Menu

Mode Gelap

Diskursus · 21 Agu 2022 07:01 WIB ·

Merayap Hampir 4 Jam di Jembatan Pasupati

 Kepadatan arus pengendara sepeda motor di Jembatan Layang Pasupati, Jumat sore (2082022). (Foto: Widodo A.).* Perbesar

Kepadatan arus pengendara sepeda motor di Jembatan Layang Pasupati, Jumat sore (2082022). (Foto: Widodo A.).*

Oleh Widodo Asmowiyoto*

INI peristiwa langka. Minimal sangat jarang terjadi. Dialami oleh ribuan pengguna Jalan Layang Pasupati (Pasteur-Surapati), Jumat sore-petang 20 Agustus 2022. Pengguna jalan itu baik yang naik kendaraan bermotor (mobil, truk) maupun sepeda motor. Banyak mobil yang isinya berombongan. Demikian juga sepeda motor, pengendaranya orangtua dan anak-anak mereka.

Apanya yang langka atau sangat jarang terjadi itu? Jawabannya, atau ceritanya, paling tidak yang kami alami sendiri, saya dan istri. Berawal dari isi WA dari seorang teman,

Bapak dan Ibu, InsyaAllah hari Jumat tanggal 19 Agustus 2022, akan ada Festival Kuliner Jawa Barat di Plaza Gd Sate-Gasibu.

Ada 77.777 jenis kuliner se Jawa Barat, terbagi dalam 27 stand Kabupaten/Kota GRATIS Untuk dinikmati Masyarakat Jawa Barat mulai Pkl. 13.30 sd 17.00 WIB.

Nanti mampir di Stand No 21, stand Kota Bogor, ada Roti Unyil, Doclang dan Toge Goreng.

Jangan Lupa Ajak Anak, keluarga besar, Teman-teman, besan, sahabat, tetangga… Hari Jumat ke Area Gedung Sate ya Bu ibuuuuu.. Pa Bapaaaa. #jabarjuara #indonesiajuara”.

Boleh jadi, isi Whatsapp yang senada dan dari beragam sumber sudah beredar sejak beberapa hari sebelumnya. Harap maklum, itu berkat era digital, smartphone, telefun pintar. Informasi senada mungkin juga beredar melalui media sosial selain WA. Apalagi bila media massa –media cetak, televisi, radio, online– juga memberitakan sebelumnya.

Bisa dibayangkan betapa besar daya tarik acara Festival Kuliner Jawa Barat itu. Daftar kuliner dan asal daerahnya pun lengkap disertakan dalam infomasi medos dan media massa tersebut. Kota Bandung: seblak, batagor, mie kocok, colenak. Kab. Badung: cireng, lontong kari, misro/combro. Kota Banjar: soto banjar, tangincok. Kota Bekasi: kue ranci, bandeng rorot, dodol khas. Kab. Bekasi: bir pletok, kembang goyang. Kota Bogor: doclang, toge goreng, roti unyil. Kab. Bogor: es pala, soto mie, soto kuning.

Kab. Ciamis: galendo, kecimpring, sale pisang. Kab. Cianjur: asinan/manisan, bubur ayam, geco. Kota Cimahi: denjapi, ke semprong. Kota Cirebon:  sega lengko, nasi jamblang, kerupuk melarat. Kab. Cirebon: empal gentong, tahu gejrot, ketan bumbu. Kota Depok: jus blimbing, perkedel bakar, peyek gale. Kab. Garut: ladu malangbong, dodol, burayot. Kab. Indramayu:  pindang gombyang, kue koci. Kab. Karawang: jojongkong, surabi hijau, opak, ali agrem.

Kab. Kuningan: tape ketan, golono, ketempling, hucap, kwe cang. Kab. Majalengka: oncom goreng, tutut, pencok katel. Kab. Pangandaran: sate galunggung, jambal roti, nasi timbel, goreng malon. Kab. Purwakarta: sate maranggi, simping, semprong. Kab. Subang: bubuy hayam, dodol nanas, keripik nanas. Kota Sukabumi: mochi, leor daging. Kab. Sukabumi: nasi uduk ungu, bolu pisang. Kab. Sumedang: tahu sumedang, soto bongko, ubi cilembu. Kota Tasik: kolontong, wajik ketan. Kab. Tasik: nasi tutug oncom, wajik ketan.

Informasi atau sosiaslisasi program itu layak disebut sukses besar. Apalagi terkait dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Provinsi Jawa Barat dan masih dalam situasi perayaan HUT ke-77 Proklamasi Kemerdekaan RI. Masyarakat berbondong-bondong menuju area Gedung Sate yang bersejarah itu. Mereka sangat tertarik untuk mencicipi begitu beragam menu kuliner khas Jawa Barat. Apalagi dipromosikan –atau tepatnya dijanjikan—secara gratis.

Seseorang terpaksa jalan kaki melewati tembok pembatas di Jembatan Layang Pasupati. (Foto: Widodo A.).*

Kalau yang kami saksikan di Jembatan Layang Pasupati yang kini bernama Jalan Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja itu, plat nomor mobil bukan hanya yang berasal dari Bandung. Banyak mobil yang juga berasal dari luar Bandung. Bagi warga Jakarta yang masuk Bandung saat itu, mungkin niatnya sekalian berakhir pekan di Parisj van Java ini. Sedangkan sepeda motor yang akhirnya juga terlibat kemacetan, banyak di antaranya yang membawa anak-anak kecil. Sangat kasihan mereka, karena beberapa di antaranya tertidur karena mungkin kelelahan.

