Menu

Mode Gelap

Feature · 6 Sep 2022 07:12 WIB ·

Mewujudkan Gelatin Halal dan Hanjeli Pengganti Impor

 Saepul Adnan sedang membimbing praktik para mahasiswa di laboratorium Universitas Muhammadiyah Bandung. (Foto: Widodo A.).* Perbesar

Saepul Adnan sedang membimbing praktik para mahasiswa di laboratorium Universitas Muhammadiyah Bandung. (Foto: Widodo A.).*

SETELAH 25 tahun lebih meninggalkan sekolah –Madrasah Aliyah Negeri (MAN I) Kota Bandung—seorang alumnus menulis surat kepada mantan guru biologinya dulu, Pak Endang. Merasa isinya bagus dan membuat trenyuh sekaligus bangga, Pak Endang meneruskan surat via WhatsApp (WA) itu kepada WAG Kampung MAN I. Adapun kata pengantar Pak Endang begini, “Surat ini dari muridku, murid kita, alumni MAN I Kota Bandung tahun 97, pendiam tapi rajin, disiplin & sopan/santun”.

Sedangkan isi surat dari mantan murid bernama Saepul Adnan itu begini, “Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatuh. Dear Pak Endang. Bapak tahu kan saya belajar biologi teu ngarti-ngarti, walaupun sekedar hafalan angger weh belet. Pernah bimbel di BIOS sama si kang Zen nggak ngerti tentang kimia.

Dari situ saya belajar hidup dan kehidupan. Katanya ketika takut dengan sesuatu termasuk pelajaran kimia sekalipun hadapi dan tekuni. Itu teh bapak ajarkan ketika menjadi Pembina PMR…

Anakmu ini mengarungi studi kimia di Universitas Indonesia dan dilanjutkan S2 di ITB. Kemudian mendapat amanah untuk mendirikan program studi Teknologi Pangan di UMBandung dan menjadi Kaprodi Teknologi Pangan selama 4 tahun.

Dalam perjalanan penelitian saya menemukan bahan baku roti untuk substitusi terigu dengan tepung lokal hanjeli. Alhamdulillah dana riset saya dapatkan dari hibah Kemenristek. Tidak berhenti di situ. Produk hasil penelitian saya hilirisasi menjadi produk yang bernilai jual dengan brand produk ROTIYU alhamdulillah mendapatkan paten dari DJKI dan mendapatkan penghargaan The Best Branding Local Product dari OCBC NISP. Sekarang rotiyu menjadi produk unggulan Bank Indonesia (BI) Jabar dan masuk anggota IKRA (Industri Kreatif Syariah Indonesia).

Walaupun belum 100% menggantikan tepung terigu saya tetap melanjutkan risetnya untuk betul-betul bisa menggantikan terigu yang bahan bakunya masih impor.

Pak Endang pernah bilang, lamun sakola teh tong kagok… terus sampe S3 kalo bisa… Kini anakmu teh sedang menempuh studi doktoral di Teknik Kimia ITB fellowship dari Kemenristek Dikti. Walaupun berat terus dijalani karena punya cita-cita bermanfaat untuk umat…

Dengan bekal ilmu dari MAN I Bandung saya lagi mengembangkan Gelatin halal dari berbagai ikan di Indonesia yang kini kita tahu gelatin Indonesia 50% masih impor dan itu berasal dari kulit babi. Saya di situ miris, bisa jadi selama ini kita makan makanan haram yang kita sendiri tidak tahu.

Mohon doa terbaik buat saya Pak Endang agar bisa menyelesaikan studi saya. Pertemuan reuni kemarin, Masyaalloh ketika ketemu dengan Bapak serasa menjadi booster bagi saya untuk terus belajar dan belajar dengan Bapak …

Saya selalu mendoakan Bapak dan keluarga selalu diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Alloh SWT. Semoga Alloh SWT mempertemukan kita semua bukan hanya di dunia ini, namun di Surga-Nya juga di kemudian hari. Salam Ta’zim. Adnan, 27 Agustus 2022.”

