Menu

Mode Gelap

Feature · 31 Mar 2024 05:51 WIB ·

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Panggilan dari KPK (16)

 Ilustrasi (Grafis: NA).* Perbesar

Ilustrasi (Grafis: NA).*

Karya Wina Armada Sukardi

BANYAKNYA urusan Sang Tokoh membuat waktunya memenuhi undangan ceramah dan semacamnya sangat terbatas. Hal ini membuat Sang Tokoh berpikir keras, bagaimana caranya supaya waktunya lebih efektif. Sang Tokoh memutuskan membentuk tim untuk menentukan bagaimana cara paling efektif dan efisien? Dari rembukan anggota tim itu, rekomendasinya upaya untuk menciptakan mekanisme yang efektif melalui cara sarana dan prasana modern. Praktis dan dapat menjangkau publik secara luas. Tim menganjurkan lewat platform podcast.
Alasan tim ada dua: satu jangkua podcast sangat luas. Dapat diakses dengan bebas oleh semua orang darimana pun. Lagi pula kontenya dapat ditonton setiap saat. Alasan kedua, memanfaatkan podcast juga dapat menghasilkan uang. Sang Tokoh dengan senang hati memgikuti rekomendasi tim itu.

Mulailah Sang Tokoh mempesiapkan pembuat podcast. Dia merekrut tenaga-tenaga profesional, terutama dari kaum muda. Dia meminta pendapat mereka dari terutama dari aspek teknikal, bagaimana agar kualitas gambar dan suara prina. Seauai pendapat yang berkembang, walaupun tayangan utamanya melalui youtube yang panjang, tetapi untuk promo juga dilakukan melalui youtube short, tik tok, IG, facebook dan sebagainya. Sedangkan topiknya aspek-aspek religius yang relevan dengan konteks sosial.

Tak lebih dari sebulan, podcast Sang Tokoh “‘meledak.” Penampilanya semacam sendirian, membahas topik tertentu atau menjawab pertanyaan dari media sosial, rupanya segera saja digemari. Siaran podcastnya rata-rata dapat menembus 25 juta penonton setiap kali tayang. Setelah itu Sang Tokoh tinggal menanggok coan atau keuntungan saja. Bernikiar – miliar rupiah nengalir ke pundi-pundinya.

Selain penampilan pribadi, Sang Tokoh juga kemudian membuat format dengan penonton hadir di studio.
Penonton ini berganti-ganti mulai dari majelis taklim, kelompok pengajian, organisasi sosial kemasyarakatan, di Jakarta ataupun luar daerah. Mereka dihadirkan ke studio, dan setelah mendengar keterangan dari Sang Tokoh, dikanjutkan dengan cara berinteraktif dengan Sang Tokoh. Hal ini berarti menbalikan cara Sang Tokoh berceramah sebelumnya. Jika semula Sang Tokoh yang mendatangi masyarakat, sebaliknya kiwari (kini) justeru masyarakat yang medatangi Sang Tokoh.

Caranya ini pun tetap digemari oleh para penontonya dan selalu tembus di atas 25 juta viewer atau penonton. Dengan begitu, uang pun tetap menggelontor ke rekening Sang Tokoh. Walhasil, Sang Tokoh semakin tebal kantongnya, dan dia sendiri menjadi luar biasa terkenal.

Sang Tokoh bukanlah manusia tamak. Seiiring pendapatan dsri podcast yang menumpuk, masyarakat yang datang ke studio podcastnya, dari seluruh Indonesia mulai dibiayai Sang Tokoh. Mulai dari urusan tiket dengan kendaraan jenis apapun, sampai penginapan semuanya ditanggung Sang Tokoh. Tak hanya itu, mereka bahkan juga sudah diberikan honorarium sebagai pengisi acara.

Menyadari jemaahnya yang diundang memerlukan akomodasi, Sang Tokoh mulai pula merambah ke dunia perhotelan. Dengan uang yang melimpah dia membeli sebuah hotel bintang empat. Selain untuk tujuan komersial, satu lantai hotel itu diperuntukan bagi jemaahnya yang datang ke acara podcast Sang Toko, dari luar kota, atau bahkan dari luar negeri. Memang biaya mendatangkan dan memperlakan serta memberikan akomodasi kepada jemaaahnya itu memerlukan banyak biaya. Pengeluaran untuk aktivitas ini sangat besar. Harusnya secara teoritis dengan pengeluaran itu, kocek Sang Tokoh pastilah tersedot banyak sekali dan bakal membuat pundi-pundinya kempes, bahkan dapat tersedot habis. Disinilah kebaikan seringkali mengalahkan kerugian, dan sebaliknya kebaikan dapat semakin memberikan keuntungan. Rejeki dari Allah memang sering datang dari arah yang tidak diduga-duga dan dengan cara yang yang juga tidak terduga-duga.

