KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Darul Hikam Integrated School (DHIS) Primary memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan menghadirkan pendekatan pembelajaran interaktif dan inovatif. Melalui kombinasi permainan edukatif bertajuk “Ladder War”, analisis studi kasus karakter mulia di kelas, serta parade sholawat, lembaga pendidikan internasional berbasis nilai Islam ini berkomitmen menanamkan keteladanan Rasulullah SAW secara mendalam, ceria, dan sesuai tingkat perkembangan siswa.
Kegiatan istimewa yang melibatkan seluruh peserta didik ini diselenggarakan secara serentak di dua lokasi kampus DHIS Primary, yakni Kampus Supratman dan Kampus Katamso. Pembagian zona serta level kegiatan dirancang secara khusus untuk memastikan bahwa setiap kelompok usia mendapatkan pengalaman belajar yang optimal dan menyenangkan.
“Hari ini kami menyelenggarakan kegiatan spesial di tingkat primary sebagai bentuk peringatan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Karena kami memiliki dua kampus, maka seluruh rangkaian acara kami bagi menjadi dua tingkatan utama, yaitu lower level (tingkat bawah) dan upper level (tingkat atas),” ujar Khalida Athaya Divariani, guru yang menemani program ini, saat ditemui di DHIS Primary Kampus Supratman, Kota Bandung, pada Selasa, (25/08/2026).
Bagi siswa tingkat bawah (Lower Level) yang mencakup jenjang Primary 1, 2, dan 3 (P1–P3), kegiatan difokuskan pada pengenalan dasar empat sifat mulia Nabi Muhammad SAW—Siddiq (jujur), Amanah (terpercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathonah (cerdas). Para siswa diajak membuat berbagai karya kerajinan tangan (crafting) yang merepresentasikan keempat nilai luhur tersebut.
Puncak keseruan tingkat bawah diwarnai dengan pelaksanaan parade keliling area sekolah. Dengan didampingi oleh para guru, siswa-siswi berpawai menyusuri lingkungan sekolah sembari mengumandangkan sholawat Nabi secara bersama-sama. Selain menjadi media syiar Islam, kegiatan parade interaktif ini difungsikan sebagai sarana stimulasi fisik untuk mengasah kemampuan motorik anak serta menumbuhkan rasa cinta yang mendalam kepada Nabi Muhammad SAW sejak dini dalam suasana yang penuh kegembiraan.
“Untuk lower level (P1, P2, P3), para siswa membuat karya kerajinan tangan yang berkaitan dengan empat karakter mulia Nabi Muhammad SAW, seperti Siddiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh. Setelah itu, mereka melakukan parade bersama di area sekolah sambil melantunkan sholawat Nabi,” jelas Khalida Athaya Divariani menambahkan.
Sementara itu, bagi siswa tingkat atas (Upper Level) yang meliputi jenjang Primary 4, 5, dan 6 (P4–P6), DHIS Primary menghadirkan dua pilar kegiatan utama yang menantang wawasan religius dan pemikiran kritis mereka, yaitu kompetisi “Ladder War” serta sesi pemecahan masalah bersama Wali Kelas (Home Room Teacher session).
Ladder War merupakan adaptasi dari permainan klasik ular tangga yang dimodifikasi menjadi arena kompetisi antarjenjang. Dalam permainan ini, para siswa harus menjawab berbagai pertanyaan seputar sirah nabawiyah, mulai dari makanan favorit dan kebiasaan hidup sehat Rasulullah, sejarah keluarga Nabi, hingga perjalanan dakwah Beliau untuk dapat melangkah maju di atas papan permainan.
“Di tingkat upper level, kami menyajikan dua kegiatan utama. Pertama adalah ‘Ladder War’, konsepnya mirip permainan ular tangga pada umumnya di mana siswa saling berkompetisi antarjenjang. Materi pertanyaannya mencakup makanan kesukaan Nabi, sejarah keluarga Nabi, serta hal-hal relevan lainnya,” papar Khalida.
Pada sesi kedua, siswa masuk ke dalam kelas masing-masing untuk mengikuti diskusi mendalam bersama wali kelas. Dalam sesi ini, siswa tidak hanya menghafal teori nilai-nilai akhlakul karimah, melainkan diberikan studi kasus nyata berupa permasalahan sehari-hari. Siswa diminta merumuskan solusi konkret berdasarkan empat sifat mulia Nabi, mendiskusikan contoh penerapannya dalam kehidupan modern, dan mempresentasikannya di depan kelas dengan bimbingan wali kelas.
“Sesi kedua adalah kegiatan bersama wali kelas di dalam kelas. Siswa diberikan sebuah studi kasus permasalahan dan diminta memberikan contoh penerapan nilai-nilai mulia Nabi dalam kehidupan sehari-hari, yang kemudian ditutup dengan presentasi kelompok,” tutur Khalida menutup penjelasannya.
Melalui integrasi antara permainan edukatif, aktivitas fisik, dan pembelajaran berbasis pemecahan masalah (problem-based learning), DHIS Primary membuktikan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan Islam modern yang relevan, berdampak, dan menyenangkan bagi generasi muda Muslim.***













Komentar