Saepul Adnan, SSi, MSi. (Foto: Widodo A.).*

Gelatin halal pengganti impor

Surat Saepul Adnan, SSi, MSi yang isinya sangat manusiawi dan rendah hati itu pun menyebar ke mana-mana. Harap maklum, WAG Kampung MAN I beranggotakan sekitar seratus guru plus jajaran Tata Usaha. Boleh jadi surat itu juga menyebar ke kalangan murid dan alumni MAN I Kota Bandung yang jumlahnya ribuan. Setiap tahun sekolah yang berlokasi di daerah Cijerah ini menerima ratusan siswa-siswi baru. Mereka tersebar di 12 kelas, masing-masing berisi 36 orang murid.

Ditemui TuguBandung.id yang disertai mantan guru fisika MAN I, Atiek Amirawati, di Kampus Universitas Muhammadiyah Bandung, Jalan Soekarno-Hatta No. 752, Sabtu 3 September 2022, Adnan dengan ramah menerima kami. Sekalipun sedang sibuk memimbing para mahasiswanya di laboratoriun penelitian, Saepul Adnan kelahiran Bandung 14 Agustus 1978 ini rela menyisihkan waktu untuk menjawab banyak pertanyaan.

Ayah tiga anak ini menjelaskan, langkah penelitiannya terkait program studi S3-nya di Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), tidak hanya ingin mengurangi ketergantungan Indonesia kepada gelatin produk asing, tetapi juga sekaligus yang benar-benar halal dan mendukung kelestarian lingkungan hidup.

Sebagai gambaran, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor gelatin 78.476,4 ton pada 2014, 73.044,4 ton (2015), 80.316,3 ton (2016). Sedangkan produksi gelatin dunia dapat mencapai 326.000 ton per tahun. Jumlah itu terdiri atas 46% kulit babi, 29,4% kulit sapi, 23,1% tulang sapi, dan sumber lainnya 1,5%.

Di Indonesia sendiri sebenarnya tersedia beberapa jenis hewan seperti sapi, ayam, bebek yang kulitnya bisa dibuat gelatin dari kolagen yang terdapat pada tulang dan kulit hewan tersebut. Namun proses penyembelihannya masih bisa menimbulkan keraguan akan kehalalannya. Karena itu Adnan lebih memilih pembuatan gelatin dengan bahan baku dari ikan atau limbah ikan. Beragam jenis ikan tentu saja dapat dikonsumsi oleh semua golongan masyarakat dan kehalalannya tidak perlu diragukan lagi.

Menurut Adnan, 48% ikan yang dikonsumsi masyarakat Indonesia merupakan limbah yang dapat dijadikan sebagai sumber bahan baku gelatin halal.

“Ini yang sedang saya teliti. Tujuannya untuk memanfaatkan limbah sebagai sumber bahan baku yang berkelanjutan, sekaligus untuk melestarikan lingkungan,” paparnya.

Arah lebih lanjut dari penelitian Adnan ini adalah bagaimana menjadikan produksi gelatin halal ini sebagai kegiatan industri yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat. Sebagai konsekuensinya adalah bagaimana memikirkan lebih lanjut cara membuat mesin-mesin untuk memproduksi gelatin halal ini.

Apalagi bila diingat bahwa salah satu fungsi gelatin adalah untuk membuat cangkang obat (kapsul), dan yang bagus adalah yang dibuat dari kulit sapi. Namun kini juga dilakukan penelitian pemanfaatan kulit pisang untuk cangkang obat.

