelap

Feature · 25 Mar 2024 20:43 WIB ·

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Keindahan Tari Kecak (12)

 Ilustrasi (Grafis: NA).* Perbesar

Ilustrasi (Grafis: NA).*

Karya Wina Armada Sukardi

SANG Tokoh masuk kembali ke arena pertandingan diiringi oleh zikir keluarganya. Suara zikir terkadang keras, terkadang lembut.
Sementara lawan sudah bersiap di tengah. Pertarungan aneh bakal segera dimulai lagi.
Lawan memegang sebuah pistol jenis revolver. Itu di tangan sebelah kiri. Di tangan kanan ada senapan otomatis lengkap dengan pelurunya siap ditembakan. Dalam keadaan normal, pastilah membuat lawan ketar ketir. Sekali tembak saja bisa mematinya.

Dari awal Sang Tokoh tetap tenang. Dia sudah banyak belajar, ketenangan merupakan separuh dari penyelesaian masalah. Melihat lawan memakai senjata api, Sang Tokoh tetap tenang. Wakaupun tak punya pengalaman khusus, Sang Tokoh mengetahui, pertempuran fisik adalah pertarungan yang paling sederhana. Paling purba. Dia tidak begitu khawatir karena penanganan pertarungan dapat diperhitungkan. Sudah terukur.
Dalam analisis Sang Tokoh, pemanfatan senjata api dari lawannya, mungkin lebih merupakan pengalihan saja. Pastilah lawannya itu mempunyai strategi lain yang sengaja masih disimpan.

Begitu tanda alam pertarungan dimulai, benar saja lawan langsung memberondong Sang Tokoh dengan rentetan tembakan bersamaan, baik dari pistol maupun dari senapan otomatis. Semuanya tepat mengarah kepada Sang Tokoh.

Sebagaimana Sang Tokoh perkirakan, pertarungan fisik masih dapat diatasinya. Sang Tokoh berkonsentrasi penuh dan dengan cepat mengirim perlambatan kepada seluruh peluru. Walhasil peluru seperti berjalan lambat bagaikan slow motion dan disambut Sang Tokoh dengan pengarahkan peluru tersebut ke kiri dan kanan area. Di luar sana peluru meletus. Sang Tokoh selamat.

Dari arah penonton terdengar suara bergumam. Rupanya para penonton misterius tersebut menikmati benar pertarungan ini.

Lawan Sang Tokoh berkonsetrasi. Dia menyerang langsung Sang Tokoh dengan tubuh dirinya. Persoalannya, Sang Tokoh melihat lawannya dalam tiga orang yang sama dan Sang Tokoh tidak mengetahui mana dari ketiganya yang asli. Inilah tipuan untuk mengecoh lawan agar tidak mengetahui mana yang asli dan mana yang bukan. Tiba-tiba Sang Tokoh merasa dadanya terpukul keras dan dia terpental. Rupanya sementara Sang Tokoh menerka-nerka mana yang asli, lawannya sudah memukulnya lebih dahulu.

Sang Tokoh menyadari ini tipuan yang berbahaya. Inilah yang disebut antara ada dan tiada. Sang Tokoh ingat, sesungguhnya yang ada hanyalah Allah. Selebihnya adalah ilusi yang diciptakan untuk mengecoh. Dengan berkonsentrasi dan memusatkan pikiran hanya ada Allah dan semuanya yang tiada pun ciptaaan Allah juga, Sang Tokoh ingin mendapat gambaran siapa yang nyata dihadapannya dan siapa ilusif. Tak mungkin meniadakan Allah. Tiada mungkin menyamakan sesuatu dengan Allah. Tak boleh panik. Tak boleh takut. Selalu mengingat Allah.

Perlahan-lahan berbagai bayangan menyerupai lawan hilang dan hanya nampak sosok lawan Sang Tokoh. Maka kali ini Sang Tokoh dengan mudah mengelak pukulan lawannya dan bahkan balik memukul. Giliran lawan Sang Tokoh yang terpental.

Dari arah penonton terdengar lagi gumaman serentak.
Sang Tokoh ingat prinisip penyerangan: seranglah lawan ketika mereka tengah lengah. Setelah lawannya berpikir pihak Sang Tokoh sedang dan akan terus bertahan, “Sekarang waktunya menyerang,” ujar Sang Tokoh dalam hati. Kemungkinan lawannya akan panik.