Semakin kita memberi bakal semakin kita memperoleh. Semakin kita membuat kebaikan semakin melimpah pula rejekinya. Itu pulalah yang dialami Sang Tokoh. Membiayai tiket dan akomodasi para jemaah yang diundangnya datang studio podcast Sang Tokoh jelas menyedot banyak dana. Namun anehnya, mengundang jemaah dan memperlakukan mereka dengan mulia, bukannya mengurangi pemasukan Sang Tokoh, malah melipatganda rejekinya. Nikmat mana lagi yang dapat diingkari Sang Tokoh?

Nikmat bukan berarti tanpa tantangan. Bukan tanpa ujian. Justeriu di tengah-tenga popularitas yang tinggi, di tengah-tengah melimpahnya rejeki, Sang Tokoh dikejutkan dengan berita di berbagai media: dia dipanggil oleh Komisi Pemberantas Korupsi atau KPK. Televisi telah menyiarkannya dalam running text mereka secara berulang-ulang. Kemudian diikuti dengan di acara berita. Jangan tanya di media online dan media sosial. Gaduh sekali pemberitaan Sang Tokoh dipanggil KPK.

Memang juru bicara KPK sendiri sudah mengumumkan KPK memanggil Sang Tokoh. Artinya, berita pemanggilan itu benar adanya. Bukan hoax. Bukan berita bohong.

Beberapa media bahkan sudah memberikan tanggapan dan opini, kemungkinan-kemungkinan korupsi apa yang dilakukan figur sebesar Sang Tokog. “Apa lagi yang kurang dari Sang Tokoh? Kalau benar dia melakukan korupsi, tentu yang bersangkutan layak dijatuhkan sanksi yang sangat berat. Kenapa? Dia sudah sangat kaya raya. Tak kekurangan harta benda, makanya kalau sampai korupsi teramat sangat keterluan. Walaupu telah kaya raya masih mau ‘mengembat’ duit negara, duit rakyat,” tutur sebuah media online seolah sudah pasti Sang Tokoh dipanggil lantaran melakukan korupsi. Padahal Sang Tokoh sendiri belum menerima surat panggilan apapun dari KPK, konon lagi mengetahui duduk perkaranya.

Atas inisiatif sendiri Sang Tokoh menghubungi juru bicara KPK meminta konfirmasi mengenai apakah betul ada pemaggilan terhadap dirinya.
“Saya baca, saya tonton dan saya dengatr saya telah dipanggil KPK. Apakah benar?” tanya Sang Tokoh.
“Betul!” jawab juru bicara lembagai anti korupsi itu.
“Tapi saya sendiri belum tahu sama sekali. Saya belum menerima surat panggilannya” apapun.
“Surat pangggilan sudah dikirim. Dalam waktu dekat pasti sudah sampai.”
“Perkara apa?”
“Lihat saja di surat panggilan dan nanti setelah diperiksa disini, karena kalau sudah masuk pokok perkara, sepenuhnya kewenangan penyidik. Saya tidak punya kewenangan menjelaskan,” ujarnya.

Besoknya benar terbukti Sang Tokoh menerima surat panggilan dari KPK. Waktunya hanya tiga hari sejak setelah diterima surat itu, Sang Tokoh diminta datang ke KPK. Dia diminta hadir sebagai Saksi.

Sebenarnya tiga hari hari ke depan acara Sang Tokoh sudah padat. Namun Samg Tokoh menyadari, jika dia meminta tunda panggilannya dan dia sendiri tidak datang memenuhi pangggilan itu, beritanya bakal semakin liar. Pastilah beritanya semakin gemuruh dengan berbagai imajinasi negatif. Sang Tokoh sudah membayangkan, jika dia meminta pemgunduran waktu pemeriksaan, di pers bakalan disebut “Sang Tokoh Mangkir dari Panggilan!” Dengan begitu menimbulkan berbagai spekulasi Sang Tokoh mungkin memang benar melakukan korupsi sehingga tak siap diperiksa KPK. Maka Sang Tokoh memutuskan menjadwalkan kembali semua acaranya pada tiga hari ke depan dan dia memutuskan memenuhi menghadiri panggilan KPK.

Menghindari kemungkinan terbentuknya kesan buruk, Sang Tokoh malah lebih dulu menyiarkan dan memberikan keterangan, seauai panggilan KPK dia akan datang memenuhi panggilan KPK.***

(Bersambung)

Artikel ini telah dibaca 12 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Sebuah Memoar “Sang Srikandi” Dunia Penerbitan yang Jujur dan Menyentuh

15 Mei 2024 - 05:40 WIB

Inspirasi Prof Dr Cartono, SPd, MPd, MT; Dari Operator Foto Kopi di Sudut Alun-Alun Bandung Hingga Dilantik Jadi Profesor Universitas Pasundan

10 Mei 2024 - 09:47 WIB

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Debat di KPK (17)

31 Maret 2024 - 06:11 WIB

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Laporan Pengemar (15)

29 Maret 2024 - 04:39 WIB

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Bukti Menohok (14)

26 Maret 2024 - 15:34 WIB

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Tas Hermes dan Paket Misterius (13)

25 Maret 2024 - 21:04 WIB

Trending di Feature