KABUPATEN BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Di tengah sejuknya perbukitan Kabupaten Bandung, sebanyak 77 siswa kelas 8 SMP Darul Hikam tengah menjalani transformasi karakter yang mendalam melalui program “Patriot High Five 2026”. Sejak tanggal 8 hingga 10 April 2026, para siswa ini meninggalkan kenyamanan bangku sekolah untuk menetap langsung di rumah-rumah penduduk di Kampung Ciharegeum, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan.
Agenda tahunan ini bukan sekadar kunjungan edukasi biasa, melainkan sebuah misi pengabdian di mana para siswa melebur dengan aktivitas harian warga, mulai dari mencangkul di ladang, merawat tanaman di kebun, hingga membersihkan area pertanian desa.
Ketua Panitia Patriot High Five 2026, Budy Sumaryanto, mengungkapkan bahwa interaksi fisik melalui kerja keras di lapangan menjadi kunci utama dalam membangun ikatan emosional antara siswa dan masyarakat lokal. Partisipasi aktif dalam kegiatan berkebun dan membersihkan ladang diharapkan mampu mengikis kecanggungan dan menumbuhkan rasa empati yang nyata.
“Hari ini pun pagi-pagi mereka ada yang sudah berkegiatan dengan warganya. Ada yang diajak berkebun, membersihkan ladang. Nah, itu membentuk dari bonding mereka dengan pemilik rumah,” ujar Budy Sumaryanto saat ditemui dilokasi kegiatan, pada Kamis, (09/04/2026).
Program ini dijalankan melalui lima pilar pengabdian yang disebut “Five”, yakni Patriot Mengaji, Mendidik, Mengedukasi, Peduli, dan Mengajar. Selain membantu di ladang, para siswa juga mengemban tanggung jawab sosial melalui penyelenggaraan bazar barang berkualitas, pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga, hingga memberikan edukasi sains dan agama bagi anak-anak madrasah di Kampung Ciharegeum.
Meskipun di awal kegiatan banyak siswa yang merasa canggung karena harus beradaptasi dengan lingkungan yang sangat berbeda, semangat pengabdian perlahan mulai mencairkan suasana.
“Anak-anak di awal mungkin agak kebingungan ya, namanya juga mereka harus hidup di tempat yang berbeda dengan sehari-hari. Mereka harus tinggal di rumah warga. Setengah hari awal mereka mungkin ada canggung, tapi ke sini-sini alhamdulillah mereka mulai cair dengan warga,” jelas Budy mengenai dinamika adaptasi siswanya.
Semangat kebersamaan tetap menjadi fondasi utama dalam kegiatan ini, selaras dengan tagline “One for All, All for One”. Melalui pilar-pilar pengabdian tersebut, sekolah ingin memastikan bahwa perbedaan latar belakang kampus tidak menjadi penghalang bagi para siswa untuk bersatu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Pengalaman hidup sederhana di desa menjadi medium bagi para siswa untuk saling menginspirasi dan menguatkan kapasitas diri mereka sebagai agen perubahan sosial.
“Walaupun berbeda tempat atau walaupun berbeda kampus, mereka tetap satu Darul Hikam. Dan juga mereka agar memberikan dampak satu sama lain, baik itu dampak untuk diri mereka sendiri maupun dampak terhadap lingkungan,” tutur Budy menekankan nilai persatuan dalam keberagaman.
Harapan besar digantungkan pada berakhirnya masa pengabdian ini agar para siswa membawa pulang nilai-nilai kesantunan dan kepedulian yang telah mereka praktikkan bersama warga Cimenyan. Budy berharap pengalaman selama tiga hari dua malam ini menjadi bekal berharga yang tercermin dalam perilaku sehari-hari siswa saat kembali ke sekolah dan rumah masing-masing. Kesopanan dan tata krama yang dipelajari dari kearifan lokal warga desa diharapkan menjadi identitas baru bagi para patriot muda tersebut.
“Semoga apa-apa yang kita harapkan dari program ini bisa memberikan makna buat Patriot kelas 8 dan memberikan dampak yang positif, ada sopan santun yang sudah dijalani mereka di Kampung Ciharegeum ini,” pungkasnya menutup sesi wawancara.***












Komentar