Dengan latar belakang ilmunya itu, Saepul Adnan kini adalah sebagai Kepala Pusat Kajian Halal Universitas Muhammadiyah Bandung; Komite Auditor Halal LPHKHT Muhammadiyah; Relawan Halal Center Salman ITB; Anggota Sinergitas ABCGM Provinsi Jawa Barat; dan Ketua Yayasan Afgandi Rumah Tahfidz Yatim Dhuafa. Kegiatannya rutin sebagai dosen kini berhenti dulu dan fokus menyelesikan program doktor di Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Industri, ITB.

Ciptakan roti berbahan hanjeli

Selama ini Indonesia mengimpor 2,6 juta ton gandum dari Ukraina. Namun karena terjadi perang dengan Rusia, tentu saja berdampak pada menurunnya pasokan gandum dari Ukraina. Hal ini juga merupakan peluang untuk membuat bahan baku pengganti impor gandum itu, terutama dalam pembuatan roti.

Namun, alhamdulillah, pada 2021 lalu Adnan beserta timnya telah melakukan penelitian tentang bagaimana tepung lokal yang terbuat dari hanjeli dan difermentasi sehingga karakteristiknya mirip dengan terigu. Adapun kelebihan dari penggunaan hanjeli terfermentasi yakni dapat meningkatkan kandungan asam amino esensial yang sangat tinggi di dalam roti.

“Produk tersebut juga kaya akan serat pangan, antioksidan, dan kalsium yang sangat tinggi sehingga roti itu kita namakan roti fungsional,” ujar Adnan. (saramuhammadiyah.id)

Dari penelitian itu akhirnya lahir produk roti dengan beberapa varian RotiYU, di antaranya rotisobek, Cinnamon Rolls, Cheese Rolls, Roti Bluder, Japanise Milk Bread, Roti Jobi Nori, Donat Bombolini, dan Brownies Hanjeli.

Hanjeli (Coix lacyma-Jobi L) merupakan sejenis tumbuhan biji-bijian tropis dari suku padi-padian atau Poaceae. Hanjeli adalah nama popular di daerah Jawa Barat (Sunda), sedangkan nama popular Indonesia adalah jali-jali. Tanaman ini menyebar di berbagai ekosistem lahan pertanian yang beragam dari daerah iklim kering, basah, lahan kering, ataupun lahan basah di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa.

Bagian biji hanjeli mengandung gizi setara beras, yaitu dalam 100 g bahan mengandung karbohidrat (76,4%), protein (14,1%), lemak nabati (7,9%), dan kalsium (54 mg). Adnan menilai sudah baik terhadap program ketahanan pangan yang digagas pemerintah dalam menggalakkan petani untuk menanam hanjeli. Ini sangat potensial dan bisa menjadi pilihan cadangan ketika beras agak sulit untuk ditemukan.

Segmen yang diincar oleh RotiYU sebagai roti pangan fungsional adalah mereka yang memiliki gaya hidup sehat dan ingin bebas dari gluten yang terdapat di dalam gandum dengan kadar yang berbeda-beda. (Widodo Asmowiyoto, Dewan Redaksi TuguBandung.id)***

Artikel ini telah dibaca 164 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Ini Medan Bung”, Hati-hati Menyeberang di Jalan Besar

24 Desember 2023 - 08:23 WIB

Al-Mashun, Masjid Megah Segi Delapan Bercorak Maroko, Spanyol, Melayu dan Timur Tengah

18 Desember 2023 - 20:04 WIB

Menapaki Jejak Sejarah “Tjipetir” yang Mendunia

11 November 2023 - 09:09 WIB

Langka dan Mengagumkan, Dua Pohon Karet Kebo Berumur Seabad Lebih di Selabintana Sukabumi

25 Agustus 2023 - 06:27 WIB

Stasiun Gubeng, Menghibur Calon Penumpang dengan Menghadirkan Langsung Awak Band

16 Agustus 2023 - 07:14 WIB

Telaga Ngipik Gresik, Semula Bukit Kapur untuk Bahan Baku Pabrik Semen Indonesia

11 Agustus 2023 - 20:46 WIB

Trending di Feature