Gagal mencicipi menu kuliner

Kami sendiri berangkat dari rumah di wilayah Jalan Kopo (Kabupaten Bandung) lebih kurang pukul 13.30. Memilih melalui pintu tol Kopo, akhirnya kami masuk Jembatan Layang Pasupati hampir pukul 14.00. Relatif lancar. Tetapi tiba-tiba arus lalu lintas tersendat. Padat merayap. Maju beberapa meter kemudian terhenti. Demikian terjadi berkali-kali.

Di lain pihak, keadaan jalan dari arah sebaliknya relatif kosong. Mungkin karena sedang berlangsung Festival Kuliner Jabar di area Gedung Sate/Lapang Gasibu. Jadi sangat sulit bagi kendaraan untuk melaju ke Jalan/Jembatan Prof. Dr. Mochtar Kusumaaatmadja.

Semula perasaan masih otpimistis bisa menyaksikan festival kuliner tersebut. Kalaupun tidak bisa menyaksikan upacara pembukaan, paling tidak bisa menyaksikan jalannya festival. Namun akhirnya hingga jadwal penutupan pukul 17.00 kami –dan ribuan kendaraan lainnya—masih tertahan di Jembatan Layang Pasupati.

Bahkan, menjelang azan Magrib kami masih berada di ujungnya, di sekitar Lapang Gasibu yang sangat padat dengan kendaraan bermotor. Jadi kami –dan ribuan orang lainnya—gagal mencicipi menu kuliner yang gratis itu.

Keunikan tampak di sepanjang jembatan layang sepanjang 2,8 kilometer ini. Beberapa orang nekad berjalan kaki di pagar pembatas yang relatif tinggi itu. Bahkan ada sorang ibu yang menggedong anaknya yang sedang tidur. Di median jalan dekat ujung jalan layang, mendekati Lapang Gasibu, beberapa pengendara sepeda motor –terutama anak-anak muda– balik kanan dengan lebih dulu nekad mengangkat sepeda motornya.

Beberapa pengendara sepeda motor balik kanan dengan nekad melangkahi median jalan di Jembatan Layang Pasupati. (Foto: Widodo A.).*

Selepas Jalan Layang Pasupati, terjadi kemacetan di mana-mana. Minimal di jalan-jalan yang mempunyai akses ke Jalan Diponegoro di depan Gedung Sate. Dibanding problem akut situasi kemacetan atau kepadatan arus lalu lintas petang dan malam itu, tampaknya jumlah polisi lalu lintas yang bertugas tidak memadai. Tidak seimbang dengan besar dan begitu bergaungnya acara Festival Kuliner Jabar itu.

Sebagai lansia (lanjut usia), petang itu kami punya problem berat menahan air kencing. Di Jalan Layang Pasupati kami tidak mungkin turun dari mobil untuk buang air kecil. Pada akhirnya kami menepi di Jalan Suci dan memberanikan diri masuk area sebuah instansi. Tujuannya untuk ikut ke toilet. Dalam tempo yang singkat itu, kami mendapat keterangan betapa para karyawan kantor pemerintah tersebut juga merasa kesulitan untuk pulang. Artinya acara besar Festival Kuliner Jawa Barat itu punya dampak beruntun. Mungkin juga karena pandemi Covid-19 sudah menurun, sehingga banyak orang ingin keluar rumah.

Acara sangat besar yang terpusat itu, mengingatkan saya pada kebijakan Pemerintah Kota Bandung beberapa tahun silam. Dalam rangka merayakan HUT Proklamasi Kemerdekaan, justru diberlakukan kebijakan “desentralisasi” dalam penyelenggaan acara kemeriahaannya. Bukan dipaksakan harus hanya di Balai Kota, melainkan setiap kecamatan diberi kesempatan untuk mengadakan sendiri acara hiburan yang mengundang kehadiran rakyat banyak. Dengan demikian tidak terjadi kepadatan arus lalu lintas di tengah kota.

Mungkin, ke depan, kebijakan yang menunjukkan “kearifan” itu bisa diberlakuan kembali. Dalam situasi jumlah penduduk yang semakin padat dan arus lalu lintas semakin ruwet, layak diberlakukan “desentralisasi” termasuk untuk memperingati dan memeriahkan HUT Pemda atau HUT Proklamasi Kemederakaan RI. ***

*Penulis Dewan Redaksi TuguBandung.id

Artikel ini telah dibaca 265 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Debat di KPK (17)

31 Maret 2024 - 06:11 WIB

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Panggilan dari KPK (16)

31 Maret 2024 - 05:51 WIB

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Laporan Pengemar (15)

29 Maret 2024 - 04:39 WIB

PERLUKAH TEMPO MEMINTA MAAF?

26 Maret 2024 - 21:14 WIB

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Bukti Menohok (14)

26 Maret 2024 - 15:34 WIB

Novelet Religi “Sang Tokoh”: Tas Hermes dan Paket Misterius (13)

25 Maret 2024 - 21:04 WIB

Trending di Feature