32 Industri Ramaikan TTIBT 2026, Ajang Bulutangkis Satukan Pelaku Tekstil Nasional

KOTA BANDUNG (TUGUBANDUNG.ID) – Turnamen bulutangkis antarpelaku industri tekstil bertajuk The Textile Industry Badminton Tournament (TTIBT) kembali digelar. Memasuki penyelenggaraan tahun kedua pada 2026, antusiasme peserta justru meningkat tajam hingga melebihi kapasitas yang disiapkan panitia.

Kegiatan yang digagas Ikatan Alumni ITT/STTT/Politeknik STTT Bandung tersebut kini tak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga ruang berkumpul para pelaku industri tekstil dari berbagai daerah di Indonesia. Tingginya minat peserta menjadi sinyal bahwa sektor tekstil masih memiliki semangat untuk terus bergerak di tengah berbagai tantangan yang dihadapi industri.

“Tahun lalu pesertanya sekitar 29 industri. Tahun ini kami membuka kuota untuk 32 industri, ternyata over. Bahkan ada sekitar tujuh industri yang terpaksa kami tolak karena kuotanya sudah penuh,” ujar Ketua Pelaksana TTIBT 2026, Okta Sakti Eka Kusumawan, Senin (20/7/2026).

Menurut Okta, hampir seluruh perusahaan yang mengikuti turnamen pada 2025 kembali mendaftarkan timnya tahun ini. Hal tersebut menunjukkan penyelenggaraan perdana mendapat respons positif dari pelaku industri.

Kegiatan tahun ini diikuti industri tekstil dari berbagai daerah seperti Bandung, Solo, Pekalongan, Serang, Tangerang, dan beberapa daerah lainya. Sebanyak 32 perusahaan masing-masing mengirimkan delapan pemain dan dua ofisial sehingga total peserta mencapai sekitar 320 orang. Selama hari pertama penyelenggaraan, jumlah orang yang hadir diperkirakan mencapai sekitar 700 orang.

Okta mengatakan peningkatan jumlah peserta tersebut menunjukkan bahwa turnamen ini mulai menjadi agenda yang dinantikan pelaku industri tekstil.

“Kalau dilihat, peserta yang ikut tahun lalu ternyata kembali mendaftar tahun ini. Artinya mereka merasa puas terhadap penyelenggaraan event ini,” ujarnya.

Ketua Ikatan Alumni ITT/STTT, Riady Madyaditana, mengatakan meningkatnya jumlah peserta juga tak lepas dari peran alumni yang tersebar di berbagai perusahaan tekstil. Mereka menjadi penghubung untuk mengajak perusahaan ikut berpartisipasi dalam turnamen tersebut.

“Sebaran alumni kita cukup banyak di perusahaan tekstil. Mereka ikut membantu menyosialisasikan kegiatan ini sekaligus mengajak perusahaan masing-masing untuk ikut berpartisipasi. Akhirnya turnamen ini menjadi kegiatan berskala nasional,” katanya.

Riady menilai, besarnya antusiasme tersebut juga menjadi bukti bahwa pelaku industri membutuhkan ruang untuk bertemu di luar aktivitas bisnis sehari-hari. Di tengah kondisi industri yang sedang menghadapi tekanan, kegiatan seperti ini dinilai mampu mengurangi kejenuhan sekaligus membangun optimisme baru.

“Setidaknya kegiatan ini mampu mencairkan tekanan yang dirasakan dalam aktivitas industri tekstil. Paling tidak secara psikologis bisa membangkitkan kembali semangat untuk terus bekerja sama dan berjuang,” katanya.

Melihat besarnya minat peserta, panitia berencana menambah kuota menjadi 48 industri pada penyelenggaraan tahun depan. Langkah tersebut diharapkan mampu mengakomodasi perusahaan yang belum sempat ikut pada tahun ini.

Selain tingginya partisipasi peserta, penyelenggaraan TTIBT 2026 juga didukung sekitar 30 sponsor. Okta menyebut dukungan sponsor menjadi faktor penting karena biaya pendaftaran peserta belum mampu menutupi seluruh kebutuhan penyelenggaraan.

“Kalau hanya mengandalkan biaya pendaftaran, kegiatan ini tidak akan bisa terlaksana. Alhamdulillah ada sekitar 30 sponsor yang mendukung, dengan Anindia sebagai sponsor utama,” katanya.

Lebih jauh, Riady berharap antusiasme tersebut juga dapat membuka mata pemerintah maupun sektor perbankan bahwa industri tekstil belum kehilangan daya hidup.

“Selama ini industri tekstil sering dipandang sebagai industri yang sedang sunset, sehingga dukungan pembiayaan tidak mudah. Padahal kami ingin menunjukkan bahwa industri ini masih hidup, masih bergerak, dan masih punya semangat untuk berkembang,” ujarnya.

Dia berharap perhatian pemerintah terhadap industri tekstil terus ditingkatkan. Menurutnya, semangat yang ditunjukkan ratusan pelaku industri melalui turnamen tersebut perlu dijawab dengan kebijakan yang mendukung keberlangsungan industri padat karya tersebut.

“Jangan pernah mengabaikan industri tekstil, karena ini merupakan industri padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar,” ucapnya.

Dalam kegiatan TTIBT tahun ini, PT Primatexco berhasil keluar sebagai juara. Juara kedua ditempati PT Trisulatex dan tempat ketiga didapat PT Sheba Indah, sementara suporter terbaik jatuh kepada PT Kahatex.***

Komentar