Sang Tokoh mempergubakan kelebihannya dapat bicara dengan hewan. Ini kali Sang Tokoh berbicara denga para kera yang ada di sekitar pengunungan seputar saba. “Wahai para kera, tolonglah aku. Aku sedang butuh bantuan. Aku sedang diserang. Ayo cepat kita berkumpul. Buat lawan menjadi bingung, mana saya asli dan mana yang bukan. Mana kalian yang asli dan mana yang palsu.

Seketika terdengar sahutan dari hutan pengunungan. Para monyet siap berkumpul, lalu datang ke arena. Sementara menunggu kedatangan para kera, Sang Toloh melayani lawannya dan berhasil dua kali melakukan pukulan yang membuat lawannya terpental.
Monyet-monyet atau kera-kera itu sudah datang. Jumlahnya puluhan. “Ayo kita bikin tari kecak dan membuat dia binggung,” ujar Sang Tokoh kepada “pasukan monyet” yang baru datang.
Hebatnya dalam sekejap para kera itu sudah melakukan tarian kecak bersama Sang Tokoh. Lawan Sang Tokoh terpana. Pertama, dia tidak menyangka Sang Tokoh bakal dibantu, dalam pandangannya, ribuan kera yang melakukan tari kecak.
Sebuah tarian yang luar biasa. Harmoni. Kompak. Berenergi. Indah.
Kedua, si lawan tidak memgetahui mana monyet asli dan mana yang bukan. Lawan juga pusing mengetahui dimana Sang Tokoh berada di dalam tarian kecak itu.
Ketiga, lawan itu terkejut Sang Tokoh secara mendadak melakukan penyerangan sehingga dia sama sekaki tidak menduga mendapat serangan kilat, dan tidak siap menghadapi serangan itu. Pertahannya terbuka. Dia lengah.
Akibatnya Sang Tokoh dengan mudah menghajar lawannya. Benerapa monyet ikut-ikut mencakar, memukul dan mengigitnya. Lawan Sang Tokoh terpojok. Sang Tokoh kali ini tidak ingin memberikan kesempatan lagi kepada lawannya. Tanpa ampun Sang Tokoh bersama-sama dengan beberapa kera membuat lawan hancur luluh lantah.
Pada saat tubuh lawannya luluh lantah, tiba-tiba tubuh lawannya itu terbakar menjadi abu dan kumpulan asapnya berpuyar-putar keluar dan menghilang.
Tarian kecak selesai. Berhenti. Para monyet berlarian masuk lagi ke hutan.
“Wahai monyet terima kasih ataa bantuannya,” kata Sang Tokoh. Para monyet membalas dengan suara khas mereka.

Penonton pun sudah menghilang. Sang Tokoh tidak mengetahui bagaimana mereka pergi sebagaimana Sang Tokoh tidak mengetahui bagaimana mereka pergi sebagai mereka tidak mengetahui bagaimana mereka datang.
Sesama kekuarga Sang Tokoh berpelukan. Bahagia Sang Tokoh selamat. Hanya beberapa bagian tubuhnya memar.
Bersama keluarganya Sang Tokoh pulang melalui jalan sama. Di tengah jalan kembali rombongan keluarga itu berjumpa lagi dengan Pedande yang waktu datang telah ketemu Mereka saling senyum.
“Hebat!” kata Pedande itu.
“Terima kasih,” jawab Sang Tokoh.

Sebagai ucapan terima kasih, besoknya Sang Tokoh mengirim satu truck penuh buah-buahan kepada para kera.
Kendati setiba di Bali Sang Tokoh mengalami banyak peristiwa aneh, Sang Tokoh bersama keluarga memutuskan tetap melanjutkan liburan di Bali. Sebuah keputusan yang tepat, lantaran terbukti Sang Tokoh dapat berlibur bersma keluarga selama beberapa hari dengan tenang tanpa hambatan apa-apa.***

(Bersambung)

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Sebuah Memoar “Sang Srikandi” Dunia Penerbitan yang Jujur dan Menyentuh

15 Mei 2024 - 05:40 WIB

Inspirasi Prof Dr Cartono, SPd, MPd, MT; Dari Operator Foto Kopi di Sudut Alun-Alun Bandung Hingga Dilantik Jadi Profesor Universitas Pasundan

10 Mei 2024 - 09:47 WIB

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Debat di KPK (17)

31 Maret 2024 - 06:11 WIB

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Panggilan dari KPK (16)

31 Maret 2024 - 05:51 WIB

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Laporan Pengemar (15)

29 Maret 2024 - 04:39 WIB

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Bukti Menohok (14)

26 Maret 2024 - 15:34 WIB

Trending di Feature