Menu

Mode Gelap

Berita · 17 Jun 2022 17:27 WIB ·

Digitalisasi Siaran Televisi Mendorong Demokratisasi Penyiaran

 FOTO: COMMUNICATIONTHEORY.ORG Perbesar

FOTO: COMMUNICATIONTHEORY.ORG

JAKARTA (TUGUBANDUNG.ID) – Pemerintah RI melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo RI) tengah menggencarkan sosialisasi program peralihan TV analog atau Analog Switch Off (ASO) ke TV digital. Program migrasi TV Analog ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2021 tentang Pos, Telekomunikasi dan Penyiaran. Migrasi TV ini dilakukan secara bertahap dan ditargetkan akan selesai selambat-lambatnya pada 2 November 2022 mendatang.

Di sisi lain, dikutip dari situs resmi DPR RI oleh Tugubandung.id, Jumat 17 Juni 2022, parlemen juga DPR RI mendukung penuh upaya agar masyarakat segera bermigrasi ke siaran TV digital. Menurut DPR,  banyak manfaat langsung maupun tidak langsung yang didapatkan masyarakat dan negara dengan adanya migrasi tersebut.

Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid mengatakan migrasi ke siaran TV digital membuat masyarakat Indonesia semakin kreatif terhadap konten digital. “Satu hal penting, migrasi dari siaran tv analog ke digital semakin menegaskan upaya diversity of ownership atau kepemilikan saluran TV digital akan semakin beragam. Pasti nanti akan ada pemain baru di industri pertelevisian dapat lebih mudah masuk,” ungkap Meutya yang sebelumnya aktif di dunia penyiaran televisi.

Ia menegaskan demokratisasi di bidang penyiaran akan menjadi lebih baik. “Siaran TV digital juga akan mendorong keragaman konten. Dengan demikian ada beragam informasi, lebih kaya pemikirannya karena banyak konten siaran yang diharapkan,” kata Meutya.

Peluang baru

Sementara itu, program Analog Switch Off (ASO) yang saat ini dicanangkan pemerintah dan diharuskan tuntas pada November 2022 ini sesuai amanat Undang Undang Cipta Kerja, membuka banyak peluang lapangan kerja baru. Salah satu bidang yang paling dibutuhkan adalah profesi kreator konten yang nantinya akan menjadi bagian dari industri TV digital.

Hal tersebut mencuat pada Diskusi Kelompok Terpumpun (Focus Group Discussion) “Sosialisasi Program Analog Switch Off (ASO) 2022: Migrasi TV Analog ke Siaran Digital” kerjasama Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Pasundan dan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat di Aula Kampus FISIP Unpas Jalan Lengkong Besar Kota Bandung, beberapa waktu lalu.

Anggota KPID Jabar Roni Tabroni mengungkapkan ada sisi positif dan negatif dari hadirnya digitalisasi. Akan tetapi, jauh lebih banyak manfaat alih-alih mudarat di baliknya. “Misalnya saja dari sisi lapangan pekerjaan. Memang, ada yang terdisrupsi tapi juga banyak akan hadir peluang-peluang baru dalam berbagai sektor. Potensi ini sejatinya bisa membantu dalam mengurangi pengangguran. Sebab, akan ada profesi baru yang bisa dijalani warga Jawa Barat ke depan,” kata Roni menguraikan.

Ia mengutip data yang pernah disampaikan dari hasil riset bahwa terdapat potensi  240.000 lapangan kerja baru saat transformasi televisi analog ke siaran digital Indonesia. “Bidang yang paling banyak yang dibutuhkan adalah profesi kreator konten atau content creator yang nantinya akan menjadi bagian dari industri TV digital. “Dengan transformasi digital akan lahir profesi-profesi baru yang diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru. Hal ini tentu akan bisa mengkompensasi disrupsi yang terjadi pada beberapa sektor lainnya,” ucapnya. ***

Artikel ini telah dibaca 36 kali

Baca Lainnya

Puting Beliung Terjang Jatinangor Sumedang, BPBD Langsung Lakukan Asesmen

21 Februari 2024 - 19:53 WIB

Revitalisasi Bahasa Daerah, Tingkatkan Antusiasme Masyarakat Menggunakan Bahasa Ibu.

21 Februari 2024 - 19:19 WIB

AMSI Harapkan Perpres Publishers Rights Dorong Ekosistem Bisnis Media Jadi Lebih Baik

21 Februari 2024 - 18:00 WIB

Cek cok dengan Istri, Pelaku Bacok Adik Ipar Karena Tidak Mau Membantu Meredam Pertengkaran Rumah Tangga

21 Februari 2024 - 16:19 WIB

Kembali, Belum Sepekan Ribuan Botol Miras Ditemukan Di Sebuah Kios Di Kawasan Guntur Garut

21 Februari 2024 - 15:59 WIB

Harga Beras Di Sejumlah Pasar Tradisional Mahal Di Beberapa Swalayan Stok Tidak Ada

21 Februari 2024 - 15:16 WIB

Trending di Berita